FOKUS: #TANGGAP BENCANA ALAM

Implementasikan ASAP Digital, Pemkab Kubu Raya Bersama 27 Perusahaan Prioritaskan Monitor di Bandara

KBRN, Pontianak : Pemerintah Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat (Kalbar) melalui Dinas Perkebunan bersama 27 perusahaan perkebunan komit dan sepakat mengimplementasi Aplikasi Sistem Analisa Pengendalian Karhutla secara Digital (ASAP Digital) Nasional bersama PT. Telkom untuk mendeteksi munculnya titik api, terutama area lahan perusahaan dan bandara.  

Menurut Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan, implementasi ASAP Digital Nasional ini sangat penting, karena kawasan bandara harus terus terpantau dari kebarakan hutan dan lahan (karhutla), sebab asap ini dari berbagai arah, sehingga pemda bersama PT. Telkom Witel Kalbar akan memantau dan mengakses melalui aplikasi yang sudah disatupadukan dari berbagai aplikasi lainnya.

“Sehingga dengan ASAP Digital Nasional ini akan sangat komprehensif dan sangat lengkap. Saya rasa apa yang telah diinisiasi bapak Kapolri beberapa waktu itu yang bekerjasama dengan Kementrian Dalam Negeri, LHK, Kementrian Pertanian dan dukungan-dukungan lain dari semua pihak termasuk juga Badan Restorasi Gambut (BRG) Saya kira ini merupakan komitmen bersama untuk kepentingan nasional”, kata Muda Mahendrawan usai membahas MoU ASAP Digital Nasional bersama perusahaan perkebunan dan PT. Telkom Witel Kalbar di ruang praja utama aula kantor bupati, Kamis (16/9/2021) pagi.

Bupati menyampaikan, pemberdayaan Asap Digital merupakan bagian dari upaya Kabupaten Kubu Raya mengoptimalkan pencegahan dan pengendalian karhutla yang berpotensi mengancam saat musim kemarau. Muda menilai, Asap Digital yang pusat komandonya di markas Daops Manggala Agni kecamatan Rasau Jaya, cukup efektif, terutama untuk langkah pencegahan. Melalui kecanggihan peralatan dan sistem yang digunakan, kemunculan asap dan titik api akan terpantau dan direspon secara dini oleh Tim Satgas untuk penanganannya.

“Dengan Aplikasi ASAP Digital Nasional ini kita bisa lebih tahu sedini mungkin ancaman kabut asap yang terjadi di bandara sehingga mengganggu jarak pandang dan tentunya aplikasi ini juga bisa prioritaskan asap dari mana yang perlu kita antisiapsi karena ASAP Digital Nasional merupakan aplikasi untuk mendeteksi titik api secara cepat dan sesuai waktu (real time) sehingga dapat mempercepat respon dalam penanganan kejadian karhutla.

i”, ujar bupati.

Bupati mencontohkan ada karhutla yang terjadi di beberapa titik di Kubu Raya, namun karena keberadaan bandara ada di Kubu Raya tentunya hal itu sangat menjadi perhatian. Ketika ada beberapa lokasi yang kebakaran, namun asap mana yang dianggap sangat pekat dan arah anginnya bisa langsung ditedeksi dengan aplikasi ASAP Digital Nasional.

“Jika ada wilayah terjadi karhutla, kita bisa menentukan titik mana yang harus diprioritaskan untuk dikepung cepat bersama-sama. Karena indikator utama kita kan di wilayah bandara yang sangat berdampak pada pergerakan ekonomi masyarakat dan bahkan menjadi perhatian dunia”, ucap bupati.

Menurut bupati, dengan diluncurkannya ASAP Digital Nasional menjadi satu diantara cara yang tepat dan efektif dalam mengantisipasi karhutla dari pada terlalu banyak aplikasi, karena cara melihat indikator yang tepat itulah yang digagas Polri dan pemerintah Kubu Raya langsung menggerakan dengan mengundang perusahaan dan pihak agar tidak salah persepsi dan salah narasi.

“Sehingga langsung kita komitmen, yang mana semua perusahaan di Kubu Raya sudah menandatangani MoU ASAP Digital Nasional dan ini sudah bisa langsung bekerja bersama Telkom, sehingga semua perusahaan menganggap aplikasi ini merupakan kebutuhan bersama. Makanya sistem pembayarannya ditanggung bersama, yang mana dari 27 perusahaan itu setiap perusahaannya harus membayar Rp.1,4 juta perbulannya”, jelas bupati.

Di tempat yang sama, Ditreskrimsus Polda Kalimantan Barat Kombes Pol Juda Nusa Putra mengharapkan kepada semua pihak untuk sama-sama mencegah jangan sampai di kawasan bandara Supadio ada asap yang mengganggu aktivitas bandara.

“Saya berharap ke 27 perusahaan yang ada di Kubu Raya ini sudah mewakili dan bisa memutuskan agar memiliki tanggung jawab bersama, karena jika perusahaan belum membayar aplikasi ini, tentunya ASAP Digital Nasional ini belum berfungsi dan tidak bisa digunakan 100 persen”, kata Kombes Pol Juda Nusa Putra.

Dia menjelaskan, ASAP Digital Nasional ini akan berfungsi 100 persen jika sudah ada kontraknya dan dirinya yakin setiap perusahaan sudah ada Coorporate Social Responsibility

(CSR) nya.

“Saya yakin kalau teman-teman perusahaan menjelaskan ke perusahaan lainnya bahwa tujuan ASAP Digital Nasional yang dipasang di markas Daops Manggala Agni Rasau Jaya itu untuk mencegah jangan sampai kalau ada asap bisa mengganggu penerbangan di bandara”, ujarnya.

Dirinya menyampaikan, Polda bersama Pemda Kubu Raya pada prinsipnya meminta bantuan dan dukungan kepada setiap perusahaan untuk memfungsikan ASAP Digital ini dengan membayar Rp.35 juta perbulan dan jika dibagu 27 maka setiap perusahaan hanya membayar Rp.1,4 juta untuk mengamankan wilayah bandara.

“Kondisi ini yang harus difahami setiap perusahaan, yang mana mulai sekarang juga teman-teman perusahaan sudah bisa langsung memutuskannya melalui MoU ini”, imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kubu Raya Elfizar Edrus menjelaskan, ASAP Digital ini pemantauan radiasinya berjarak antara 2 sampai 4 kilometer, dan aplikasi ini merupakan kerjasama Polri bersama PT. Telkom, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), Kementrian Pertanian (Kementan), Badan Restirasi Gambut (BRG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“ASAP Ditigal ini titiknya kita pasang di kawasan Rasau Jaya untuk memantau asap di wilayah bandara dan bagi perusahaan yang berada dikawasan bandara untuk ikut berpartisipasi. Namun berdasarkan hasil rapat bersama Polda, Polres LHK dan Disbun Kalbar mengisiasi keterlibatan semua perusahaan perkebunan yang berinvestasi di Kubu Raya untuk mendukung program ASAP Digital ini”, jelas Elfizar.

Dia menuturkan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melalui Dinas Perkebunan sangat mendukung dan pihaknya memfasilitasi perusahaan yang berinvestasi di daerah ini berpartisipasi semuanya.

“ASAP Digital ini kita fokuskan dikawasan dibandara, karena di bandara ini merupakan daerah yang sangat berpengaruh besar terhadap roda perekonomian warga dan ahmpir perusahaan yang ada di Kubu Raya ini mayoritas berlahan gambut, tentunya kondisi ini perlu kita tindaklanjuti bersama, jangan lahan gambut itu bisa menimbulkan asap yang dapat mengganggu aktivitas di bandara”, tutup Elfizar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Adi Yani, perwakilan Polres Kubu Raya serta perwakilan PT. Telkom Witel Kalbar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00