B117 Belum Ditemukan Di Kalbar, Masyarakat Di Minta Tetap Waspada

KBRN, Pontianak: Varian baru Virus Corona B117 asal Inggris ini sudah masuk ke Indonesia. Dimana, untuk tingkat penularannya disebut-sebut antara 30 hingga 70 persen atau lebih cepat menular.  Beruntungnya, di Kalbar sendiri, keberadaan virus varian baru dari Sarscov 2 ini belum terdeteksi.

Kendati demikian, masyarakat pun harus tetap waspada, dan selalu menerapkan 3 M, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. Selain itu upaya pencegahan lainnya dengan melakukan pengetatan wilayah dari mobilitas warga, terutama yang berasal dari luar Kalbar.

“Tingkat penularan varian baru B117 ini lebih tinggi daripada mutasi jenis D614G yang beredar luas saat ini. Varian ini pun banyak ditemukan kasusnya pada kalangan remaja di Inggris,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran Untan Pontianak dr. Andriani, Biomed Minggu (07/03/2021).

Andriani mengatakan, langkah antisipasi yang harus dilakukan yakni, dinas terkait harus menggencarkan pola 3 T yakni Tracking, Tracing dan Treatment terhadap kasus yang lebih tinggi pada kondisi kasus varian sebelumnya. Sementara rekomendasi yang dipersyaratkan untuk melakukan tracing pada 1 kasus B117 ini tambah Andriani adalah minimal 50 kontak erat, sedangkan untuk varian sebelumnya direkomendasikan sebanyak 30 kontak erat.

“Perhitungannya, kalau varian virus normal itu minimal 30 kontak erat untuk satu tracing kasus konfirmasi. Untuk B117 ini, diperlukan minimal 50 kontak erat untuk tracing 1 kasus konfirmasi, lumayan perbandingannya. Di Indonesia saja, untuk capai target 10 kontak erat saja sudah sulitnya, apalagi mau 50,” jelasnya.

Sementara itu, terkait pengaruh varian baru B117 terhadap kemanjuran dan efektifitas vaksin Sinovac asal China yang saat ini sedang digalakkan pemerintah, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak ini menuturkan, bahwa vaksinasi masih terbukti cukup efektif untuk menekan laju penularan B117.

“Namun yang perlu dikhawatirkan terutama varian virus yang berasal dari Afrika Selatan, karena vaksin akan cenderung kurang efektif terhadap varian ini,” imbuhnya.

Oleh karena itu tambahnya, penelitian Genomic Sequencing penting dilakukan sesering mungkin, untuk bekal melakukan penilaian apakah virus corona ini mengalami mutasi baru atau tidak.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan sejauh ini pemerintah belum bisa menjamin apakah varian baru virus corona B117 berpengaruh terhadap kemanjuran dan efektivitas vaksin asal perusahaan China, Sinovac.

Nadia mengatakan pihaknya masih harus menunggu hasil penelitian dari tim uji klinis vaksin Sinovac Universitas Padjajaran dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00