Balai Karantina Kelas I Pontianak Dorong Akselerasi Capaian Gratieks Sarang Burung Walet Kalbar

KBRN, Pontianak: Tidak dipungkiri Komoditas Pertanian di Kalbar memiliki potensi yang cukup besar. Dimana tercatat kurang lebih terdapat 40 jenis komoditas pertanian. Salah satunya di sektor perkebunan, baik komoditas sawit dan turunannya, kelapa bulat, kelapa parut kering, santan dan lainnya. Sedangkan di sektor holtikultura, Durian Kalbar, juga cukup banyak banyak di ekspor ke negara China, selain itu ada tanaman hias, lada, dan buah pinang.

Tidak hanya itu, sub sektor peternakan di Kalbar seperti komoditas Sarang Burung Walet (SBW), diharapkan dapat mendulang lebih banyak eskpor ke negara tujuan ekspor.

Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Karantina Kelas 1 Pontianak Amri Hasanuddin pada Bimbingan Teknis Akselerasi Ekspor Sarang Burung Walet (SBW) dalam rangka pencapaian Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) di Kalbar bersama Petani Milenial dan Calon Eksportir Milenial di Qubu Resort.

“Terkait dengan ekspor tersebut, yang menjadi perhatian dan selalu didengungkan yakni bagaimana menjaga, kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Maka dari itu, upaya yang dilakukan terhadap apapun jenis komoditas ekspor Kalbar agar memenuhi kriteria yang dipersyaratkan, adalah diperlukan pembinaan dari hulu ke hilir. Namun, dalam konteks saat ini Sarang Burung Walet menjadi focus utama dan tren peningkatan ekspor ke luar negeri,” ujarnya Jum’at (17/09/2021).

Amri menambahkan, Kalbar patut berbangga komoditas Sarang Burung Walet termasuk yang terbaik di Indonesia. Kendati ekspor Kalbar untuk sektor komoditi ini masih terbatas, dimana untuk tahun 2021 mencapai 252, 3 Kilogram yang di ekspor oleh PT. Faicheung Birdnest Industry ke Negara China. Sedangkan, untuk total produksi tahuin 2021 mencapai 5.160 Kilogram.

“Oleh karena itu, mari kita garap bersama dengan kami mengundang narasumber, apa yang harus kita lakukan. Ada dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, KSDA Kalbar, dan Kapus Karantina Hewan dan Keamanan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Wisnu Wasesa Putra mengatakan, berangkat dari loncing pelepasan ekspor di 17 pintu ekspor di seluruh Indonesia oleh Presiden Joko Widodo 14 Agustus 2021 lalu, menjadi peluang bagi pihak eksportir untuk meningkatkan komoditi ekspor kedepannya. Ditargetkan ekspor Indonesia di tahun 2021 sebesar Rp525 Triliun. Sedangkan, tahun 2022 ditargetkan mencapai Rp707 Triliun.

“Dan tentunya di tahun 2022 kita punya target yang lebih besar sebanyak 707 Triliun rupiah,”tukasnya.

Lebih lanjut, Wisnu mengutarakan, Kalbar di anugerahi alam yang luar biasa, dimana beberapa komoditas seperti, sawit, pinang, lada dan lainnya bisa berkembang dengan baik. Termasuk dengan Sarang Burung Walet yang diakui terbaik di Indonesia, pasti didukung dengan kondisi ekosistem dan alam yang sangat baik. Bukan tidak mungkin setiap tahunnya, Indonesia bisa mengekspor SBW mencapai 1.250 Ton.

“Kendati, bisa menguasai 70 persen pangsa China, namun untuk ekspor baru dilakukan sebanyak 23 perusahaan,” tuntasnya.

Dalam Bimtek Akselerasi Capaian Gratieks Ekspor SBW tersebut selain menghadirkan narasumber dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Propinsi Kalbar M. Munsif, juga mengundang Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan terkait Dukungan Komisi IV DPR RI dalam peningkatan Ekspor Sarang Burung Walet di Kalimantan Barat, seta pemaparan materi Kebijakan Badan Karantina Pertanian dalam pencapaian Gratieks Ekspor Komoditas Sarang Burung Walet oleh Kepala Pusat Karantina HEwan & Keamanan Hayati Hewani drh. Wisnu Wasesa Putra, M.P.

Materi "Kebijakan KSDAE dalam pengawasan dan peredaran Sarang Burung Walet di Kalimantan Barat" oleh Kepala BKSDA Kalimantan Barat Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., M .T, dan Materi "Persyaratan teknis Registrasi Rumah Walet dan Tempat Pemrosesan Sarang Burung Walet" BKP Kelas 1 Pontianak drh. Devi Kusumaningrum, MH.

Kemudian di lanjutkan dengan sharing Pengalaman "Peluang dan Tantangan Ekspor Sarang Burung Walet Ke Tiongkok" oleh Eksportir Milenial Sarang Burung Walet Eddy Lyanto.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00