Teken MoU, Pemkab Kubu Raya dan KTNA Bantu Ekonomi Petani Melalui Program Beras Lokal

KBRN, Kubu Raya : Pemerintah Kabupaten Kubu Raya Kalimanatan Barat (Kalbar) terus menggalakkan dan mesukseskan serta mengembalikan kejayaan program beras lokal yang sempat terhenti selama 5 tahun (2014-2019) sebagai pendukung untuk memperkuat kemandirian pangan.

Program Beras Lokal Kubu Raya sempat mengalami kejayaan pada tahun 2009-2013. Pada masa itu, petani sangat antusias dan bersemangat untuk menggarap lahan pertanian mereka dan petani juga dibuat bangga dan merasa dihargai hasil kerja mereka dengan berbagai terobosan dan inovasi serta gagasan Bupati Kubu Raya pertama H. Muda Mahendrawan, SH. Bahkan saat ini produk beras lokal Kubu Raya sudah bisa didapatkan di galeri Dekranasda Kubu Raya yang berada tepat di pintu masuk utama Kantor Bupati. 

Untuk mengembalikan kejayaan beras lokal dan mensejahterakan masyarakat petani, Pemerintah Kubu Raya jalin kerjasama (MoU) dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sebagai upaya menciptakan pasar sistemik. Yakni pasar bagi beras lokal petani Kubu Raya dengan melibatkan para Aparatur Sipil Negara Kabupaten Kubu Raya.

Sekretaris KTNA Kubu Raya M. Nurdiansyah mengatakan, dengan adanya MoU ini pihaknya sudah mempersiapkan produk-produk yang ditawarkan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Pihaknya juga terus berusaha menjaga kualitas beras lokal yang telah disiapkan ini merupakan beras yang medium.

“Dengan diluncurkannya kembali program beras lokal Kubu Raya, tentunya bagi petani bukan program yang baru. Karena memang sejak Pak Muda Mahendrawan menjabat Bupati Kubu Raya pertama (2009-2014) sudah mencanangkan program beras lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan program sebenarnya sudah di tunggu-tunggu petani kita dan petani saat ini sudah sangat bergairah untuk kembali bercocok tanam”, ungkap Sekretaris KTNA Kubu Raya M. Nurdiansyah di Sungai Raya, Senin (3/8/2020).

Pria yang akrab di sapa Mukhlis ini menuturkan, selain dibeli ASN Kubu Raya, saat ini sejumlah perusahaan swasta dan BUMN sudah menghubungi pihaknya untuk memesan beras lokal. Meski demikian pihaknya akan lebih mengutamakan OPD-OPD dan akan menjalin kerjasama dengan pihak swasta. Memang diakuinya, sebelum dilakukan MoU dengan Pemkab Kubu Raya yang dilakukan pada hari Rabu (29/7/2020), program beras lokal ini sudah berjalan beberapa bulan yang lalu.

“Dengan terjalinnya kerjasama dengan Pemkab Kubu Raya, secara tidak langsung kita juga membantu masyarakat petani dengan membeli beras lokal. Adanya pasarnya sudah jelas, membuat petani tidak lagi ragu untuk memperluas areal tanam padi mereka”, tuturnya.

Mukhlis menambahkan, dalam pemasarannya, pihaknya juga telah menyiapkan berbagai ukuran beras lokal, mulai dari 5 kg, 10 kg dan 20 kg. Sejak diluncurkannya program beras lokal pada tahun 2009 lalu, sudah terjual 76 ton beras melalui pemesanan dari masyarakat sejumlah SKPD di lingkungan Pemkab Kubu Raya. Pihaknya juga optimis kalau beras lokal Kubu Raya ini akan sukses dipasaran dan mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat petani.

“Alhamdulillah, sampai saat ini beras lokal Kubu Raya sudah memiliki 5 merek diantaranya, Pisang Berangan, Mekar Wangi, Anggrek Macan, Pinang Muda dan Langsat Mas”, pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Kubu Raya Yusran Anizam mengatakan, kerja sama pemerintah daerah melalui semua Satuan Kerja Perangkat Daerah membuat perjanjian kerja sama dengan KTNA ini sudah sesuai dengan misi bupati untuk menciptakan pasar sistemik bagi beras lokal. Utamanya dari berbagai merek yang dikoordinir oleh KTNA. Dengan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dari tiap SKPD, diharapkan permasalahan pasar bagi beras lokal Kubu Raya dapat diatasi. Ia menuturkan jumlah Aparatur Sipil Negara Kabupaten Kubu Raya cukup banyak. Sehingga menjadi potensi pasar yang besar bagi beras lokal Kubu Raya.

“Karena kalau kita lihat dari jumlah ASN sendiri di Kubu Raya cukup besar. Ada sekitar lima ribuan ASN. Nah, kalau masing-masing misalnya per bulannya sepuluh kilogram saja membeli beras lokal, berarti ada sekitar 50 ton setiap bulan bisa menjadi market bagi beras lokal kita,” ucapnya. 

Dia menjelaskan, kalkulasi itu menjadi misi bupati yang bersama seluruh ASN berusaha memberikan solusi terkait permasalahan pasar dalam pengembangan produksi beras lokal. Hal itu demi membantu meningkatkan kesejahteraan para petani.  

“Sesuai nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama, nanti setiap SKPD menginventarisasi ASN yang akan membeli beras lokal. Ini sebagai bentuk dukungan untuk pengembangan produk beras lokal kita. Kemudian dari daftar tersebut berapa jumlahnya akan disampaikan ke KTNA. Selanjutnya KTNA akan mendistribusikan pesanan itu ke SKPD masing-masing,” jelasnya. 

Terkait pasar sistemik tersebut, Yusran memastikan pembelian beras lokal oleh ASN tidak bersifat wajib atau mengikat. Namun dirinya optimistis para ASN punya kepedulian yang tinggi terhadap nasib para petani Kubu Raya. Sebab dukungan ASN tidak saja berkaitan dengan pengembangan produksi beras lokal, tapi juga demi mengangkat kesejahteraan para petani. 

“Dengan asumsi sepuluh kilogram per bulan, nominal uangnya Insya Allah masih memungkinkan bagi ASN untuk berkontribusi. Apalagi di masa pandemi ini sudah terbukti bahwa seluruh ASN kita juga bisa bersama-sama memberikan donasi dari tunjangannya untuk membantu menangani berbagai dampak dari pandemi di masyarakat,” ucapnya. 

Yusran menyatakan pasar sistemik menyasar kepada para ASN. Tidak kepada non-ASN atau tenaga honorer. Sebab tenaga honorer tidak mendapatkan tunjangan.

“Mereka hanya punya honor. Jadi memang belum kita sasar ke sana. Ini khusus untuk ASN yang punya tunjangan, kita mengimbau dan mendorong untuk berkontribusi membantu ini,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan menegaskan, sektor pertanian akan lebih diperkuat lagi dan diusahakan agar mewujudkan daerah ini memiliki kemandirian pangan yang berbasiskan desa-desa. Upaya untuk memperkuat kemandirian pangan, Pemkab Kubu Raya saat ini juga sudah melakukan pemetaan pertanian pangan, holtikultura maupun hasil perkebunan, pertenakan, perikanan dan juga hasil laut lainnya melaui memanfaatkan potensi yang ada dengan maksimal.

“Kita tentunya harus berusaha bagimana semua bisa bergerak, agar masyarakat bisa bekerja dan tidak banyak pengangguran. Untuk itu, tentunya kita selalu berfikir bagaimana kita menggerakkan basis utama kita. Jelas, Kubu Raya tidak bisa keluar dari basis utama kita, yaitu pertanian dalam arti luas. Karena pertanian merupakan mata pencarian, kegiatan, pekerjaan dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan pokok”, tuturnya.

Orang nomor satu di Kubu Raya itu menjelaskan, dalam menjalankan program beras lokal Kubu Raya ini, Pemerintah Daerah melibatkan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) nya sebagai leadernya dan peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat pertanian dalam mewujudkan sistem pertanian yang berorientasi agribisnis, yang dilakukan melalui paket-paket teknologi spesifik lokasi atau kearifan lokal.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00