Karhutla Sebabkan Kabut Asap, Siapa Yang Harus Bertanggungjawab?

KBRN, Pontianak : Hutan adalah paru-paru dunia dan sumber kehidupan, karena perannya sangat penting bagi kelangsungan hidup seluruh makhluk di muka bumi. Karena itu, hutan menjadi kekayaan alam harus dilestarikan, setiap makhluk hidup wajib menjaga kelestariannya dan merawatnya dengan baik, agar dapat menikmati udara yang bersih dan sehat serta terjaga ekosistemnya. 

Hutan sangat berperan penting dalam kehidupan manusia, bahkan sebagian dari masyarakat mencari nafkah dari paru-paru dunia ini. Kurang lebih 300 juta populasi manusia di bumi tinggal dan berkembang di hutan.

Malangnya, akhir-akhir ini manusia tampaknya semakin serakah dalam mengeksploitasi sumber daya di hutan, dan memanfaatkan itu semua hanya untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi. 

Maraknya eksploitasi hutan dan pemanfaatan hutan secara berlebihan tanpa perbaikan kembali, menimbulkan dampak buruk bagi banyak orang, terlebih lagi adalah pembakaran hutan yang dilakukan untuk membuka lahan pertanian, terkadang banyak pihak yang tidak bertanggung jawab membakar habis hutan demi kepentingan mereka. Inilah yang harus di perhatikan kita semua dan khusunya pemerintah.

Seperti halnya yang setiap tahun terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, di Kalimantan dan Sumatera. Pada tanggal 12-14 september 2019, NASA memantau titik api dan titik panas di Pulau Kalimantan semakin banyak dan pekat. Selain pantauan NASA, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau NEA (National Environment Agency), juga mentuturkan masih ada sekitar 1.300 titik panas yang tersebar di Pulau Kalimantan saat itu. Diduga kuat bahwa titik panas dikarenakan pembakaran lahan yang marak dilakukan.

Seperti yang kita ketahui dampak dari kabut asap akibat terbakarnya hutan atau lahan yang terjadi sangat menghawatirkan untuk penduduk sekitar, dan berdampak juga bagi beberapa daerah di Indonesia. Seperti kurangnya jarak pandang karena asap menyebar rata diseluruh jalanan, beberapa penyakit yang timbul karena terlalu banyak menghirup asap, sehingga masyarakat harus selalu menggunakan masker dan beberapa sekolah terpaksa diliburkan.

Maka dari kejadian kabut asap yang di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera ini membuat semuanya bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya dalang dibalik pembakaran hutan yang menyebabkan kabut asap ini?

Menurut saya, pembakaran hutan atau lahan ini terjadi karena adanya oknum-oknum yang sengaja membuka lahan baru dengan cara yang tidak semestinya. Masih banyak saja pengusaha yang memilih cara praktis seperti membakar lahan tanpa berfikir panjang dan memikirkan dampak yang akan terjadi. 

Kebakaran hutan dan lahan adalah pencemaran udara yang merupakan  satu diantara masalah besar, yang harus diwaspadai oleh dunia. Itu juga dapat dikatakan bahwa pencemaran udara merupakan perkembangan masyarakat yang memberikan hampir tidak ada keuntungan bagi udara. Pemerintahlah satu-satunya yang dituntut untuk dapat menemukan dan mengatasi masalah ini. Padahal, menurut saya tidak hanya pemerintah yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini melainkan setiap individu baiknya memilki kesadaran untuk mencegah atau menegur oknum tersebut agar sedikit merasa malu dan efek jera akan perbuatannya. Karena menurut saya sudah semestinya kita sebagai penghuni bumi menjaga dan melindungi alam dari keganasan pihak-pihak yang hanya ingin memikirkan diri sendiri untuk mendapatkan keuntungan dari hutan yang tak semestinya. Banyak cara untuk melindungi, menjaga dan melestarikan bumi yaitu menanam pohon-pohon hijau, itu akan membantu terciptanya udara yang bersih dan sehat. Karena saat ini yang lebih dari penting adalah kesehatan. Jika kita peduli dengan kesehatan, apa salahnya kita peduli juga dengan alam? Uang bisa dicari tapi kesehatan susah untuk dicari.

Ditulis Oleh : Ega Dwi Prastika Putri

NIM : E1012191074

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prodi : Ilmu Administrasi Publik

Universitas Tanjungpura

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00