Penyiram Novel Baswedan Divonis Bersalah, Ini Hukumannya

Suasana sidang putusan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang disiarkan secara
Oknum polisi Rahmat Kadir Mahulette selaku terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan. (Dok.Ist)

KBRN, Jakarta: Oknum polisi selaku terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan, yakni Rahmat Kadir Mahulette divonis bersalah. Berdasarkan amar putusan dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rahmat mendapat hukuman dua tahun penjara.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Rahmat Kadir dengan pidana penjara selama dua tahun. Menetapkan masa penetapan terdakwa dikurangi dari pidana yang dijatuhkan," kata Ketua Majelis Hakim Djuyamto di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (25/6/2020) malam. 

Rahmat terbukti bersalah karena melanggar Pasal Subsider 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, subsider Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Vonis ini lebih tinggi dari tuntutan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) karena menuntut satu tahun penjara.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua terdakwa dalam kasus ini, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir didakwa melakukan penyaniayaan berat terencana terhadap Novel dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. 

Ronny dan Rahmat disebut sebagai polisi aktif itu melakukan aksinya lantaran rasa benci terhadap Novel lantaran dianggap mengkhianati institusi Polri. 

Dalam dakwaan tersebut, mereka dijerat Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Subsider Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Lebih Subsider Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Novel disiram air keras, pada 11 April 2017 lalu. Saat itu, Novel baru saja selesai menunaikan Shalat Subuh di Masjid Al Ihsan, tidak jauh dari rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Akibat penyerangan tersebut, Novel mengalami luka pada matanya yang menyebabkan gangguan penglihatan.

Berjalannya sidang, dua terdakwa hanya dituntut satu tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum. Pasal Primer yakni Pasal 355 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP dianggap oleh JPU, mereka tidak terbukti bersalah karena berdasarkan fakta persidangan, kedua terdakwa tidak sengaja menyiram air keras ke kepala Novel.

"Terdakwa hanya akan memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Tapi, di luar dugaan ternyata mengenai mata Novel Baswedan yang menyebabkan mata kanan tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja. Artinya, cacat permanen. Sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi," ucap Jaksa dalam persidangan sebelumnya.

Kedua terdakwa lantas dituntut atas Pasal subsidair Pasal 353 Ayat (2) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu.

Adapun hal yang memberatkan terdakwa  menurut JPU dalam kasus ini adalah dianggap mencoreng nama baik Polri karena terdakwa merupakan anggota polisi aktif. 

Sementara hal meringankan Rahmat menurut JPU, yakni terdakwa belum pernah dihukum, mengakui perbuatannya di hadapan persidangan, kooperatif dalam persidangan, dan telah mengabdi sebagai polisi selama 10 tahun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00