Tren Kejahatan Jalanan Meningkat, Hubungan Dengan COVID-19?

Ilustrasi : glaciermedia.ca

KBRN, Jakarta : Perbandingan jumlah aksi kriminalitas pada Bulan Maret dan April turun 19,90 persen. Dimana pada Bulan Maret tercatat sebanyak 19.128 kasus, turun menjadi 15.322 kasus.

Meski demikian aksi kejahatan jalanan justru meningkat, seperti penjambretan, perampokan, dan pembobolan mini market.

Apakah angka tersebut berhubungan dengan pandemi COVID-19 dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan di sejumlah wilayan di Indonesia, atau bahkan ada kaitannya dengan kebijakan asimilasi dan pembebasan bersyarat Kemenkum HAM untuk  pencegahan penyebaran COVID-19 di Lembaga Pemasyarakatan?

Psikolog Intervensi Sosial Universitas Pembangunan Veronika Kayhatu mengatakan, tentu ada keterkaitan kebijakan tersebut, dengan data dimaksud.

Veronika menyebut, pandemi COVID-19 membuat banyak masyarakat kehilangan pekerjaan, namun tentu tidak menghilangkan kebutuhan pokok, seperti makan. Dengan demikian, pemikiran seseorang untuk melakukan kejahatan akan meningkat.

"Karena saat ini kesempatan menjadi baik itu mengecil, biasanya terjadi karena memang ga ada pekerjaan, tapi tetap perlu uang untuk makan. Tapi yang meningkat bukan kejehatan yang terencana, tapi yang cepat, barang kecil langsung bisa dijual, selesai. Jadi bukan yang mau kaya, cuma untuk menyambung hidup," jelas Veronika pada Pro3 RRI, Rabu (6/5/2020) malam.

Terkait kebijakan asimilasi Veronika menyebut, para warga binaan yang telah keluar belum siap dengan kondisi yang ada di masyarakat. Sebab, apa yang mereka dapatkan selama di masa hukuman di Lapas tidak tersedia di masyarakat, sehingga pemikiran melakukan kejahatan kembali terulang.

"Kalau misalnya kita memahami proses di lapas, adalah mengembalikan ke jalan yang benar, Jadi bukan lagi penjahat yang keluar, tapi sudah diperbaiki. Kemudian di lapas diajarkan cara bekerja, tapi begitu keluar, mereka mendapatkan situasi yang berbeda. Saat ini tidak ada yang menawarkan pekerjaan," sebut Veronika. 

Dengan kata lain kata Veronika, para warga binaan tersebut tidak mempunyai persiapan menghadapi sitausi pandemi tersebut. Kemudian akan mencari jalan pintas untuk kembali menghubungi jejaring lama dan kembali melakukan aksi kriminalitas.

"Jadi kemudian makan kan tetap harus, maka kemudian mereka akan bergerak ke jejaring sosial media yang mereka punya. Tapi itu pasti akan lemah, mereka akan kembali ke teman lama, kemudian yang mereka lakukan adalah kembali ke jalan yang mereka lalui sebelumnya, yang sebetulnya membuang kesempatan yang telah diberikan di Lapas. Mereka tidak dipersiapkan pada situasi yang seperti ini," pungkasnya.

Diberitakan, dibebaskan setelah menjalani hukuman di penjara ternyata tak sepenuhnya membuat penjahat jadi insaf. Di luar lembaga pemasyarakatan, beberapa eks narapidana ini kembali ke dunianya, melakukan aksi pidana. 

Teranyar, dua eks narapidana yang dibebaskan dengan program asimilasi dan integrasi dari Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) kembali berulah dengan merampok beberapa mini market di Jawa Timur, Senin (4/5/2020). 

Mereka adalah Zainul Arifin alias Pitik (36), dan M Imron Rosidi alias Baron (40), keduanya warga Pasuruan. Nyawa keduanya bahkan harus melayang setelah menerima tindak tegas terukur polisi. 

Keduanya merampok kendaraan roda empat di sebuah mini market di Tulungagung, kemarin malam.

Pada tengah April lalu, tepatnya Minggu (12/4/2020), Agustian yang baru empat hari menghirup udara bebas ditangkap karena kepergok warga mencuri sepeda motor. Pria 24 tahun tersebut kini harus kembali merasakan dinginnya dinding tahanan akibat ulahnya.

Diketahui, Kemenkumham membebaskan napi dengan kebijakan asimilasi dan pembebasan bersyarat sesuai dengan aturan Permenkum HAM Nomor 10 Tahun 2020 dan Keputusan Menkum HAM nomor 19.PK.01.04 Tahun 2020. Kebijakan asimilasi dan integrase ini untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Lembaga Pemasyarakatan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00