Polemik Pajak Bagi Youtuber dan Selebgram

KBRN, Pontianak : Kita tahu bahwa di era globalisasi saat ini penggunaan intenet dan sosial media sudah sangat canggih. Tidak hanya mempermudah kegiatan kita sehari-hari, namun kemajuan bidang IT itu juga, dapat menghasilkan uang. 

Berawal dari sekedar hobi atau iseng, membuat vlog atau konten-konten yang menarik seperti yang sedang banyak di lakukan orang saat ini ialah traveling, dimana mereka bekerja secara profesional untuk menceritakan tempat-tempat yang menarik dan berbagai pengalaman mereka yang kemudian, menarik keinginan kita untuk berkunjung. 

Selain itu, platform online dan media sosial saat ini juga, bisa menjadi sumber berita atu hanya sekedar informasi bahkan tidak jarang memunculkan pekerjaan baru misalnya menjadi selebgram dan youtuber.Perkerjaan seperti ini menjadi populer di beberapa kalangan, karena hasil yang sangat menjanjikan bahkan untuk para influencer yang sudah sangat populer, bisa mendapatkan keuntungan hingga puluhan juta rupiah hanya satu endorsement.

Pertanyaannya, dari mana saja sumber uang itu akan dihasilkan? pertama, Endorsement, yang paling umun untuk para influencer media online saat ini. Dimana para produsen membayar para youtober untuk menggunakan barang-barangnya, yang dikemas dalam bentuk  video atau akun medsos mereka. Kedua, Google Adsense, yaitu sejenis banner yang muncul dibawah video secara random saat video berlangsung.  Ketiga, Youtube, situs video terpopuler ini akan memberikan uang kepada penggunanya yang mengisi konten youtube (youtuber) dengan meyimpan pop-up iklan pada awal video, tengah atau akhir video yang di peruntukan untuk video populer atau video akun youtuber populerkan. Keempat Patreon adalah salah satu yang bekerjasama dengan youtube sebagai sumber uang lain untuk para youtober, di platfrom ini para pergemar akan diharuskan untuk membayar setiap perbulannya untuk akun youtube yang mereka sukai untuk menonton video eksklusif lain dari artis favoritnya. 

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyarankan, agar para pesohor media sosial turut dikenai pajak pendapatan, seperti hal nya selebritas lain dalam industri hiburan. Rencana ini dinilai akan membantu keuangan negara dengan pajak yang dihasilkan. Namun wacana tersebut kemudian menimbulkan polemik. Persoalnya, menurut Kepala peneliti Fiskal Deni Darusalam Tax Center (DDTC), Bawono Kristianji, saat ini masih sulit untuk memetakan pajak bagi selebgram dan para vlogger yang lazim di sebut youtuber. Bahkan kesulitan ini bukan hanya di alami indonesia, namun negara-negara besar di dunia, terutama negara anggota Organitation For Ekonomi Co-operator Development (OECD) atau Organisasi untuk kerjasama dan pembangunan Ekonomi pun mengalami kesulitan, saat akan menerapkan kebijakan itu.

Sementara itu Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas) Direktorat Jendral Panak (DJP) Hestu Yoga Saksama mengatakan, selama ini peraturan khusus soal pajak selegram memang belum ada namun bukan berati mereka tak dikenakan wajib pajak atas penghasilan selebgram tentu saja merupakan objek pajak yang harus dilaporkan dalam SPT tahunan. 

DJP juga telah melakukan pembinaan kepada pesohor media sosial (Medsos). Caranya adalah dengan memantau aktivitas mereka di medsos dan melakukan penyuluhan agar mereka mau melaksanakan kewajiban perpajakan. Upaya ini berbuah manis, kini mulai banyak pesohor yang memiliki inisiatif untuk datang ke kantor pajak guna membuat NPWP atau melapor SPT Tahunan. 

Menurut saya, kesadaran pajak dari para selebgram maupun youtuber, termasuk pengguna jasanya, harus turut di kenai pajak. Mereka wajib memotong atas pembayaran pajak kepada selebgram, kemudian membuat dan memberikan bukti potong pajak tersebut. Sehingga mereka juga dapat melaporkannya dalam SPT tahunan, seperti yang telah diatur dalam kewajiban Influencer Online bayar pajak, sesuai dengan PPh 21 atau PPh 23. Tujuan Dikeluarkan peraturan Influencer wajib pajak bisa memiliki penghasilan di atas rata-rata. Pemerintah pun tentunya  ingin membuat peran seorang Influencer sebagai salah satu penyokong ekonomi di Indonesia.

Ditulis Oleh : Nopiana Balamure

NIM : E1012191075

Prodi : Ilmu Administrasi Publik

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Tanjungpura. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00