180 Ribu Pekerja di Kalbar, Terdampak Pandemi Covid-19

KBRN, Pontianak : Sedikitnya 180 ribu pekerja di Kalimantan masih merasakan dampak negatif pandemi covid-19. Angka ini mengalami penurunan sekitar 50% jika dibandingkan dengan kondisi pada Agustus 2020 yang lalu.

“Penduduk usia kerja yang terdampak Covid- 19 pada Februari 2021 sebanyak 183,60 ribu orang, mengalami penurunan sebanyak 142,61 ribu orang atau sebesar 43,72 persen dibandingkan dengan Agustus 2020,” ungkap Kepala BPS Kalbar, Muh Wahyu Yulianto di Pontianak, Selasa (18/5/2021).

Data BPS mengklasifikasikan penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 menjadi empat komponen yaitu, pengangguran karena Covid-19; Bukan Angkatan Kerja (BAK) Karena Covid-19; Sementara Tidak Bekerja Karena Covid-19; dan  Penduduk Bekerja yang Mengalami Pengurangan Jam Kerja Karena Covid-19. Wahyu menyebut, komposisi penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 terdiri dari 26,84 ribu orang pengangguran karena Covid-19; 7,22 ribu orang BAK karena Covid-19; 7,44 ribu orang sementara tidak bekerja karena Covid-19; dan 142,09 ribu orang penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19.

“Keempat komponen tersebut mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2020. Penurunan terbesar adalah komponen penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 sebanyak 127,12 ribu orang,” jelasnya.

Namun dikatakan Wahyu, angka pengangguran di Kalbar pada Februari 2021 mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan Agustus 2020. Berdasarkan data BPS Kalbar, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 sebesar 5,73 persen atau turun sebesar 0,08 persen dibandingkan dengan Agustus 2020. Sementara penduduk usia kerja pada Februari 2021 sebanyak 3,82 juta orang, naik sebanyak 28,38 orang jika dibanding Agustus 2020.

Korwil Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Suherman mengatakan, saat ini imbas Covid-19 bagi ketenagakerjaan di Kalbar masih dirasakan.  Menurut Suhermanm, saat ini masih ada pekerja yang mengalami Pemutusan Hubungan kerja (PHK) hingga dirumahkan oleh perusahaan. Namun begitu, dampaknya kini tak sebesar tahun lalu, jumlah pekerja yang terdampak juga sudah mulai berkurang.

“Meski tidak separah tahun sebelumnya, kini masih ada karyawan yang di PHK dan dirumahkan, terutama di sektor jasa, ritel dan perhotelan”, pungkasnya. (RRI).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00