BKKBN dan Komisi IX DPR RI Dukung Kepung Bakul Atasi Stunting di Kubu Raya

KBRN, Pontianak : Direktur Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) BKKBN Pusat, Eka Sulistiya Ediningsih, SH menginkan Kabupaten Kubu Raya, utamanya Kecamatan Sungai Raya harus  Zero Stunting. Hal itu diungkapkan Eka Sulistiya Ediningsih saat  Sosialisasi Program Bangga Kencana  dan Percepatan Penurunan Stunting  Bersama Mitra di  K Gedung Al-Muhajirin Pondok Indah Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (21/5/2022).

Menurutnya hal itu penting ditekankan, karena sebagaimana komitmen Camat Sungai Raya, meskipun angka stunting di Sungai Raya masih 24,5 persen, namun optimis dapat mencapai nol persen. Oleh karenanya Eka Sulistiya Ediningsih minta agar angka tersebut tidak boleh dibiarkan, karena jika masih pada angka 24,5%, artinya 1 dari 4 anak di Kecamatan Sungai Raya yang lahir stunting, dan itu tentu sangat berbahaya. Memang stunting itu pendek, tetapi pendek bukan berarti stunting, bedanya untuk pendek biasa, baik mental maupun kecerdasanya tidak terganggu dinamakan stunted. Berbeda halnya dengan stunting pendek  ketika lahir kurang dari 2,5 Kg dengan tinggi kurang dari 48 Cm dan pertumbuhannya tidak normal dan tidak sesuai umurnya, termasuk perkembangan kecerdasannya terganggu.

"Kalau memang Kecamatan Sungai Raya ini 24,5%, stunting ini bahaya, dia pendek, kecerdasannya terganggu nanti kalu gede dia sakit-sakitan dan yang paling akan berpengaruh kemungkinan dia akan mengalami darah tinggi, diabetes dan kita tahu kalu sudah diabetes itu kemana-mana, dia terus kemudian bisa jantung, semuanya pasti akan terganggu, bayangkan kalu satu dari empat masyarakat Kecamatan Sungai Raya ini  seperti itu, nanti di masa dewasa dia sakit-sakitan dan di kecailnya dia juga sakit-sakitan karena dia lemah, tentu kita tidak menginginkan seperti itu,”jelas Eka Sulistya Ediningsih.Direktur KIE  ini  masih tetap optimis angka 24,5% di Kecamatan Sungai Raya bukan semuanya stunting tetapi bisa saja Stunted, karena yang diukur baru pendek atau  tinggin dan beratnya, mungkin kecerdasannya tidak terganggu. Eka Sulistya Ediningsih minta para suami  harus  mendorong istri, keponakan ataupun cucu  di bawah 2 tahun upayakan di bawa ke Posyandu, sehingga angka partisipasi atau kehadiran balita di Posyandu baru 55% dapat meningkat minimal menjadi 80%. Jika ingin mengukur kasus stunting dengan  pengukuran berbasis masyarakat dan berbasis kader Posyandu, bagaimanapun caranya.

"Kita ketahui dengan hanya mengukur Panjang dan berat balita tidak cukup, tetapi harus juga menggunakan Kartu Kembang Anak yang berada di Bina Keluarga Balita, apalagi di Kabupaten Kubu Raya tengah menggalakkan strategi Kepung Bakul yang sinergi dan terintegrasi, maka sangat tepat menggunakan  Kartu kembang Anak, sehingga dapat mengetahui anaknya berkembang atau tidak,”jelasnya.

Ia kembali menjelaskan, keberadaan Tim Pendamping Keluarga juga sangat berperan, sehingga sebagaimana sudah ada datanya dari PK 2021 sudah terdata by name by address mana keluarga-keluarga yang berisiko stunting. Jika belum ada datanya, sudah semestinya Kepala Desa dan dasa wisma sudah punya datanya, dan di situlah akan terlihat mana keluarga-keluarga yang stunting karena kekurangan gizi memang karena tidak mampu.  Menurut Eka di daerah lain sudah banyak yang menginisiasi dengan nama program bapak asuh, dimana seperti yang dikatakan Kepala BKKBN Pusat, yang merupakan dokter ahli kandungan dan sub spesialis bayi tabung, yang menyarankan apabila anak-anak bawah dua tahun (Baduta) makan 1 butir telur sehari sudah bisa menghjindari stunting.

“Hanya masalahnya tidak semua keluarga mampu membeli telur, sehingga disinilah pentingnya program bapak asuh yang dapat membantu baduta anak orang tidak mampu dengan memberikan asupan gizi, diantaranya 1 telur setiap hari per anak baduta minimal selama 6 bulan, apalagi ditambah dengan makan ikan yang memiliki nilai gizi sangat bagus untuk pertumbuhan anak.Pada kesempatan yang sama Anggota Komisi IX DPR RI Dapil Kalbar, Alifudin mengatakan, berdasarkan kunjungannya ke berbagai daerah, penyebab stunting hampir sama, diantaranya pernikahan dini, sehingga dengan adanya penyuluhan-penyuluhan ini ada kesadaran masyarakat, khususnya  pada orangtua menikahkan anaknya sesuai dengan umurnya, yaitu untuk perempuan minimal 21 tahun dan laki-laki minimla 25 tahun.“Menikah sesuai dengan umurnya karena terkait dengan  kepentingan masa depan, jadi hamper Sebagian besar itu persoalannya, atau terkadang dia orang kaya ternyata salah asuh juga nitip ke orangtuanya atau titip ke pembantunya atau ke tetangga yang tidak paham, jadi kita jangan memberikan asuh anak-anak kita yang bukan ahlinya, jadi memang sebaiknya anak itu langsung di asuh oleh orangtuanya,”ungkapnya.

Alifudin menegaskan dalam hal ini yang sangat berperan diantaranya pola asuh dan dengan mempersiapkan pernikahan dengan matang, niscaya kedepannya akan baik, mendapatkan keturunan anak-anak yang sehat dan terhindar dari stunting.

Menyinggung tentang Strategi Kepung Bakul yang kini terus digalakkan pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Alifudin menyatakan hal itu merupakan strategi yang sangat baik, tinggal membangun kesinergisan, apalagi khusus Posyandu akan dijadikan program nasional dan masuk ke dalam Kementerian  Dalam Negeri yang diharapkan disuport Kementerian-Kementerian lainnya dengan bantuan-bantuan. Karena selama ini Posyandu itu murni dari biayan masyarakat, sehingga nantinyaakan ada subsidi bantuan-bantuan dari pemerintah, sehingga program-programnya akan lebih efektif karena bukan hanya sekedar inisiatif masyarakat , tetapi juga bimbingan dari pemerintah.

“Mengingat pentingnya Posyandu ini sebagai bagian dari pencegahan stunting dan tumbuh kembang anak, maka realisasi dijadikannya Posyandu sebagai program nasioanal pada 2022 sangat dinanti-nantikan,”tambahnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar