PETI Cemari Sungai Sekadau, Dewan Kalbar Lapor ke Polda

KBRN, Pontianak: Anggota DPRD Kalimantan Barat Martinus Sudarno mendatangi Ditreskrimsus Polda Kalimantan Barat, pada Rabu (4/8/2021) pagi. Kedatangan legislator PDI-P ini untuk melaporkan tindak pidana pencemaran sungai Sekadau akibat maraknya penambangan emas tanpa ijin (PETI). Selain menindaklanjuti laporan dari masyarakat, laporan ke Polda juga hasil pengamatan langsung ke lokasi.

"Ada beberapa pihak yang Saya laporkan di sini, yang pertama adalah para pelaku penambangan emas tanpa ijin, kemudian pemilik modal untuk kegiatan PETI, kemudian penadah hasil kegiatan PETI tersebut, dan oknum pejabat daerah atau aparat penegak hukum yang melindungi kegiatan PETI di daerah Sekadau," ungkap Sudarno kepada awak media usai membuat laporan.

Sudarno tiba pukul 09.10 WIB di Ditreskrimsus, kemudian menuju ruang Subdit 4 Tipidter di lt III. Sementara petugas yang menerima laporan yaitu PA Piket Siaga Ditreskrimsus Iptu Ecep Maman. Dalam laporannya, Sudarno juga melampirkan bukti-bukti berupa foto air sungai Sekadau yang tercemar yang didokumentasikan di beberapa titik pada bulan Juli 2021.

Saat ini, kata Sudarno, air sungai yang tercemar merkuri tak lagi dapat dipergunakan oleh warga yang tinggal di bantaran sungai untuk mandi, mencuci dan budidaya ikan keramba. Ribuan warga yang terdampak berada di empat kecamatan, yaitu: Nanga Taman, Nanga Mahap, Sekadau Hulu dan Sekadau Hilir.

“Maka Saya mendesak pihak Polda Kalimantan Barat untuk bertindak cepat melakukan penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku PETI. Apa pun alasannya, kejahatan terhadap lingkungan sama juga dengan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegas Sudarno, seraya menyebutkan hal serupa juga terjadi di daerah-daerah lain di Kalimantan Barat.  

“Saya berharap bahwa kejadian ini menjadi entry point bagi Polda Kalbar untuk melakukan tindakan serupa terhadap pelaku-pelaku PETI di daerah-daerah lain,” tambahnya.

Terkait oknum pejabat daerah/ aparat penegak hukum yang terlibat, Sudarno menyatakan sudah menjadi rahasia umum di Sekadau. “Cuman Saya tidak akan menyebut nama orang itu di sini, Saya serahkan pada penyidik untuk melakukan penyidikan, siapa-siapa yang terlibat, siapa pelaku lapangan, dan penyidik pasti akan menemukan orangnya,” lanjut Sudarno.     

Kegiatan penambangan emas ilegal di sungai Sekadau sebenarnya sempat terhenti, namun kembali marak belakangan ini. Informasi yang diperoleh Sudarno, warga terpaksa menjadi penambang lantaran tidak punya pekerjaan akibat pandemi Covid-19 yang melanda. Bagi Sudarno, itu bukan alasan.

“Ada lebih dari dua ratus ribu penduduk Sekadau yang tidak mengerjakan PETI ini, buktinya mereka masih bisa makan, masih ada pekerjaan yang lain. Artinya masih ada pilihan-pilhan lain yang bisa dilakukan tanpa harus melakukan PETI,” paparnya.

Kegiatan PETI di Sekadau telah berlangsung cukup lama dan tidak dapat diatasi oleh Polres setempat. Ketika ada penertiban, malah menimbulkan aksi demonstrasi dari sekelompok warga yang berakhir dengan pengrusakan Kantor Camat Nanga Mahap. Anehnya, belum ada satu pun pelaku yang ditangkap dan diproses hukum.

“Saya mohon itu disidik dan ditindaklanjuti siapa otak dibalik itu semua,” pinta Sudarno. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00