Dibalik Emas PON, Utang yang Menunggu Dibayar

KBRN, Padang: Mendapat emas pada Pekan Olahraga Nasional menjadi dambaan seluruh atlet yang berlaga. Tapi, namanya laga, ada kalah dan menang. Ada yang pulang dengan tangan hampa, dan ada yang naik podium dikalungi medali dan apresiasi karena telah mengharumkan nama daerah. Hal itu salahsatunya dirasakan Ari Pramanto, kontingen cabang olahraga kempo Sumatera Barat (Sumbar) peraih emas di nomor randori putra kelas 70 kilogram.

Ari mengaku bangga bisa mempersembahkan emas kedelapan bagi Sumbar pada PON XX di Bumi Cenderawasih.

“Tentu bangga ya. Ternyata upaya berlatih selama dua tahun belakangan memberikan hasil yang terbaik,” ungkapnya pada RRI.co.id melalui saluran telepon, Kamis (14/10/2021).

Berkat kemenangan itu, Ari pun akan diganjar bonus berupa uang dari Pemprov Sumbar. Secara spontan, Ia sudah menerima Rp8 juta yang diserahkan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah.

“Bonus spontan diberikan Gubernur Mahyeldi, tapi itu kan tidak untuk saya pribadi. Kita bagi dengan tim yang bersama-sama berjuang di sini,” ucapnya.

Selain bonus spontan, juga dijanjikan bonus Rp200 juta bagi peraih emas untuk Sumbar. Jumlah yang cukup besar. Namun Ari, yang tercatat sebagai pegawai kontrak pada Dinas Perhubungan Kota Sawahlunto memastikan, uang bonus itu tak akan bertahan lama di saku.

“Jumlahnya memang besar. Tapi kan orang di luar tidak tahu, kalau saya punya utang yang sudah menunggu untuk dibayar,” ungkapnya.

Pria kelahiran Mei 1988 ini menuturkan, utang itu berasal dari pinjaman untuk menafkahi istri dan dua orang anak selama cuti kerja guna menyiapkan diri menghadapi PON XX Papua. Ari dituntut fokus berlatih, sehingga harus cuti kerja, tapi tetap wajib menjadi tulang punggung keluarga untuk membeli susu bagi balitanya.

“Saya cuti untuk persiapan PON sebenarnya satu tahun. Tapi ternyata PON diundur, jadi cuti dua tahun. Selama itu saya kan tetap harus membiayai kehidupan keluarga. Susu untuk anak saja satu bulan Rp600 ribu. Kemana dicari kalau nggak ngutang. Memang selama persiapan PON kita juga dapat uang pembinaan dari KONI, saya menyebutnya gaji. Tapi sering terlambat pula. Berangkat ke Papua saja uang saku hanya Rp2,5 juta,” bebernya.

Melalui lika-liku yang dijalani sebagai kontingen PON Sumbar, sejak persiapan hingga berlaga di arena, Ari berharap, ke depan ada perbaikan dalam manajemen olahraga di Ranah Minang, khususnya terhadap KONI dalam memberikan perhatian pendanaan bagi atlet.

“Janganlah terlambat dalam memberikan dana pembinaan. Kasihan atlet, mereka juga butuh membiayai hidup selama pemusatan latihan. Sebenarnya bukan rahasia lagi, tapi permasalahan seperti itu terus saja berulang,” keluhnya.

Kondisi itu membuat Ari merasa lelah, dan berharap adanya regenerasi atlet untuk menghadapi PON periode selanjutnya, meski di cabang kempo sebenarnya tidak ada batas usia.

“Saya nggak tahu masih ikut lagi kejuaraan atau PON ke depan. Kalau sudah berkeluarga rasanya berat, apalagi jika pembiayaannya seperti yang sudah-sudah,” tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00