Minat Baca Masyarakat Mulai Terkikis

KBRN, Pontianak : Kemajuan tekhnologi khususnya di bidang informasi, berdampak tidak baik terhadap kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Dari data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) tahun 2018, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.

Inilah yang bisa menyimpulkan bahwa teknologi tidak hanya memberikan dampak positif. Dengan memudahkan akses informasi, tekhnologi juga memberikan dampak negatif bagi mereka yang terlalu aktif namun kurang bijak dalam  memanfaatkannya. 

Semua kalangan menggunakan akses teknologi mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.  Mudahnya akses informasi membuat orang suka menggunakannya. Namun, penggunaan teknologi ini, mulai mengikis kehadiran buku maupun budaya diskusi yang dulunya sering digunakan oleh penikmat ilmu.

Walaupun buku bukan lagi menjadi prioritas membaca bagi setiap orang, Namun teknologi dalam hal ini tidak bisa kita salahkan begitu saja sebab mereka yang mengolah dan mengatur sistem teknologi inipun adalah manusia. Jadi apabila kualitas manusia dikatakan naik ataupun turun akibat sentuhan teknologi, itu karena kurangnya kesadaran dan randahnya seni mengatur waktu seseorang dalam penggunaan teknologi dikehidupan sehari-harinya.

Semakin menjamurnya teknologi dengan fitur-fitur canggihnya membuat para pemuda/i enggan untuk membaca buku. Akibatnya jarang sekali generasi millenial kita yang paham dengan isu, peristiwa atau informasi yang belakangan terjadi. Tidak heran memang, karena tidak ada paksaan dalam diri untuk mengubah pola pikir kita dan menambah wawasan keilmuan kita. Padahal membaca dapat mengasah Critical Thinking (berpikir kritis) seseorang. Agak mengherankan ketika membaca hasil penelitian Alvara Research Center bahwa konsumsi internet generasi milenial rata-rata lebih dari 7 jam per hari. Hal ini tercermin dari pola penggunaan gawai mereka yang membutuhkan koneksi internet ketika menggunakan fitur-fitur smartphone mereka. Tapi mengapa minat baca mereka masih sangat rendah? Lantas apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan Critical Thinking (berpikir kritis) terutama melalui membaca?

Saya mencoba berbagi beberapa tips yang bisa membantu permasalahan ini. Pertama adalah tanamkan dalam diri kita bahwa buku adalah kekasih yang selalu hadir menemani. Inilah yang dicontohkan oleh Bung Hatta (Wakil Presiden Republik Indonesia pertama).

Kedua adalah, temukan bacaan favoritmu, kalau saya sendiri memiliki buku khusus untuk dibaca dan tidak boleh dilewatkan, buku itu adalah buku motivasi dan buku romansa. Dari membaca buku, saya banyak mendapatkan inspirasi dan kekuatan kata. Kekuatan kata, terkadang tersirat dalam untaian kalimat di sebuah buku yang kita baca. Di dalamnya, dapat kita temukan sebuah diksi yang membuat kita bersemangat akan suatu hal. Semisal saya ambil contoh buku "Peradaban Sarung" karya Gus Dhofir Zuhry. Di awal buku itu tertulis "sebelum belajar tentang Tuhan dan agama, terlebih dahulu belajarlah tentang manusia. Sehingga jika suatu saat nanti anda membela Tuhan dan agama, anda tidak lupa bahwa anda adalah manusia". Itulah yang saya sebut dengan kekuatan kata. Lain halnya dengan novel romansa Dalam Sketsa karya Ikrom Mustofa. Di situ ada bait-bait yang menurut saya epik banget untuk diulang-ulang sebagai kata penyemangat, motivasi, dan nasihat: "bisu yang sering tak mau tahu dari seorang perasa yang bertemu dengan seorang tak peka". Pasti setelah membaca buku-buku romansa, gayamu bicara juga jadi beda. Inilah yang saya sering sebut dengan kekuatan kata. Ia akan terngiang dalam benakmu dan membuat kamu sering mengulang-ulangnya di kesibukan hari-harimu. 

Tips terakhir atau ketiga adalah membaca tidak harus melulu membeli buku. Perkembangan teknologi telah memberi sumbangsih positif dalam pendidikan khususnya membaca. Janganlah bermalas-malasan, kita cuma bakal malu-maluin negara kalau kita tumbuh sebagai generasi penerus yang malas baca. Saya termasuk yang memanfaatkan teknologi untuk membaca.

Ditulis oleh : Reztu Adi Frimanda

NIM : E1012191070

Prodi : Ilmu Administrasi Publik

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Tanjungpura. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00