Perjuangan Petani PIR Trans Ketapang Dapatkan Sertifikat

Perjuangan Petani PIR Trans Ketapang Dapatkan Sertifikat

KBRN, Pontianak: Sudah sepuluh hari Supirman berada di Kota Pontianak. Ia merupakan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR Indonesia Kabupaten Ketapang, yang kini tengah mengurus sertifikat tanah milik petani plasma di Bank Mandiri. Jumlahnya 5 orang, warga Desa Kalimas, Kecamatan Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang.

Supirman menuturkan tahun 2000 silam, para petani melaksanakan kredit investasi kecil/KIK ke Bank Mandiri setelah ada penilaian dari instansi terkait. Setoran KIK dipotong 30 persen dari hasil panen tandan buah segar/tbs setiap petani per bulan melalui PT. Benua Indah Group/BIG.

Tahun 2007-2008, berdasarkan slip penyetoran tbs ke PT. BIG, seluruh petani dinyatakan telah melunasi KIK. Namun, ketika dikonfirmasi ke Bank Mandiri di Jl. Sidas Kota Pontianak, ternyata sebagian besar cicilan petani tidak disetorkan PT. BIG ke Bank Mandiri.

Karena para petani tidak mempunyai bukti pelunasan ke Bank Mandiri, sertifikat yang menjadi jaminan tidak bisa diambil. Kecuali mereka yang sudah melunasi.

“Artinya para petani harus membayar kembali setoran mereka,” ungkap Supirman di Pontianak, Sabtu (28/5/2022) pagi.

Terdesak dengan tuntutan peremajaan tanaman kelapa sawit yang rata-rata sudah berusia di atas 25 tahun, para petani akhirnya mengambil sertifikat di Bank Mandiri dengan melunasi KIK yang sebenarnya dulu telah disetorkan kepada PT. BIG.

Para petani memerlukan sertifikat asli untuk memenuhi persyaratan badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit/BPDPKS.

“Mau tak mau harus bayar kembali,” ujar Supirman.

Sebagian kecil petani ada yang sudah melunasi KIK, dan telah memperoleh sertifikat dari Bank Mandiri. Sebagian masih dalam tahap pelunasan.

Para petani PIR Trans di Kabupaten Ketapang dulunya di bawah naungan PT. BIG. Mereka tersebar di 25 desa di enam Kecamatan, yaitu Tumbang Titi, Sungai Melayu Rayak, Kendawangan, Singkup, Pemahan dan Nanga Tayap.

Penempatan transmigran pertama tahun 1992. Sedangkan penempatan terakhir tahun 1996. Transmigran berasal dari DKI Jakarta, NTT, NTB, Jatim, Jateng, DI Yogyakarta, dan Jabar. Selain itu terdapat transmigran lokal melalui alokasi penempatan penduduk daerah transmigrasi/APPDT (20 % dari warga setempat).

Supirman sendiri berasal dari Jabar, yang masuk tahun 1994 di Desa Pemuatan Jaya, Kecamatan Tumbang Titi.

Jumlah petani dalam PIR Trans sebanyak 18.746 KK. Setiap petani memiliki lahan 2 ha untuk plasma dan 0,5 ha untuk perkarangan rumah.

Tahun 2008 PT. BIG tak lagi beroperasi. Asset PT. BIG disita oleh Bank Mandiri. Kemudian asset PT. BIG dilelang oleh KPKNL. Pasca pelelangan para petani mengurus langsung sertifikat mereka ke Bank Mandiri.

“Beberapa diantaranya diurus oleh Kepala Desa,” tutup Supirman. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar