Ayo Genjot Ekspor Kratom

KBRN, Pontianak: Potensi kratom sebagai komoditas unggulan di Kalimantan Barat kian terbuka, menyusul ekspor perdana tepung kratom ke negeri Belanda September lalu. Terkait azas legalitas, sepanjang tidak ada aturan atau hukum positif yang melarang, maka sudah selayaknya pemerintah provinsi dan pengusaha menggenjot ekspor komoditas tersebut.

“Karena fakta di negara empat musim, tidak tumbuh kratom ini dan mereka membutuhkan kratom ini,” ujar Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai, Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat Agung Saptono dalam Dialog Interaktif di RRI Pontianak, pada Kamis (21/10/2021) pagi.

Kandungan protein dalam kratom juga tinggi, lanjut Agung. Sehingga bukan hanya dikonsumsi oleh manusia, tapi juga menjadi pakan ternak. Terkait efek negatif yang terkandung dalam daun kratom, hal itu bukan masalah, karena tepung kratom justru diekpsor ke luar negeri.

“Secara fungsi tidak menyalahi ketentuan yang ada di dalam negeri. Nah, ini lah sebetulnya potensi-potensi yang ada di belakang tumbuhan, kearifan lokal dari Kalimantan Barat ini yang tidak di dunia lain,” terang Agung.  

Secara ekonomis, kata Agung, kratom tergolong luar biasa. Dari data Bea Cukai, pada semester pertama tahun 2021 nilai ekspor kratom hampir setengah trilyun rupiah. Jauh di atas dari komoditas-komoditas lain di Kalimantan Barat. Padahal bisnis kratom sendiri saat ini boleh dikatakan masih abu-abu sehingga masih menimbulkan keragu-raguan dari sebagian kalangan pengusaha atau eksportir.   

“Ironisnya data yang kami dapatkan secara nasional, ekspornya itu selama ini kucing-kucingan, tidak lewat Kalimantan Barat, sehingga tidak tercatat secara dokumen. Jadi ekspornya di luar Kalimantan Barat, padahal dominannya asalnya dari Kalimantan Barat,” papar Agung.

Kemudian Agung menegaskan bahwa Direktorat Jendral Bea dan Cukai mendorong ekspor tepung kratom ke luar negeri langsung dari Kalimantan Barat, bukan transit dulu ke daerah lain. Apalagi dalam kondisi di tengah pandemi Covid-19, negara juga membutuhkan pemasukan atau devisa. Begitu pula masyarakat, juga akan sangat terbantu dengan usaha kratom.

“Bea Cukai melihat dari sisi legalitas, sepanjang tidak dilarang kita dorong maksimal,” pungkas Agung.     

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00