Kripik Pedas Mak Ros Pontianak Mampu Bertahan Selama Pandemi Covid-19

KBRN, Pontianak : Pandemi Covid-19 pada awalnya memang berdampak pada berbagai sendi kehidupan, termasuk para pelaku UMKM, baik yang skala kecil maupun skala besar. Sebut saja usaha Kripik Pedas Mak Ros yang tidak asing lagi di Kota Pontianak, juga sempat terdampak  pandemi meski dapat bertahan hingga sekarang. Kripik Pedas Mak Ros Pontianak yang omzetnya mencapai ratusan juta ini patut menjadi pelopor, sekaligus motivator para pelaku usaha, khsusunya UMKM agar tidak patah semangat dan justru memunculkan inovasi dan kreativitas untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan usahanya. Manager Kripik Mak Ros, Iskandar, SE saat dialog Interaktif Lintas Pagi di RRI Pontianak, Selasa (24/5/2022) membenarkan bahwa usaha Kripiknya masih bertahan hingga sekarang yang dibuktikan dengan eksisnya para karyawan, Kosumen, Keluarga Mak di lapangan masih bisa menikmati lezatnya Kripik Mak Ros.

“Memang pada masa Pandemi Covid-19 dan saat pertama kali kami mendapatkan surat Wali Kota sebagai Penguasa Wilayah Kota Pontianak, berkedaan Regulasi Kebijakan berkenaan dengan Covid-19, memang kami agak berontak karena namanya UMKM yang hanya memperbolehkan layanan bungkus yang merupakan malapetaka bagi kami yang bermain di Direct Stelling , karena di situ adalah pundi-pundi pemasaran kami di caffe, warung kopi, rumah maka, yang ternyata semua masuk dalam list kami dan masuk dalam kebijakan pemerintah untuk bungkus,”jelas Iskandar.

Tetapi seriring kebijakan tersebut dapat disiasati dengan mengambil sisi lainnya, dan ternyata baik pada saat PSPB – PPKM level 4 di Kota Pontianak saat itu, usahanya punya strategi dan solusi, walaupun penjual tidak pada posisi normal tapi masih bisa bertahan dengan strategi yang dimiliki. Lebih lanjut Iskandar menjelaskan, setelah Covid-19 melandai sebenarnya sebelum lebaran itu kami berharap betul bahwa posisi melandai  kita dapat benturan satu minggu puasa di Pontianak, karena orang sudah kumpul kembali di caffe, rumah makan dan lain sebagainya, sehingg kami berharap masanya kita panen dan masanya kita bisa kembali memperjualbelikan di 20-25 ribu bungkus per bulan.

“Ternyata justru kami merasakan benturan yang sangat berat jika pemerintah mencabut harha eceran tertinggi minyak goreng, karena di tiga minggu pertama di usahanya memang masih ada stok dan masih bisa bertahan, tetapi secara analisis keuangan tentu menghitungnya tidak untuk 3 minggu kedepan tetapi sudah berfikir saat ini, bahwa owner sudah perintahkan kita untuk menghitung  HPP kembali terhadap kenaikan, karena kenaikan minyak goreng ini berdampak kenaikan yang lainnya yang ikut bergerak,”terangnya.

Iskandar kembali menjelaskan, setelah kenaikan minyak goreng pemerintah menaikkan lagi  PPN 100%, memang kadang secara hanya  melihat 1% nya tetapi dampaknya sangat berat. Kadang-kadang pengusaha juga dengan kenaikan 1% dia naikkan lebih dari pada itu dan mulailah beranjak naik bahan baku-bahan baku yang lainnya, sehingga itu benturan berat bagi kami UMKM.

Secara ekonomi solusinya menaikkan nilai jual dan perbaiki packaging, akan tetapi bagi UMKM  seperti Keripik Mak Ros yang sudah posisi naik kelas, itu problemnyakan beda.

“Kita sudah biacara melakukan analisis tethadap harga pokok  dan berapa sheer keuntungan serta berapa operasional Cost terhadap kenaikan, termasuk hitungan listrik, air semuanya,”ujarnya.

Itu memang bagi kami yang berat, tetapi alkhamdulilah sampai hari ini bertahan, walaupun tidak tahu sampai kapan, karena regulasi-regulasi yang dikeluarkan pemerintah menurut kami sedikit kritik agak binggung, karena pemerintah di satu sisi mengatakan bahwa UMKM adalah salah satu penyumbang PDB terbesar di negeri ini  tetapi suatu saat pemerintah mengeluarkan suatu regulasi yang memukul telak kami pelaku UMKM, dimana kami  secara tidak langsung dibenturkan pada pemain-pemain besar di dunia kuliner tentunya.

“Ini sangat berat bagi kami UMKM, tetapi kalau kami menaikkan nilai jual banyak pertimbangan yang harus kami lakukan, sebagai UMKM yang naik kelas dengan produksi puluhan ribu per bulan tentu packaging yang stainless food tidak boleh kami lakukan, karena berat dengan nilai jual yang belum berubah, itu pasti HPP-nya sangat besar, termasuk daya beli yang pasti menurun,”tuturnya.

Jadi banyak factor yang dihadapi, tetapi alkhamdulilah bisa bertahan sampai hari ini  baik kantor kita yang ada di Pontianak, Singkawang maupun kantor yang ada di Ketapang, kami tetap open Locker bagi siapapun yang ingin bekerja kami persilahkan, ilmunya kami yang kembangkan dan yang penting bisa baca dan betul-betul ada kemauan untuk bekerja, dan kami juga ingin membantu pemerintah daerah dalam hal serapan penanggulangan pengangguran dan lain sebaginya, kita siap, bahkan di Kripik Mak Ros hari ini ada 25 orang yang datang ke kantor, kita terima untuk tetap bekerja.

Tentunya dengan segala keterbatasan jawabannya kolaborasi dari semua sector, bagaimana kita hadapi, mungkin kebijakan-kebijakan besar yang berdampa pada kita, dan mungkin kita tidak mampu kekuatan untuk merubahnya, bersuara mungkin iya tetapi bersuara yang garang di sosial media juga tidak berani.

“Saat melandainya Pandemi Covid-19 dan kami membuka di dua cabang Ketapang dan Singkawang, memang saat itu pada posisi perdaya dirinya  dengan produk yang dimiliki banyak dikenal masyarakat, dan demand, kami sudah sangat tinggi terhadap produk kami, sehingga itu modal besar besar bagi kami,”tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar