Pembobol Triliunan BNI, Aset Maria Pauline Ditelusuri

Tersangka Maria Pauline Lumowa dihadirkan saat rilis kasus pembobolan kas Bank BNI di gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (10/7/2020). (Dok.ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.)

KBRN, Jakarta: Proses penyidikan berbagai aset yang dimiliki tersangka pembobol kas Bank Negara Indonesia (BNI), Maria Pauline Lumowa, saat ini masih dilakukan Polri. Padahal, Maria merupakan tersangka kasus itu dan sudah 17 tahun melarikan diri ke Serbia, dan baru dijemput Menteri Hukum dan HAM Indonesia, Yasonna Laoly, pekan lalu.

"Saat ini masih proses penyidikan, mohon bersabar ya. Sudah menjadi agenda penyidik untuk tracing aset-aset tersangka," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono  seperti dikutip dari Republika.co.id, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Buronan Pembobol Bank BNI Diekstradisi ke Indonesia

Sebelumnya, Mabes Polri menyatakan, Maria Pauline Lumowa sudah diperiksa tanpa pendampingan penasihat hukum (PH). Polisi juga sudah melakukan penyidikan terhadap uang sejumlah Rp1.2 triliun kredit dari Bank BNI.

Namun, Awi menjelaskan, tidak menutup kemungkinan polisi akan meminta bantuan penyidik Kejaksaan Agung.

"Selama penyidik (Mabes Polri, red) memiliki kemampuan untuk mengaudit kegiatan tersebut, tentunya akan dilakukan. Namun, jika diperlukan bantuan dengan Kejagung, maka akan dikoordinasikan," kata Awi.

Baca juga: Ekstradisi Maria Lumowa Mengalihkan Isu DjokTjan-Harun Masiku

Sementara itu, mantan kuasa hukum terpidana Pembobol Bank BNI Eddy Santoso, Herman Kadir, mengatakan tindak lanjut aset sitaan Maria Pauline mesti dikawal. Eddy Santoso merupakan mantan Kepala Customer Service Luar Negeri Bank BNI Cabang Kebayoran.

Eddy bersama seorang tersangka lainnya, Koesadi, menjadi pihak yang bersalah karena mengeluarkan dana Rp1.7 triliun dalam bentuk Letter of Credit (L/C) untuk Grup Gramarindo, perusahaan Maria Paulin, dan Adrian Waworuntu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00