Investigasi Oknum Polisi Penganiaya Buruh Papua Suram

KBRN, Jakarta: Eks pegawai PT Tunas Sawa Erma (TSE) bernama Marius Betere (40) tewas diduga dianiaya polisi di areal PT TSE di Asiki, Boven Digoel, Papua, Mei 2020. Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey mengatakan, hasil investigasi kasus itu tidak menunjukkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh pihak perusahaan.

"Perbuatan pelanggaran itu harus memenuhi unsur-unsurnya. Kami sudah lakukan investigasi dan rekontruksi. Pada temuan kami yang keempat berdasarkan keterangan pelaku dan saksi, saksi termasuk istri korban, bersama-sama dengan pelaku. Kedua saksi satpam di situ dan dari RS," kata Frits di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Bahkan, lanjut dia, dalam visum diterima, tidak menemukan adanya kekerasan dipukul oleh oknum polisi.

"Tapi kami menemukan bahwa dari kesaksian, dia mengalami beberapa penganiayaan oleh polisi. Kami juga tidak melihat kondisi mayat secara langsung. Hanya dalam hasil visum yang kami dapatkan di poin 5 kami menyampaikan begitu," lanjutnya.

Sebelumnya diketahui, Komnas HAM menemukan pangkal penyebab kemarahan Marius Betera saat itu. Menurut Komnas HAM, hal itu dikarenakan Marius merasa tidak terima atas penggusuran tanaman pisang miliknya.

Sebagai bentuk protes Marius Betera mendatangi Pospol Camp 19 untuk melapor namun tidak bertemu Kapospol. Puncak kemarahan Marius Betera terjadi pada saat mengalami tindakan kekerasan dari oknum anggota Polisi dengan inisial MY.

MY diketahui oknum anggota polri berpangkat Brigpol. Saat ini MY telah diamankan di Mapolres Boven Digoel guna pemeriksaan lebih lanjut.

Kendati demikian, Komnas HAM  merekomendasikan meminta Kapolda Papua melakukan proses penegakkan hukum bagi oknum anggota polisi melakukan kekerasan kepada warga sipil di Camp 19, Asiki, Boven Digoel.

Selain itu, Frits menyerukan, Kapolda Papua untuk meninjau kembali keberadaan pos pos polisi. Di sisi lain, Kapolres Boven Digoel juga harus melakukan kontrol dan pembinaan secara periodik bagi anggota polisi yang ditempatkan di areal perusahaan.

"Supaya plisi bertindak sesuai protap dan menjunjung tinggi profesionalitas sesuai dengan nilai-nilai dasar dan prinsip HAM," tegas Frits.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00