Legislator Pertanyakan Tuntutan JPU atas Penyiraman Novel

Anggota Komisi III DPR RI, Fraksi NasDem, Taufik Basari (Dok Istmw)

KBRN, Jakarta : Anggota Komisi III DPR RI, Taufik Basari menyampaikan sejumlah pertanyaan kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin, terkait adanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang hanya menuntut dua orang terdakwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dengan tuntutan 1 tahun penjara.

Menurutnya, kasus yang menjadi perhatian publik itu, memiliki kejanggalan dalam penyampaian tuntutan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Kasus Novel saat ini yang jadi sorotan publik adalah tuntutan yang gak masuk akal," kata Taufik saat rapat kerja Komisi III DPR dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Sebab, diakui politisi dari Partai NasDem itu, alasan dari para terdakwa yang termuat dalam reuqisitoir yang menyebabkan tuntutan JPU itu dinilai sangat ringan dan di luar dari akal sehat serta memiliki kejanggalan.

"Sepanjang pengalaman saya jadi lawyer dan sekarang cuti, memang alasan-alasan yang termuat di reuqisitor banyak yang di luar nalar sehat. Agak aneh menurut saya," ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin agar dapat menunjukkan bahwa masyarakat dapat mempercayai kualitas dan tuntutan dalam penegakan hukum.

"Penting buat Jaksa Agung untuk tunjukkan ke publik bahwa penegakan hukum bisa dipercaya, dan kualitas dari tuntutan itu juga mumpuni," ucapnya lagi.

Seperti diketahui, pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020)!lalu, JPU mengajukan tuntutan 1 tahun penjara untuk Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, yang didakwa menyiramkan air keras ke wajah Novel Baswedan. 

JPU menganggap perbuatan terdakwa yang menyebabkan mata Novel rusak bukan akibat tindakan yang disengaja.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00