BNN Akhirnya Punya Alamat Tempat Rehabilitasi

Menteri Sosial Republik Indonesia, Juliari P Batubara (RRI/Tuter)

KBRN, Jakarta: Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) menjalin kerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) di bidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika serta rehabilitasi sosial. 

Secara garis besar Menteri Sosial, Juliari P Batubara menjelaskan sinergi ini dilakukan untuk menyelaraskan treatment pada korban penyalahgunaan narkoba.

Sehingga dalam kesempatan tersebut, keduanya menginisiasi Buku Pedoman Layanan Rehabilitasi Napza pada Periode Pandemik Covid-19. 

"Intinya adalah bagaimana guideline rehabilitasi bisa dilakukan secara bersama," ungkapnya di Kantor Kementerian Sosial, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2020).

Untuk ketersediaan fasilitas, hingga kini menurut Ari, sapaan akrab Mensos, sudah ada 5 (lima) balai rehabilitasi yang di operasikan pihaknya.

Dia berharap dengan terjalinnya kesamaan pandangan ini, penanganan korban penyalahgunaaan narkoba semakin baik kedepannya.

"Generasi muda khususnya lebih baik lagi kedepannya terhindar dari segala macam penyalahgunaan narkoba dan yang pasti kita tak ingin semakin banyak yang direhab," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarko menyebutkan, kerjasama ini adalah jawaban dari pertanyaan yang sering muncul di peradilan sebuah kasus narkoba terkait ketersediaan fasilitas rehabilitasi sosial.

Terlebih pada peradilan yang melibatkan korban penyalahgunaan narkoba.

"Yang jadi masalah dari pengadilan minta di mana tempat rehabilitasinya. Sekarang sudah ada jawaban dari Kemensos siap menerima (rehabilitasi bagi pengguna) yang kasus narkoba yang ditangkap kepolisian ini," tuturnya

Namun Heru menekankan pihaknya tak juga asal rehab seseorang yang terlibat kasus narkoba. Tapi sebelumnya mereka harus melalui proses penilaian atau assasment terlebih dahulu.

Itu juga menurutnya harus disertai dengan pengajuan dari keluarga yang bersangkutan. 

"Untuk rehabilitasi kasus narkoba yang ditangkap oleh polisi ini kita sudah kerjasama dengan UNDC untuk pelatihan-pelatihan jadi kita assasment. Jadi keluarga-keluarganya yang ditangkap oleh polisi minta di assasament. Nanti kita lihat Dia masuk jaringan pengedar atau bandar. Kalau mereka bandar kita proses pidana tapi kalau pengguna hasil assasment tetmrsebut kita akan lewat proses pradilan acara pidana peradilan cepat itu langsung vonis hakimnya adalah ketok rehabilitasi," ungkapnya.

Terkahir kata dia penilain ini dilakukan juga guna memisahkan mereka antara bandar dengan hanya sekedar pengguna saja dalam sebuah kasus narkoba. Secara otomatis over capacity atau kapasitas berlebih di lapas tak terjadi.

"Sehingga mengurangi pengguna-pengguna ini dikirim ke penjara," tutupnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00