Ahli Waris Sebut Tindak Pidana PT. SRM Tidak Berdiri Sendiri dan Desak Polda Kalbar Tetapkan Pamar Lubis Jadi Tersangka

KBRN - Pontianak ; Ahli waris pemilik lahan yang saat ini dikelola oleh PT. Sultan Rafli Mandiri (SRM), mendesak Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kalbar menetapkan direktur perusahaan tambang emas tersebut, M. Pamar Lubis sebagai tersangka.

Pasalnya, para ahli waris yang terdiri H. Muardi, Suandi H. Amir, dan Edi Saputra menduga tindak pidana yang dilakukan PT. SRM ini tidak berdiri sendiri. Selain melakukan pemalsuan dokumen dan pencemaran lingkungan di luar Izin Usaha Tambang, perusahaan ini juga diduga melakukan penipuan dan penggelapan emas hasil dari aktivitas tambang tersebut. “Kasus ini bukan hanya tindak pidana pemalsuan saja, tapi juga penipuan dan penggelapan emas dari hasil tambang tersebut,” tegas kuasa hukum ahli waris, Denny Azani B. Latief dalam konferensi persnya, Kamis (19/11). 

Menurut Denny, dugaan ini berdasarkan hasil analisa pihaknya atas laporan sebelumnya terkait dengan pemalsuan dokumen yang dikirim pada 26 Juni 2020 dan pencemaran lingkungan pada 1 Oktober 2020 lalu. Dari dua laporan itu, dia menyebutkan ada unsur penipuan yang dilakukan secara sengaja oleh M. Pamar Lubis yang dibantu notaris dalam pembuatan dokumen palsu penggantian status perusahaan dari CV menjadi PT.

Letak unsur penipuannya ada pada proses penggantian status perusahaan itu yang dibuat secara diam-diam tanpa sepengetahuan ahli waris. Padahal, saat itu bahkan hingga sekarang ketiga ahli waris tersebut merupakan pemegang saham sah yang selama ini tidak mendapatkan hak mereka.

“Dan kita juga menduga PT. SRM ini melakukan penggelapan. Sebab, sebagai pemegang saham selama ini ahli waris tidak tahu kemana hasil tambang itu dijual. Bisa jadi juga ini pencucian uang. Karena emas itu dijual ke investor, kemudian hasilnya (uang) kemana,” ujarnya. 

Untuk itu, ia meminta agar Polda Kalbar untuk segera memeriksa M. Pamar Lubis dan menetapkannya sebagai tersangka. Sebab, apabila kasus ini dibiarkan berlarut-larut, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan gejolak antara kedua belah pihak. Apalagi, kata dia sampai sekarang perusahaan itu tetap beroperasi.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00