Pemkot Pontianak Didorong Beli Mobil PCR Covid-19

1.jpg

Deskripsi Gallery

KBRN, Pontianak ; Lamanya estimasi waktu hasil pemeriksaan swab keluar kembali menjadi polemik di masyarakat lantaran Kota Pontianak telah memasuki gelombang kedua pandemi Covid-19 yang kasusnya kian hari kian meningkat. Bahkan uji swab yang dilakukan secara massif pun dinilai akan percuma saja jika hasil pemeriksaan laboratorium keluar terlalu lama karena hal ini akan menimbulkan keresahan dan menyebabkan dampak psikologis bagi masyarakat.

“Misalnya saja orang yang menderita penyakit bawaan (komorbid) meninggal dunia lebih dulu sebelum divonis oleh tim medis tentu akan diduga terkena Covid-19 padahal belum tentu fakta ini benar adanya.  Selain itu, lamanya waktu tunggu juga akan menghambat proses tracing yang dilakukan oleh Satgas Percepatan Penanganan Covid-19”, ucap Anggota Komisi IV DPRD Kota Pontianak, Mujiono, Senin (28/9).

Oleh sebab itu, ia mendorong Pemerintah Kota Pontianak membeli mobil Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan menggunakan dana APBD guna mempercepat rapid test dan uji swab kepada warga Kota Pontianak secara menyeluruh.

“Kita berharap Pemerintah Kota Pontianak membuat pengadaan mobil PCR. Kalo harganya kurang lebih satu milyar, kita ingin Pemkot bisa memiliki dua unit saja untuk membantu percepatan penanganan Covid-19”, ujarnya.

Menurut Mujiono mobil PCR ini bisa ditempatkan di Rumah Sakit Kota Pontianak agar masyarakat yang menjalani pemeriksaan swab disana dapat mengetahui hasil tes lebih cepat sehingga mereka tidak perlu menunggu lagi.

“Kita berharap Pemkot bisa segera menyediakan pengadaan mobil PCR sebagai upaya mempercepat penanganan Covid-19 khususnya dalam tes cepat dan swab bagi warga Kota Pontianak”, pungkasnya.

Pembatasan Aktivitas Malam Hari Dimulai

Sementara itu, upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak. Bahkan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono akan memberlakukan pembatasan aktivitas malam selama 14 hari untuk menekan penyebaran virus corona sesuai saran Satgas Percepatan Penanganan Covid-19.

Pembatasan aktivitas malam hari yang dimulai pada 28 September 2020 hingga dua pekan ke depan ini mengharuskan sejumlah warung kopi, kafe, restoran, tempat rekreasi serta pusat perbelanjaan tutup pada pukul 21.00 WIB.

“Ini pembatasan aktivitas malam, bukan pembatasan jam malam seperti sebelumnya, jadi belum sampai melakukan penutupan jalan karena kami berharap kegiatan perekonomian masyarakat masih berjalan tapi intinya mereka harus patuh menjalankan protokol kesehatan”, tegasnya.

Edi menilai pembatasan aktivitas malam hari dinilai lebih efektif untuk menekan lonjakan kasus Covid-19, karena sebelumnya kebijakan sejenis ini pernah diberlakukan Pemerintah Kota Pontianak pada bulan Mei lalu.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan dari 360 warung kopi hanya 19 diantaranya yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan.  Sementara itu, dari razia masker yang digelar sesuai Peraturan Wali Kota Nomor 58 Tahun 2020 denda yang didapat dari pelaku usaha dan warga yang melanggar protokol Covid-19 hampir mencapai 40 juta rupiah. (Ky)

Gallery Info

  •   Dibuat oleh : Hermanta
  •   Tanggal : 28 Sep 2020

Share this

FOTO LAINNYA

00:00:00 / 00:00:00