Pelabuhan Ekspor Dorong Komoditas Sawit Kalbar Berdaya Saing

KBRN, Pontianak : Ketersediaan Pelabuhan laut sebagai factor pendukung  industry sawit, bahkan  merupakan hal yang cukup menentukan, seperti tersedianya Pelabuhan ekspor  Kijing Kabupaten Mempawah yang sudah dimulai ujicoba operasionalnya. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Barat, Purwati  Munawir , Kamis (16/9/2021) mengharapkan keberadaan Pelabuhan ekspor ini  menjadikan komoditas sawit di Kalbar lebih berdaya saing.  Dengan demikian investasi di Industri sawit memiliki  karakteristik anatara lain berisaf jangka Panjang sekitar 30 tahun per 1 siklus atau berkelanjutan. Selaian itu memerlukan  modal yang cukup tersedianya teknologi dan inovatif, disamping memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak  atau padat kerja yang ramah lingkungan.

"Oleh karenanya industry sawit memerlukan kepastian  tersedianya dukung sumber daya alam, sumber daya manusia yang cukup, dukungan infrastruktur dan sarana produksi, kapasitas hukum serta regulasi dan pasar,"paparnya.

Faktor Internal dan eksternal merupakan kunci atau penentu  yang terakumulasi dalam proses  atau Kelola usaha industry  kelapa sawit  yang produktif, efisien dan  berdaya saing.

Menurutnya, faktor internal dan dukungan sarana serta prasarana yang tepat, baik tepat guna, tepat waktu  serta tepat tempatnya, juga perlu dukungan system informasi teknologi yang inovatif  dan dinamis. Sedangkan faktor eksternal beberapa diantara yang  cukup berperan  dan berpengaruh dalam proses  dalam tatakelola agroindustry kalapa sawit antara lain  sumber daya alam, lahan yang cukup tersedia dan  dengan status clean dan clear, juga secara teknis sesuai untuk budi daya kelapa sawit.

"Memang kita akui tingkat kesuburan lahan  di Kalbar   tergolong pada lahan yang kurang subur marginal, namun demikian secara teknis masih cukup sesuai di komodite kelapa sawit walaupun  tingkat produktifitas mitra hasil yang dicapai di bawah tingkat produktivitas sawit yang dihasilkan dari lahan di daerah Sumatera dan Jawa, dimana Kalbar  merupakan Kawasan yang  memiliki  sifat iklim relative basah yang cukup ideal untuk pertamanan kelapa sawit,"jelasnya.   Namun pada periode tertentu iklim Kalbar dapat terimbas  terhadap iklim global, sehingga tetap berpotensi  mengalami kekeringan, curah hujan di bawa rata-rata yang menyebabkan kehilangan produksi akibat Karhutla. Faktor ini sebensarnya perlu diantisipasi dengan baik walaupun saat ini tersedia teknologi Karhutla melalui hujan buatan. 

"Yang jelas kekeringan yang cukup lama bisa berpengaruh  atau terganggunya system  pembuahan pada tanaman sawit yang berakibat penurunan produksi pada tahun berikutnya,"pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00