FOKUS: #VAKSIN COVID-19

Cerita Septi, Guru Honor yang Ngajar di Pedalaman Kalbar

KBRN, Pontianak : Menjadi guru honor di daerah pedalaman Kalbar adalah tantangan tersendiri bagi Septi Nuri Pratami. Keterbatasan akses transfortasi, sarana prasarana serta infrasturktur pendidikan adalah kendala yang dihadapi Septi. 

"Lokasinya termasuk pedalaman. Tidak ada jaringan listrik, apalagi internet," katanya Rabu (21/04/2021). 

Namun dengan tekad dan niat yang kuat, Septi bersama rekan-rekannya terus mengabdikan diri memberikan pendidikan kepada anak muridnya di SD Negeri 08 Cingka, Dusun Cingka Desa Tanjung Bunut Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau.

“Yang membuat perjuangan kita terasa, apalagi di musim pandemi, adalah menyamaratakan penggunaan tekhnologi informasi yang harus serba online, anak juga diberi tugas dan lainnya, ini yang membuat terasa sekali perjuangan kita, supaya tujuan pendidikan tercapai,” ujarnya. 

“Di daerah pedalaman ini beda tentu dengan daerah perkotaan. Kalau di perkotaan, anak-anak kan biasa dibekali orang tuanya dengan les dan sebagainya, nah kalau di pedalaman ini, orang tua itu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah,” timpal Septi yang telah tujuh tahun lebih mengajar di sekolah tersebut. 

Septi mengakui, jika awalnya tertarik menjadi guru honor di sekolah pedalaman itu karena pengalaman orang tuanya yang juga memiliki latar belakang profesi sebagai guru. Kala itu, Septi heran karena ada murid dari orang tuanya, yang sudah berusia belasan tahun tetapi tidak bisa membaca.

“Saya merasa aneh ada anak yang belum bisa membaca. Kelas satu kadang dua tahun kelas dua juga dua tahun. Padahal mereka memiliki semangat untuk belajar yang kuat. Nah, beberapa tahun belakangan ini kita ajak anak-anak dari kampung di situ, untuk perlombaan, meminjam kreatifitas mereka dan ternyata berhasil. Anak didik kami dari daerah pedalaman itu, bisa juga bersaing di tingkat kecamatan sampai kabupaten,” jelas Septi yang juga Ketua KOHATI Kalbar itu. 

Saat pandemi Covid-19, tantangan untuk Septi kembali menguat. Sebagai satu diantara pengajar di sekolah pedalaman, dirinya tidak akan mungkin untuk meninggalkan kewajiban. Sehingga, dengan berbagai upaya, Septi dan lima orang rekannya pun bergantian untuk mengajar anak murid dengan cara mendatangi mereka langsung ke rumahnya.

“Kita dibagi tugas piket dengan guru lain. Minimal satu atau dua orang itu kita temui. Karena saat awal pandemi, kita bagikan soal untuk dikerjakan di rumah, hasilnya tidak maksimal. Jadi kami, harus bertemu dengan siswa, minimal untuk kelas bawah mereka bisa membaca, menulis dan berhitung,” tutupnya. 

Dengan pola belajar sepekan tiga hari, anak-anak di SD Negeri 08 Cingka akhirnya bisa juga meneerima pembelajaran yang baik. Sehingga, saat ini 31 siswa di sekolah tersebut sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00