Resensi 'Merawat Pesan Peradaban: Novel Inspiratif Bung Muda'

KBRN, Kubu Raya : Ketertarikan untuk melumat habis buku “Merawat Pesan Peradaban: Novel Isnpiratif Bung Muda” (Bupati Kubu Raya priode pertama (2009-2014) dan priode ketiga 2019-2024) diawali dari gaya penulisan yang mengingatkan atau membawa sebagian kita ke dua puluh tahun yang lalu, ketika seorang Dosen Fisipol UGM, Miftah Thoha, meformulasi kata demi kata dalam buku cetakan ke dua Tahun 2002 “Perspektif Perilaku Demokrasi: Dimensi - dimensi Prima Ilmu Admnistrasi Negara Jilid II”. Gaya bahasanya ringan namun membuai dan pembaca seperti sebagai pemenang casting dan terpilih untuk menjiwai dan memerankan kisah dan alur cerita. Si Pay Jarot Sujarwo dan si Miftah Thoha sama-sama memainkan alunan imajiner, sehingga pembaca menjadi sang pengingat yang kuat. Rugi dan boleh jadi ada penyesalan apabila melewatkan membaca “Merawat Peradaban: Novel Inspiratif Bung Muda” tersebut.

Namun, ada ketertarikan yang lebih yang tidak sekedar berbicara gaya penulisan. Ada sesuatu yang menurut Ocha (Rosalina-red) yang tesirat dari yang tersurat. Ada value yang bisa digali, bisa dielaborasi, dan dicuatkan ke permukaan yang bisa dijadikan rujukan, panutan, dan inspirasi. Ada nIlai-nilai peradaban yang merupakan nilai sebagai sebuah cara hidup bermasyarakat agar sampai pada pencapaian bermartabat.

Apabila kita simak dialog, terujar maupun tidak terujar, di akhir episode 1 (Ayah Ingin ke Makam). Betapa menggambarkan peradaban bahwa sebelum berdemokrasi ke tataran yang lebih luas, Bung Muda sudah menanamkan demokrasi di tengah-tengah keluarga, meskipun para buah hati belum tentu menyadarinya. Demokrasi diberikan ruang, semua mempunyai hak mengeluarkan pendapatnya, mengeluarkan aspirasinya, mengeluarkan apa yang seharusnya diungkapkan tanpa di bawah atau bayang-bayang tekanan. Demokrasi adalah pilihan setelah mempertimbangkan serta menghargai pendapat dan perspektif pihak-pihak yang lain.

Pada episode 2 (Senandung Lelo Ledung). Lelo Ledung adalah kidung yang mengantarkan ke peraduan malam, mengantarkan kepasrahan kepada Sang Khaliq. Terbentang episode sebelum sampai kepada pasrah pada Yang Maha Kuasa. Romantisme….Ya…Romantisme. perasaan, pikiran, dan tindakan mengalirkan imajinasi, emosi, dan sentimential. Pendek kata rasa cinta. Namun, yang terpenting adalah energi romantisme…energi cinta…..energi yang luar biasa sebagai modal kekuatan dalam suka dan duka mengiringi perjuangan, mengiringi keinginan pencapaian yang mulia, dan menyemangati dalam situasi apapun.

Hidup adalah pilihan. Pilihan mencari dan menempatkan diri pada keseimbangan. Keseimbangan antara cinta keluarga dengan cinta mengabdi pda bangsa dan Negara. Peradaban keseimbangan terpentaskan dalam episode Pamit (episode 3).

Dalam episode 4, episode Tampan Seperti Dewa. Sang Tampan (Nyoma Oka-red) mewariskan sebuah peradaban bahwa mencapai tujuan perlu perjuangan, meskipun kadang kala perjuangan tersebut membutuhkan pengorbanan yang mulia. Ya…si Tampan mengobankan usia mudanya demi Negara. Si Ayu (Sugiharti-red) mengorbankan kebahagian diri-sendiri agar dapat melewati hari-hari membesarkan buah hatinya yang masih bayi kala ditinggal sang Tampan.

Masjid Syuhada, di episode 5 ini Bang Muda menanamkan nilai-nilai pada generasi-generasinya (anak-anaknya-red). Menjadi Negarawan ataupun pemimpin adalah proses, bukan sesuatu yang instan. Oleh karena itu, mempersiapkan generasi penerus yang mumpuni sebagai Negarawan ataupun pemimpin perlu dibekali religius dan nasionalime, meskipun diawali dengan simbol-simbol yang nantinya berproses dalam pergolakan pikiran dan akhirnya menjadi formulasi nilai-nilai. Bung Muda saat itu sudah menyadari bahwa harus bersemayam kuat religius dan nasionalisme, sebelum alam pikirannya “bermain-main” dengan apa yang disampaikan Keith Davis (Human Behavior at Work, 1972), yakni intellence (intelegensi), social maturity and breadth (kematangan dan keluasan pandangan sosial), inner motivation and achievement drives (motivasi dan keinginan berprestasi dalam diri sendiri), dan human relation attitudes (sikap berhubungan manusia).

Episode 6, episode Di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Sebuah peradaban merasuk dalam alam sadar Hendy (Bung Muda Kecil-red), meskipun terkesan hanya sebuah petuah namun nilai ini telah membentuk pribadinya. Jiwa nasionalisme dan patrioisme, sebagaimana terungkap pada petuah Mbak Oka (Sugiharti-red) ”Hendy, kakekmu sangat mencintai bangsa ini. Matipun akan ia hadapi. Dan ia benar-benar mati untuk bangsa ini. Mbah berharap, kamu, juga saudara-saudaramu, keturunan I Dewa Nyoman Oka, memiliki keberanian dan kecintaan yang sama seperti kakekmu mencintai negaranya”.

Sosok manusia yang mulia adalah manusia yang selain berjiwa nasionalis dan patriotis, juga harus mempunyai karakter dan kepribadian sebagai penyemangat keluarga. Perjuangan tidak pernah berhenti, Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan kesungguhan hakekatnya juga perjuangan. Pitutur Mbah Oka mendesirkan darah dan tekad si Hendy untuk berjuangan dengan penuh semangat mengisi kemerdekaan. Berjuang mengisi kemerdekaan adalah berjuang membahagiakan banyak orang, membahagiakan anak-anak bangsa (#untukindonesia), dan membahagiakan manusia makhluk Tuhan (#bahagia). Demikian perdaban yang tersirat dalam episode 7, episode Dongeng tentang Kakek.

Episode Kekahiran, episode ke-8, memberikan pesan peradaban bahwa tiada kata henti bagi perjuangan. Selama ada nafas kehidupan selama itu pula ada perjuangan, karena hidup dengan sesama berarti memperjuangkan nasib sesama. Dan, cinta adalah jalan berharga mewujudkan perjuangan tersebut.

Episode ke-9, episode Pertemuan, pertemuan darah pejuang dengan darah pejuang melahirkan darah kejuangan, darah yang mendenyutkan nadi Marhaenis, mendenyutkan Soekarnois, serta mendenyutkan nadi cipta, rasa, dan karsa “memanusiakan manusia”. Darah kejuangan yang mendesirkan nadi peradaban.

Catatan Harian Wati, sebagai episode ke-10, episode peradaban penantian. Penantian adalah sebuah masa yang menjadi media menguji kesabaran, karena semua perlu proses bukan instan, Namun, proses juga membutuhkan hasil yang pasti (kepastian).

Nuansa warna perjalanan hidup dan kehidupan sesorang tidak jarang terinspirasi tutur kata, sikap, perilaku, tindakan, dan kefalsafahan seseorang. Meskipun sering kali faktor hereditas atau keturunan juga sangat mewarnainya. Terlepas dari perdebatan tersebut, yang jelas kedua faktor tersebut melekat pada si Hendy. Hendy sangat mengagumi Soekarno, boleh dikata Soekarnoisme. Namun, dalam darahnya mengalir darah I Dewa Nyoman Oka Sang Pahlawan Bangsa (kakek) , Kimas Akil Sang Pemberani , Sang Pelopor, dan Sang Pengobar, serta Mahmud Akil Sang Maraenis Sejati. Dengan kata lain, nilai peradaban yang terawat dalam episode 11, episode Percakapan Dua Orang Akil, bahwa orang besar selalu melalui proses belajar menjadi orang besar, bisa belajar dari inspirator-inspirator. Dan, itu tidak jarang memerlukan dukungan dan pengorbanan orang terdekat, tetapi semangat dalam diri harus tetap dikobarkan.

Dalam episode 12, episode Mengutarakan Niat, terbersit nilai peradaban berupa niat dan bergerak, Ya…..niat…Sepahit apapun resikonya, niat harus diutarakan. Mengutarakan berarti mengekspresikan ke-gentle-an. Bergerak….Niat akan bermakna hampa tanpa ada pergerakan untuk mewujudkan niat tersebut. Setiap pergerakan hidup selalu mengandung resiko. Bergerak adalah pilihan mengambil resiko. Perjuangan adalah resiko, jangan menjadi pejuang kalau tidak berani megambil resiko. Yang pasti perjuangan adalah nilai yang mulia. Hampir pasti darah siapapun akan berdesir manakala mendengar kata perjuangan.

Nama besar keluarga adalah beban, beban moral, karena apa yang dilakukan anggota keluarga selalu dikaitkan dengan nama besar tersebut. Namun, nama besar keluarga adalah penyemangat untuk menjaga kehormatan. Suatu kewajaran apabila titik toleransinya adalah menempuh dengan jalan kesederhanaan sebagai pilihan. Sugiharti atau Mbah Oka mengambil pilihan ini. Dan, hidup juga diwarnai kegundahan. Bercengkerama dengan kegundahan bukan pilihan arif. Pilihan arif adalah bersimpuh dan mengkomunikasikan dengan Allah sebagai tempat mengadu, sembari mengupayakan ikhtiar. Nilai peradaban ini akan didapatkan pada episode ke-13, episode Surat Pertama. 

Juga, sebagai pilihan yang arif apabila kegundahan ataupun uneg-uneg dikomunikasikan dengan pihak yang terkait. Guna menjawab kekhawatiran, kecemasan, dan kepastian serta menghindari salah pengertian, persepsi, dan penafsiran. Komunikasi, melalui “Surat Ke dua” mengantarkan pada kesamaan pandang atau kesepakatan. Nilai peradaban yang tercermin dalam episode ke-14.

Episode ke-15, episode Arungi Bahtera, menanamkan nilai-nilai peradaban bahwa lelaki sejati, sekalipun sudah bekeluarga, adalah yang tetap berjuang untuk negeri dan tidak pernah berhenti. Tidak hanya menjaga martabat keluarga, tapi juga martabat negeri. Bersikap kritis untuk perubahan yang lebih baik adalah termasuk perjuangan dan itu hanya mungkin apabila berbekal pendidikan. Oleh karena itu, setiap orang harus punya kesempatan mengenyam pendidikan setingi-tingginya.

Keperkasaan lelaki yang sudah bersuami di luar lingkungan keluarga sangat tergantung kebijakan (wisdom) seorang istri, yaitu sangat memahami dan mendukung apa yang dilakukan dan diperjuangkan suami untuk kemaslahatan. Namun, perlu kesadaran sang pejuang bahwa mempunyai karakter sebagai seorang yang tegas, kerja keras, kedisiplinan, dan keramahan, selain berbekal pendidikan. Peradaban tersebut yang perlu diwariskan pada anak-anak bangsa sebagaimana tersirat dalam episode ke-16 (episode Rujak di Malam Kemerdekaan).

Menanamkan wawasan kejuangan, kebudayaan, dan lingkungan adalah modal yang sangat berharga bagi seorang pemimpin. Selain itu, juga modal yang sangat berharga adalah memiliki pengetahuan (perspektif), pemahaman humanitis, relasi sosial, melindungi diri secara mandiri, dan terutama memahami ketuhanan. Peradaban yang tergali dalam episode ke-17 (Sewaktu Kecil Dia Dipanggil Hendy) dan episode ke-18 (episode Sekolah Islamiyah).

Suatu nilai peradaban yang perlu juga dirawat, akan didapatkan apabila menyimak episode ke-19 (episode Silat, Karate Dan Salman). Nilai bahwa persaingan adalah tidak bisa dihindari, karena setiap pribadi mempunyai perbedaan, niat, potensi, dan perspektif. Namun, dinamika akan terasa indah apabila dijiwai sportivitas yang tinggi, persaingan fairplay. Selain itu, adanya nilai bahwa akan hadir suatu hal yang tidak pernah disangka sebelumnya, tidak terbesit dalam fikiran sebelumya, tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, justru menjadi jawaban atas ketidakpastian atau solusi dan mulia karena sebagai pengorbanan untuk kepentingan banyak orang.

Karya seni budaya merupakan salah satu media yang efektif dalam menanamkan dan menumbuhkan jiwa nasionalisme. Nasionalisme harus menjadi kebanggaan setiap anak bangsa. Bahkan akan semakin menguat apabila peristiwa-peristiwa nasionalime berkaitan dengan anak-anak bangsa yang ada ikatan emosional ataupun pertalian darah. Nilai peradaban nasionalisme tergali dalam episode Ada Kakek di Bioskop, episode ke-20.

Nilai perdaban yang unik akan didapatkan apabila mengikuti alur-alur dialog pada episode ke-21 (episode Insiden Perkenalan). Bahwa peristiwa secara kebetulan dan terkesan tidak menyenangkan di awalnya, justru menjadi titik awal atas peristiwa-peristiwa kebaikan dan keindahan di hari-hari kemudian. Bahkan, menjadi titik awal tumbuhnya benih-benih cinta, benih-benih kerinduan, yang tidak disadari saat itu. 

Kenakalan di masa transisi atau remaja adalah ekspresi dari proses mencari jati diri. Ekespresi yang polos, ekspresi yang jauh dari perhitungan resiko-resiko yang akan terjadi. Ekspresi polos tanpa rujukan panutan. Namun, seiring dengan perkembangan diri akan terbentuk karakter-karakter dengan rujukan panutan-panutan, misalnya ketokohan, pemikiran, gagasan, dan sebagainya. Nilai peradaban ini tergambar dalam episode ke-22 (episode Disidang Ayah).

Nilai peradaban bahwa sikap pasrah beranjak dari tawakal, tawakal beranjak dari ikhtiar atau berusaha terlebih dahulu. Berusaha menolong sesama manusia, apalagi sesama muslim, adalah wajib. Nilai ini melekat di sanubari si Rosalina kecil yang kelak mendampingi Bung Muda dengan setia. Si Hawa yang telah dua kali membuat Bung Muda dongkol. Justru peritiwa tersebut melahirkan nilai peradaban bahwa hati-hati...... Rasa jengkel atau dongkol dan terulang tidak hanya satu kali adalah bibit tumbuhnya rasa suka, rasa sayang, dan rasa cinta. Ya,,,nilai peradaban yang terkemas dalam episode ke-23 (episode Rosalina).

Kamar Pak Rektor adalah simbol komitmen menyemangati anak-anak muda. Simbol “prestasi” anak-nanak muda yang terseleksi tinggi rendahnya perjuangan. Peradaban menyemangati dan mefasilitasi anak-anak muda mengambil peran untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan mengambil peran dalam proses perubahan bangsa agar lebih baik adalah bentuk perjuangan. Nilai peradaban yang dapat dipetik pada episode ke-14 (episode Kamar Pak Rektor). Selain itu, dalam episode ini ada nilai peradaban bahwa laki-laki mengedepankan rasionalitas, oleh karena itu pasangan hidup harus mampu mengimbanginya dengan kelembutan perasaan, Juga dibersitkan nilai peradaban yang pada intinya sama dengan di episode ke-13 (episode Surat Pertama). Beranjak dari kegundahan si Ocha (Rosalina-red) yang hampir sama dengan si Sugiharti atau Mbah Oka, bahwa tidak jarang disinggahi kegundahan. Larut dengan kegundahan bukan suatu kearifan. Kearifannya adalah bersimpuh dan mengkomunikasikan dengan Allah sebagai tempat mengadu, sembari mengupayakan ikhtiar sebelum pada titik ketawakalan.

Nilai peradaban jebakan positif yang sekarang sering dikumandangkan Bung Muda adalah nilai peradaban yang terpetik ketika Mbak Tuti meyakinkan bung Muda untuk segera menikahi si Ocha sebelum keberangkatan menempuh pendidikan beasiswanya. Menjatuhkan pilihan untuk menjadi pasangan hidup adalah pilihan untuk memegang teguh kesetiaan dan saling menjaga amanah. Komitmen hanya bisa dijunjung tinggi apabila telah mengantongi aqidah yang kuat. Intinya nilai peradaban pada episode Berpisah Setelah Menikah (episode ke-25) adalah saling menjaga amanah akan teguh, berdasarkan akhlaq sudah mengakar kuat di pribadi seseorang masing-masing.

Titik balik adalah titik tumbuhnya kesadaran betapa pengayaan ilmu sesorang (intelektualitas) adalah modal mulia untuk membantu orang lain, setidak-tidaknya memberikan pandangan yang solutif. Perjuangan tidak hanya bermakna perjuangan fisik, namun juga bermakna perjuangan pikiran dan gagasan, termasuk mencerdaskan masyarakat. Demikian nilai peradaban yang bisa digali dalam episode Titik Balik (episode ke-26).

Dalam episode ke-27 (episode Mahasiswa Notariat) tersisip nilai peradaban bahwa curah pendapat atau diskusi bukanlah pepesan kosong, harus ada gagasan, teori, dan argumen yang solutif. Selain solutif, harus aplikatif, yaitu harus dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang dapat bertindak nyata dengan solusi tersebut. Tersisip pula nilai peradaban bahwa pengayaan keilmuan seseorang (intelektualitas) adalah modal memberikan warna tersendiri bagi Republik Indonesia. Intelektualitas melahirkan gagasan, intelektualitas menjadi senjata untuk melakukan perjuangan melalui amunisi gagasan dalam menorehkan (“warna yang indah”) pada kehidupan bangsa.

Buah Tak Jauh dari Pohon adalah “buah” mengikuti keberadaan “pohon”. Yaitu perjuangan untuk melakukan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat dan bangsa. Dan, perubahan yang lebih baik adalah sunnatullah. Demikian nilai peradaban yang terkandung dalam episode ke-28, episode Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohon.

Pengalaman dan pengetahuan adalah buku berjalan. Selama sesorang memegang buku berjalan, selama itu pula sesorang itu akan hidup menembus batas generasi. Namun, semuanya tidak terlepas kehendak Tuhan. Ketuhanan menyiratkan siapa Diri dan siapa Dia Sang Khaliq. Sang Khaliq yang berkehendak si Diri ke alam fana. Oleh karena itu, ketetapan Tuhan adalah hal yang mutlak harus diimani dan tugas manusia adalah ikhlas beribadah kepada-Nya. Ya…nilai peradaban yang tersirat di episode Fana (episode ke-29).

Nilai peradaban yang dapat digali di episode ke-30 (episode Totalitas Bersama Orang-orang Muda) adalah nilai peradaban yang dapat mengilhami para insan-insan yang akan terjun ke dunia politik. Bahwasanya politik adalah akibat bukan tujuan. Apabila politik dijadikan tujuan akan mengantarkan pada sikap pragmatis. Politik adalah proses dan pada proses inilah menjadikan betapa pentingnya gagasan. Yang kaya gagasan adalah anak-anak muda. Faktual ini menggugurkan pandangan psikologi pendidikan yang berpandangan bahwa anak-anak muda merupakan kelompok yang labil yang pemikiran-pemikirannya masih dianggap belum matang. Hakekat nilai peradabannya adalah dimana ada perubahan di situ ada gagasan, dimana ada gagasan di situ ada anak-anak muda. Dan, gagasan janganlah berhenti sebagai wacana, tapi harus diwujudkan dan di sinilah politik sebagai proses.

Doa dan dorongan semangat istri adalah energi untuk tetap berjuang, untuk optimis, untuk bangkit dari kepesimisan. Kehendak Allah dan ridho Allah adalah seberapa perjuangan dan keoptimisan, serta kepasrahan kepada Allah. Apabila perjuangan tidak mengenal kata akhir, maka jalan kemudahan dari Allah pun terus terbentang. Ya inilah nilai peradaban yang membuahkan pemekaran Kabupaten Kubu Raya. Nilai peradaban yang tercermin dalan eisode ke-31 (Doa Istri Sholihah).

Pada sesi “Buah dari Perjuangan yang Takkan Pernah Berakhir” menggambarkan buah adalah hasil kegigihan perjuangan. Perjuangan adalah signifikan apabila terukur menanjak dari aspek proses, hasil, dan dampaknya. Pemikiran ini harus menjadi peradaban yang dilestarikan dan agar terinternalisasi (“mendarah gading”) perlu dinarasikan dalam verbal simbolik #salammenanjak, #darikuburayauntukindonesia.

Akhirnya Buku “Merawat Pesan Peradaban: Novel Inspiratif Bung Muda” mengantarkan kita pada pemahaman dalam konteks kekinian bahwa pembangunan perlu kontribusi dan partisipasi semua pihak yang hendaknya langsung menyentuh (fokus) pada perubahan masyarakat yang lebih baik. Dan, pembangunan akan bermakna apabila berproses lebih cepat, berlari lebih kencang, dan bertindak lebih nyata sehingga masyarakat tidak hampa asa. Bung Muda mengcreate dalam konsepsi PEMBANGUNAN KEPONG BAKOL YANG MENDARAT.

Demikian resensi terhadap Buku “Merawat Pesan Peradaban: Novel Inspiratif Bung Muda”. Mudah-mudahan dapat membantu mencerna buku tersebut. Namun ada yang lebih penting, yakni merawat peradabannya serta mengadaptasi maupun mengadopsi bagi yang berminat berkiprah di jalur perjuangan untuk perubahan masyarakat dan bangsa Indonesia yang lebih baik. Semoga bermanfaat.

Judul Buku : Merawat Pesan Perdaban : Novel Inspiratif Bung Muda (Bupati Kubu Raya). 

Penulis Buku : Pay Jarot Sujarwo

Penerbit     : Pustaka Rumah Aloy Pontianak

Tahun Terbit : 2020 (Cetakan ke-2) 978-623-7992-44-8

Penulis Resensi : Drs. Heri Supriyanto, M.Si (Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kubu Raya) 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00