Import Tahap Kedua Oksigen Dari Malaysia Tiba Hari ini di Kalbar

KBRN-Pontianak : Kalimantan Barat kembali menerima pasokan tiga Iso Tank Oksigen dari Sarawak, Malaysia, Rabu (28/7/2021). Ini merupakan upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menunjang penanganan pasien di rumah sakit yang sempat kehabisan stock oksigen dan impor yang kedua kalinya ini, sebanyak 50 ton oksigen.

50 ton oksigen ini diimpor dari Sarawak oleh perusahaan yang sama dari sebelumnya, yakni PT Matesu Abadi dan PT Sarana Pasifik Nusantara dimana untuk PT Matesu Abadi kurang lebih sebanyak 32 ribu kilogram dan PT Sarana Pasifik Nusantara 18 ribu kilogram. Kasi Pelayanan Kepabean dan Cukai, Bea Cukai Entikong Heri menerangkan Serah terima oksigen ini dilakukan di zona netral perbatasan RI-Malaysia.

"Total oksigen yang sudah melintas melalui PLBN Entikong Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, sejak tahap pertama 23 dan 24 Juli lalu hingga saat ini sudah mencapai 95 ton," kata Heri, Selasa, (28/07/2021) di Entiong kabupaten Sanggau.

Untuk sementara lanjut Heri, belum ada informasi pengiriman lanjutan dari Malaysia. Namun pihaknya masih terus menunggu informasi dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuching dan Pemprov Kalbar.

“Oksigen ini karena masuk dalam rangka penanganan pandemi Covid-19 untuk menjaga stok dan pasokan tetap aman di Provinsi Kalbar, maka ada fasilitas dari negara sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34 Tahun 2020 dan PMK Nomor 92 Tahun 2021,” terangnya.

Jadi, tambah Heri, sepanjang untuk kepentingan pandemi Covid-19 dalam rangka menjaga stok oksigen di Provinsi Kalbar, tentu saja pihak importir harus tetap mengajukan proses pembebasannya dan ada rekomendasi dari BNPB Republik Indonesia.

"Barang oksigen ini masuk kategori yang mendapat fasilitas pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor," kata Heri.

Untuk sisi administrasi kepabeanan dan cukai, sambung Heri, proses import oksigen ini tidak menghadapi kendala. Namun memang ada sedikit kendala pada pengiriman tahap pertama 23 Juli lalu.

"Pasalnya kedua perusahaan belum pernah melakukan proses impor melalui perbatasan darat dan proses impor melalui jalur darat memang berbeda dengan yang di pelabuhan laut atau bandara udara," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00