Sudah Bahas Industri 4.0, Kondisi Jalan di Pedalaman Bengkayang Masih Memprihatikan

KBRN, Pontianak : Kali ini saya ingin membahas jalan rusak yang terjadi di Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang. Di daerah ini, ada jalan yang menghubungkan beberapa desa, yaitu Desa Semangat, Desa Lesa Bela, Desa Suka Jaya, dan Desa Suka Damai. Kondisinya sangat rusak dan mengganggu aktifitas masyarakat. 

Jalan merupakan infrastruktur dadar yang menjadi aspek penting bagi kehidupan masyarakat. Namun, bagaimana jika jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menempuh tempat atau lokasi yang akan kita tuju rusak parah?

Keadaan seperti ini tentulah sudah lama terjadi, dan kerusakan terus bertambah diakibatkan beberapa faktor seperti : curah hujan, dan tanah kuning yang merupakan media dasar permukaan jalan, ditambah lagi banyaknya aktivitas kendaraan yang melintasi jalan ini, kurang lebih ada sekitar 10 titik kerusakan jalan. Padahal, seperti diketahui jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju pasar kecamatan dan kabupaten dimana masyarakat memperoleh setiap kebutuhannya melalui jalan ini.

Kesulitan semacam ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang berdomisili didesa ini saja, namun para pelajar dari desa lain yang menempuh pendidikan di SMP Negeri 02 Ledo yang berada di Desa Suka Damai dan para tenaga pendidik/guru yang mengajar di sekolah ini pun merasakan kesulitan saat hendak melewati jalanan yang kerap kali rusak saat hujan melanda. Bahkan jika curah hujan cukup tinggi, tidak menutup kemungkinan jalanan ini menjadi banjir. Sebab, tidak semua pelajar dan guru yang melakukan proses belajar dan mengajar didesa ini berdomisili di desa tersebut, maka konsekuensi dan tantangan yang harus mereka hadapi dan terima adalah melewati jalanan ini dengan lapang dada.

Dari tahun ke tahun, bulan berganti bulan, hari lepas hari jalan ini tak kunjung diperbaiki. Di daerah ini telah berdiri sebuah pabrik sawit sejak tahun 1990, yang juga enggan memperhatikan keadaan jalan yang semakin hari semakin memburuk. Padahal, aktivitas kendaraan seperti mobil yang mengangkut sawit adalah kendaraan yang paling sering dan dominan melewati jalan ini.

Masyarakat sudah pernah meminta kepada pihak perusahaan untuk memperhatikan jalan tersebut dan berharap pihak perusahaan mengindahkan hal demikian. Namun apa daya, mereka seolah menutup mata dan tutup telinga terhadap permasalahan ini.

Sebab bukan tidak pernah masyarakat mengadukan masalah jalan ini kepada pihak pemerintah, tetapi belum juga membuahkan hasil. “janji hanyalah janji” mungkin itulah kata yang tepat jika kita bertanya kepada masyarakat setempat perihal jalan yang yang katanya sudah pernah diukur namun sampai sekarang tidak kunjung dilaksanakan perbaikannya, “Bahkan patok pembatas jalan yang sudah pernah diukur dulu sudah tercabut," kata Marsiana Anggon, warga di Desa Suka Damai.

Kondisi kerusakan jalan ini juga sempat diunggah diakun facebook, milik Pratama Badai yang merupakan warga dari desa Suka Damai, melalui unggahannya ia menuliskan dan memperlihatkan keadaan jalan yang rusak parah pada tanggal 05 November 2019 lalu.

Bahkan terlihat sebuah mobil truk yang bermuatan pupuk tumbang melewati jalan ini akibat medan tanah yang begitu licin. Maka dari itu, melalui postingannya ini ia berharap aspirasinya mendapat perhatian dari pihak berwenang agar segera dapat menuntaskan masalah ini. Sangat disayangkan apabila aspirasi masyarakat tak didengar. Sudah puluhan tahun daerah tak becus urus infrastruktur, padahal kita semua tau dunia sudah berbicara revolusi industry 4.0 tapi daerah urusan membangun jalan saja belum tuntas. Kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan? 

Pernahkah terlintas dibenak pemerintah bahwa hal semacam ini dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah? Tentulah kita semua tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun, kondisi jalanan ini sudah cukup jelas mewakili gambaran hati masyarakat yang tinggal dan menikmati kondisi buruk jalan ini.

Oleh sebab itu, saya dan kita semua berharap aspirasi sekecil apapun bisa direspon dan dituntaskan dengan baik oleh pihak yang berwenang. Tidak hanya urusan besar saja yang menjadi sorotan, tetapi urusan dan masalah sekecil apapun harus mendapat penyelesaian sesegera mungkin. 

Ditukis Oleh : Rossy Sri Wahyuni

NIM : E1011181127

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 

Prodi : Ilmu Administrasi Publik

Universitas Tanjungpura. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00