Mafia Tanah Picu Konflik Sosial

KBRN, Pontianak: Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Turiman Fachturrahman Nur mengatakan mafia tanah merupakan kejahatan pertanahan yang melibatkan sekelompok orang yang saling bekerja sama untuk memiliki atau pun menguasai tanah milik orang lain secara tidak sah. 

"Para pelaku menggunakan cara-cara yang melanggar hukum yang dilakukan secara terencana, rapi, dan sistematis," ujar Turiman saat menyampaikan prolog Seminar Hukum Pertanahan "Mafia Tanah Memicu Konflik Sosial" di Hotel Kartika Kota Pontianak, Kalbar, Rabu (29/6/2022) siang. 

Seminar Pertanahan merupakan rangkaian acara dari Pelantikan DPC LAKI Kota Pontianak. 

Menurut Turiman, pemilikan dan penguasaan tanah secara tidak sah tersebut seringkali memicu terjadinya konflik atau sengketa yang acapkali menimbulkan korban nyawa manusia. 

Lemahnya pengawasan, penegakan hukum, dan kurang adanya transparansi merupakan beberapa penyebab terjadinya mafia tanah. 

Selain itu, sifat abai masyarakat atas tanah yang dimilikinya juga sering dimanfaatkan oleh mafia tanah untuk menguasai tanahnya secara tidak sah. 

"Ironisnya, korban terkadang tidak tahu sertifikat tanahnya telah berbalik nama karena tidak mengeceknya ke Badan Pertanahan Nasional (BPN)," ungkap Turiman. 

Adapun beberapa modus operandi atau teknik cara-cara beroperasi yang digunakan oleh pelaku mafia tanah dalam melakukan kejahatannya antara lain melakukan pemalsuan dokumen, pendudukan ilegal atau tanpa hak (wilde occupatie), mencari legalitas di pengadilan, rekayasa perkara, kolusi dengan oknum aparat untuk mendapatkan legalitas, kejahatan korporasi seperti penggelapan dan penipuan, pemalsuan kuasa pengurusan hak atas tanah, melakukan jual beli tanah yang dilakukan seolah-olah secara formal, dan hilangnya warkah tanah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar