Harga Cabai di Pontianak Masih Bertahan 120 Ribu Per Kg

KBRN, Pontianak : Harga kebutuhan pokok masyarakat di kota Pontianak hingga  memasuki hari ke-5 Puasa Ramadan 1442 Hijeriyah tidak mengalami lonjakan harga dan masih normal. Jika ada beberapa yang mengalami kenaikan masih dalam batas wajar dan tidak sampai menjadi keluhan masyarakat. Untuk bawang putih Rp24.000,00, bawang merah Rp30.000,00, Wortel, Sawi putih Rp18.000,00,  Cabai Kering Rp65.000,00, Kol Rp9.000,00, Tomat Rp10.000,00, Sawi hijau Rp4.000,00, minyak Curah Rp14.000,00, gula Pasir Rp12.500,00 per kilo. Sedangkan Daging Sapi Rp130.000,00, daging ayam Rp28.000,00 dan telur ayam antara Rp1.500,00-2.000,00 per butir.

Harga kebutuhan pokok masyarakat di Pontianak masih stabil kecuali Cabai rawit yang masih bertahan antara Rp100.000,00-Rp120.000,00 per kg sejak jauh sebelum puasa.

“Asal mahal ibu-ibu yang nak belanja mekik, orang pasar nih beli mahal-mahal, tukang belanjanya kalau mahal mekik dia tak tahu barang mahal, ya mengundurkan diri tidak beli, biarpun barang mahal satu ons Rp10.000,00 tetap beli tiga ribu, sakit pedagang bukan lagi sekit lagi, hari-hari kadang busuknya yang dibuang, kadang tidak balek modal dan buang dhuwit kite’, keluh salah seorang pedagang Pasar Falamboyan Pontianak, Suleha kepada RRI, Sabtu (17/04/2021).

Suleha mengeluhkan masih bertahannya harga cabai ini, karena pembeli inginnya murah, sehingga kadang bisa beli tetapi tidak bisa menjual dan akhirnya banyak yang busuk. Mahalnya harga cabai ini terjadi karena tersendatnya pasokan dari Semarang Jawa Tengah.

Senada hal itu diungkapkan salah seorang pembeli dan juga pedagang, Ari mengeluhkan tingginya harga cabai ini karena sulit untuk menjualnya kembali ke pelanggannya di rumah.

“Harga cabai yang masih mahal, yang lain sih sudah stablil, akahirnya mau cari barang khususnya cabai  susah carinya dan susah jualnya, kita mau naikkan lagi susah mau bilang harga mahalpun kepada pembeli susah”, keluh Ari.

Ari mengaku mahalnya harga Cabai ini sulit untuk menjualnya dan mencari untung, sehingga hanya berani mengambil untung antara 2 ribu hingga 3 ribu per kilonya.

“Saya sangat mengharapkan pemerintah secepatnya intervensi dengan melakukan operasi pasar atau mendatangkan Cabai dari luar Kalbar”, pungkas Ari. (Hermanta).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00