Hasto Kristiyanto Batal Jadi Saksi Wahyu, Mengapa?

JPU KPK Ronald Worotikan di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta

KBRN, Jakarta  Persidangan lanjutan kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan terdakwa mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan digelar di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Dalam pesrsidangan kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK akhirnya memutuskan tidak jadi menghadirkan saksi atas nama Hasto Kristiyanto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP.

Padahal, bila melihat jadwal, maka Hasto Kristiyanto seharusnya dipanggil dan diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan.

“Kita (jaksa) sekarang fokus pada perbuatan terdakwa penerima, jadi menurut JPU (Jaksa Penuntut Umum) iru sudah cukup, berbeda saat periksa Saeful (Bahri) sebagai pemberi butuh keterangan yang bersangkutan jadi untuk membuktikan perbuatan terdakwa sudah cukup," kata JPU KPK Ronald Worotikan di Jakarta, Kamis (9/7/2020). 

Namun meski demikian, JPU KPK hati ini tetap menghadirkan dua saksi untuk mantan tersangka Wahyu Setiawan dan tersangka kader PDIP Agustiani Tio Fridelina.

Kedua saksi yang dihadirkan masing-masing Sekretaris Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) provinsi Papua Barat Rosa Muhammad Thamrin Payapo dan pegawai Bank Mandiri Patrisius Hitong.

Hasto sendiri beberapa kali diperiksa penyidik KPK dalam proses penyidikan seperti pada 24 Februari dan 26 Februari 2020 sehingga keterangannya sudah termuat dalam Berita Acara Penyidikan (BAP).

“Tidak semua saksi yang di-BAP tetap kita nantinya menilai apa yang dibutuhkan untuk dakwaan yang dipanggil," jelasnya.

Hasto sebelumnya juga pernah dihadirkan sebagai saksi di persidangan pada 16 April 2020 untuk terdakwa kader PDIP Saeful Bahri yang didakwa bersama-sama Harun Masiku.

Mereka diduga telah menyuap Wahyu Setiawan sebesar Rp600 juta agar mengupayakan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR RI daerah Sumatera Selatan I kepada Harun Masiku.

“Memang saat itu yang bersangkutan (Hasto) dihadrikan terkait Saeful sebagai pemberi tapi kalau penerima tidak harus dihadirkan, pemberian untuk Agustiani Tio juga yang diperlukan saksi seperti Pak Saeful yang langsung memberikan ke dia (Agustiani), jadi untuk membuktikan dakwaan kita selaku penerima tidak diperlukan," terangnya.

Namun meski demikian  Ronald dengan tegas membantah anggapan bahwa JPU KPK sudah menyimpulkan bahwa Hasto Kristiyanto tidak ada hubungannya dengan Wahyu.

“Saya tidak mengatakan itu (tidak ada kaitan), tapi untuk membuktikan dakwaan penerima menurut jaksa sudah cukup saksi-saksinya," tegasnya. 

Sementara itu, dalam persidangan sebelumnya Hasto mengaku sempat menegur Saeful Bahri saat itu meminta uang kepada Harun Masiku untuk mengurus proses PAW di KPU.

Hasto saat itu juga mengaku mendapat laporan Saeful Bahri soal lobi-lobi  yang dilakukan Saeful ke Wahyu terkait upaya PAW Harun Masiku.

Sementara itu, Saeful Bahri dalam perkara ini sudah divonis 1 tahun dan 8 bulan penjara ditambah denda Rp150 juta subsider 4 bulan kurungan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00