Lima Fakta Penyekapan Perawat-Bidan Dalam Angkot

Para Tersangka Penyekap Bidan dan Perawat Didalam Angkot di Depok (Doc Istimewa) .jpg

KBRN, Jakarta: Polres Metro Depok berhasil meringkus AS (45) dan WM (55), dua pria yang diduga pelaku penyekapan sekaligus perampokan terhadap seorang perawat dan bidan pada pekan lalu, Minggu (21/6/2020).

Kapolres Metro Depok, Kombes Azis Andriansyah menyebutkan, dua tersangka ditembak pada bagian kaki karena dianggap melawan petugas saat proses penangkapan .

"Mereka pelaku (yang melakukan kejahatan) karena cari makan," ujar Azis kepada wartawan pada Senin (29/6/2020). 

Kedua tersangka ini diketahui telah berkomplot dengan sopir angkot, saat insiden penyekapan terjadi. Pada saat kejadian sang sopir hanya berdiam saja dan memathui instruksi para tersangka.

Namun, hingga saat ini, sopir angkot berinisial KS masih dalam pencarian polisi, meski mobil angkot telah diamankan. 

"Sopir ini sehari-hari memang membawa angkutan tersebut. Kami imbau untuk menyerahkan diri menyusul kedua rekannya yang sudah kami tangkap," kata Azis. 

"Kami sempat tanya mereka beberapa kali tetapi tidak mengaku, tapi kami punya data bahwa mereka melakukan kejahatan di wilayah Bogor, tidak jauh dari lokasi kejadian yang ini, dengan modus yang hampir mirip, di angkot juga," ungkapnya.

Berbagai barang yang dirampok dari para korban seperti ponsel hingga perhiasan, belum terjual dan disita polisi. Namun, para perampok diketahui telah menguras uang di dalam dompet dan rekening bank kedua korban. 

Kedua tersangka terancam dijerat pasal berlapis karena diduga telah merencanakan kejahatan, yakni Pasal 55 dan 365 KUHP dengan ancaman kurungan maksimal 12 tahun penjara. 

Kasus ini bermula ketika seorang bidan berinisial SR dan rekannya perawat, RP disekap selama perjalanan pulang dari Cimanggis, Depok ke Citeureup, Bogor, Minggu (21/6/2020) lalu. 

SR mengaku, ia dan RP baru saja selesai dinas sore di salah 1 rumah sakit swasta didaerah Cimanggis. Ketika menumpang angkot menuju ke kediaman masing-masing, mereka mendadak disekap oleh dua pria tidak dikenal. Penyekapan ini berlangsung kurang lebih selama 4 jam.

Berikut Fakta-Faktanya :

1. Disekap Ketika Mau Turun Dari Angkot

Setelah perjalanan berlangsung beberapa waktu, Korban RP memberi isyarat kepada sang sopir untuk turun ditempat tujuan, namun sang sopir bergeming dan tetap melanjutkan perjalanan.

"Sopirnya tetap jalan dan pintunya dikunci. Kita langsung didorong, tengkurap di bawah. Tubuh saya terjepit di antara sound system mobil di belakang," ungkap SR. 

SR mengaku wajah mereka dihadapkan ke lantai mobil, dan tubuh mereka ditutup kain oleh 2 laki-laki tidak dikenal ini. Bahkan kaki para pelaku menindih punggung mereka hingga sesak.

"Saya waktu di tengah jalan sudah seperti tidak sadarkan diri. Lemas banget tertutup begitu," ujar SR.

2. Dilecehkan dan Diancam

Setelah disekap kedua korban menyadari bahwa dua pria tak dikenal tersebut merupakan perampok yang ingin merampas harta mereka.

Para korban sempat berupaya mempertahankan harta mereka, namun para perampok melancarkan ancaman dan mulai melakukan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

"Kalian sayang uang atau nyawa?" ancam para perampok yang menekankan gunting ke arah tubuh SR dan RP. 

"Katanya tidak akan dipulangkan sampai besok-besoknya pun enggak bakal disuruh keluar, katanya gitu," ujar SR. 

Meski mendapatkan ancaman, para korban masih bersikeras menolak untuk memberikan seluruh hartanya dan memberi tahu nomor PIN ATM yang diincar pelaku. Perampok itupun langsung melecehkan kedua perempuan secara seksual. 

"Kepada saya dia bilang, 'diam enggak!'. Kemudian perut saya ditekan dengan gunting," kata SR. 

"Akhirnya kita takut sampai diancam dengan bahasa tidak sopan, seperti akan diperkosa sampai dibunuh," ungkapnya.

3. Barang Berharga Diambil

Setelah mendapatkan ancaman dan pelecehan yang lebih keras, akhirnya para korban memilih merelakan barang berharga mereka diambil.

SR merelakan ponselnya dirampas, uang Rp 100.000, dan serta kalung dan anting yang ia kenakan. Sementara RP kehilangan ponsel, uang Rp 500.000 di dompet, serta saldo ATM sebesar Rp 2,8 juta. 

Namun, barang lain yang dibawa dalam tas para korban ini tidak diambil kabur.

4. Korban Merasa Perampok Memiliki Simpati

Selama proses penyekapan, SR merasa ada tingkah yang aneh dari para perampok tersebut.

"Mereka itu penjahat kok kayak ada sisi baiknya," jelas dia. 

"Pas saya bilang besok dinas pagi di rumah sakit, dia (perampok) malah bilang 'nanti kita antar sampai dekat rumah'," kata SR. 

"Jadi kayak masih ada negosiasi. Makanya kita mikir, ini tuh apa sih? Kami enggak ngerti." tuturnya. 

SR juga menyebut para perampok, bahkan sempat menceramahi para korban dengan nasihat berbau agama. 

"Saya kayak pengin tertawa saat bapaknya bilang, 'kalian itu makanya sholat, berdoa. Ini jadinya kalian yang kena'," kenang SR.

5. Diberikan Ongkos Pulang

Ketika para perampok hendak menurunkan korbannya di Jalan Mayor Oking dekat Pasar Cibinong pada pukul 02.00 dini hari, simpati para perampok justru bertambah. 

Barang-barang dalam tas SR dan RP yang sempat digeledah, kembali mereka masukkan ke dalam tas dan dipulangkan kepada para korban. 

"(Barang-barang di tas) tidak akan diambil, semuanya nanti saya balikin, kecuali uang dan barang-barang berharga itu," lanjut SR menirukan ungkapan perampok itu. 

"Di dompet itu, semua uang diambil, tapi kartu-kartunya dibalikin, Mas. Bahkan kartu ATM yang sempat dia gesek punya RP juga dibalikin lagi," kata dia seperti tak percaya. 

Tak hanya disitu, para perampok bahkan menyisakan uang sebesar Rp 150.000 dari duit yang mereka rampas sebagai bekal ongkos pulang kedua korban.

"Kebetulan kaki saya kan ada di kolong bangkunya, terus saya mau bangun kan susah. Terus, perampoknya malah tanya, 'bisa enggak? Sandalnya mana?" sebutnya.

Para perampok itu malah yang merunduk dan merangkak mencari sandal bidan dan perawat ini dibawah kolong jok. 

"Ini, pakai, duduk yang rapi," ungkap SR menirukan adegan para perampok menyodorkan alas kaki kepada mereka yang kehabisan tenaga.

"Pas kita turun, dia langsung suruh kita jalan ke depan. Betul-betul disuruh jalan ke depan, karena di depan itu jalan raya," ujar SR.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00