Dokter Spesialis Jantung Ungkap Penyebab Atlet Meninggal Mendadak Saat Badminton & Sepak Bola

KBRN, Pontianak : Atlet Bulutangkis Tanah Air Markis Kido meninggal dunia saat tengah bermain badminton, begitu juga pesepak bola Denmark Erikson yang colaps saat laga menghadapi Finlandia di Euro 2020.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Alice Inda Supit, Sp. JP menjelaskan tidak hanya badminton dan sepak bola yang bisa menyebabkan pingsan bahkan meninggal dunia saat seseorang melakoni olahraga tersebut namun olahraga yang berintensitas tinggi juga berpotensi menyebabkan pingsan maupun meninggal dunia secara mendadak seperti halnya sepeda dan lari.

Penyebabnya dikarenakan sumbatan di pembuluh darah jantung atau yang disebut jantung koroner dan adanya gangguan irama jantung yang bisa menyebabkan jantung berhenti secara mendadak

Dokter lulusan Universitas Sam Ratulangi Manado ini mengatakan untuk usia dibawah 35 tahun yang paling sering terjadi penyakit jantung ialah jantung bawaan terjadi gangguan irama jantung atau karena bawaan sejak lahir, sementara untuk diatas 35 tahun yang sering terjadi ialah jantung koroner karena terjadi penyumbatan pembuluh darah koroner yang berfungsi memberikan suplay oksigen agar jantung dapat bekerja

Menurutnya olahraga badminton dan sepak bola merupakan olahraga yang memerlukan oksigen yang tinggi mencapai diatas 70% dari maksimal berbeda dengan olahraga lain yang hanya mencapai 40%.

Dia menegaskan badminton dan sepak bola tidak sering menyebabkan terjadinya meninggal secara mendadak apalagi dikalangan atlet karena angkanya 1 berbanding 100.000 atlet, cuma dikarenakan yang terjadi merupakan atlet dan diusia muda pula maka cukup menghebohkan masyarakat.

Diakui dr Alice, badminton dan sepak bola merupakan olahraga yang bersifat mendadak gerakannya, kompetitif, stop dan start serta gerakan yang tiba tiba, tidak seperti sepeda dan lari yang intensitas nya dimulai dari perlahan kemudian menjadi tinggi dan cepat, sehingga karena sifatnya ini maka otot jantung membutuhkan konsumsi oksigen yang lebih tinggi dan otot jantung mesti memompa darah yang lebih banyak bahkan karena bersifat kompetitif maka ada faktor emosional juga yang berperan berpengaruh terhadap sistem saraf merangsang pelepasan zat yang disebut katekolamin yang meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung yang ujung ujungnya meningkatkan kebutuhan akan oksigen, dan jika oksigen tidak cukup maka akan merusak irama jantung.

"Yang rentan sebenarnya apabila orang itu ada memiliki penyakit jantung yang mendasari terutama ada penyakit jantung tapi tidak terdeteksi atau orang yang punya faktor risiko misalnya merokok, alkohol, penyakit kencing manis, kolestrol atau darah tinggi " katanya kepada RRI, Senin (14/06/2021).

dr. Alice mengaku sebenarnya hal ini bisa dicegah asalkan orang itu mengetahui bagaimana kondisi jantungnya atau memahami faktor risiko penyakit jantung misalnya merokok maupun minum alkohol bahkan penyakit jantung ini bisa diketahui tanda tandanya yakni pernah dilakukan operasi jantung saat usia muda, kemudian pernah merasakan nyeri dada dan pusing saat latihan atau berolahraga pernah pingsan sebelumnya dan memiliki riwayat keluarga yang pernah meninggal mendadak serta pernah nyeri perut.

"Assosiasi jantung Eropa dan Amerika merekomendasikan agar atlet dengan olahraga kompetitif untuk dilakukan screening mencegah agar tidak terjadi meninggal dunia secara mendadak dengan pemeriksaan fisik maupun rekam jantung (EKG), jika didapat hasil dari pemeriksaan ini akan dilanjutkan ke pemeriksaan selanjutnya" ujarnya.

Menurut dokter yang bertugas di RS dr Soedarso dan RS Anugrah Bunda Khatulistiwa Pontianak ini, sebelum seseorang itu akan pingsan atau colaps pasti akan ada gejala yang didahului misalnya nyeri dada sebelah kiri menjalar hingga ke lengan ataupun leher kemudian ada sesak yang lebih berat dibanding biasanya, ada pusing merasa hampir mau pingsan dan dada berdebar lebih dari biasanya sehingga sudah merasakan satu diantaranya maka jangan malu dan gengsi segera untuk beristirahat.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00