Para Wisudawan Hafidz Harus Jaga Hafalan Al Qur’an

KBRN, Pontianak: Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Provinsi Kalimantan Barat mewisuda 58 Hafidz dan Hafidzah atau Penghafal Al Quran 30 Juz yang merupakan bagian dari program Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji untuk melahirkan sebanyak 5.000 Hafidz dalam kurun waktu lima tahun.

Ditemui usai kegiatan di wisuda 30 Juz di Aula Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kalimantan Barat Brigjen Pol (Purn) Andi Musa mengungkapkan, tantangan terberat baik Hafidz maupun Hafidzah adalah bagaimana mereka mempertahankan kualitas hafalan Al Qur’an yang mereka dapati pasca menyandang gelar Wisudawan.

“Tentunya untuk menjaga hafalan agar benar-benar terjaga hingga sampai Mutqin atau kuat hafalanya memang sangat sulit. Maka dari itu, para Hafidz dan Hafidzah  Al Qur’an ini diharapkan dapat mengulang hafalan mereka agar tidak hilang. Selain itu, mereka juga didorong untuk memotivasi rekan-rekannya di pondok untuk mengikuti jejak mereka menjadi penghafal Al Qur’an,”ujarnya Senin (12/04/2021).

Andi Musa menambahkan, setelah menyandang gelar wisudawan penghafal Al Qur’an, para lulusan juga memiliki kesempatan untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bagi yang berstatus pelajar SMA. Apalagi, pemerintah sudah  memberikan ruang melalui kerjasama dengan pihak Perguruan Tinggi untuk menampung para lulusan Penghafal Al Qur’an ini.

“Pemerintah daerah sudah sudah memfasilitasi dengan melaksanakan kerjasama MoU dengan pimpinan PT agar dapat menampung mereka selama memenuhi syarat. Ada tiga cara masuk perguruan tinggi antara lain melalui jalur prestasi, seleksi normal dan seleksi mandiri, kita harapkan mereka masuk di jalur seleksi mandiri,”imbuhnya.

Sementara itu, Salah seorang Wisudawan Hafidz dari Yayasan Pendidikan Qur’an Keluarga Kita Diaz Ataya Larsen Wijaya mengutarakan, kesan setelah menyandang gelar wisudawan Penghafal Al Qur’an Tahap 1. Dimana, perjuangan untuk menjadi penghafal Al Qur’an memiliki tantangan cukup berat hingga dirinya tidak sempat tidur hanya mengejar hafalan Al Qur’an.

“Bahkan, sehari ada tidak tidur, hanya untuk mengejar hafalan Al Qur’an. Saya juga berterima kasih kepada Pak Sutarmidji, karena program ini sangat mendukung sekali di Pontianak,”paparnya.

Diaz yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Jurusan Ilmu Al Qur’an dan Tafsir menambahkan, meski sudah berhasil menuntaskan program hafalan Al Qur’an, namun menurutnya perjuangan tidak berhenti sampai disini. Dirinya bertekad untuk mengulang kembali hafalan juz per juz hingga akhirnya sampai pada hafalan akhir 30 Juz.

“Selesai program ini belum ada kata merdeka, jadi sudah merdeka itu kalau sudah mati. Setelah ini saya akan memutqinkan hafalan agar lebih sempurna lagi sampai 30 Juz,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00