KPK Pastikan Tetap Proses Perkara Harun Masiku

KBRN, Jakarta : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan masih terus mengusut kasus dugaan suap pengurusan pergantian antar waktu (PAW) Anggota DPR dengan tersangka mantan caleg PDIP, Harun Masiku. Meskipun, hingga kini KPK belum berhasil menangkap Harun yang telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO) atau buronan sejak pertengahan Januari lalu.

"Saat ini perkara tersangka HAR (Harun Masiku) masih berjalan di tingkat penyidikan," tegas Plt Jubir KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi, Rabu (6/5/2020).

Diketahui, staf DPP PDIP, Saeful Bahri yang dijerat dalam kasus yang sama telah menjalani proses persidangan. Dalam surat dakwaan terhadap Saeful, Jaksa KPK menyebutkan perbuatan Saeful memberikan suap kepada mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan dilakukan bersama-sama dengan Harun sebagaimana Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ali menekankan, KPK belum berfikir untuk menghentikan proses penyidikan kasus Harun, meski diberi kewenangan seperti yang tercantum dalam Pasal 40 UU KPK. Ali menegaskan, KPK akan terus mengusut kasus ini.

"Jadi sekalipun tersangka Harun belum tertangkap saat ini, perkaranya terus berjalan, tidak ada penghentian penyidikannya," tegas Ali.

Diketahui, Koordinator MAKI Boyamin Saiman meyakini Harun Masiku telah meninggal dunia. Keyakinan tersebut didasari lantaran tidak ada informasi apapun mengenai keberadaan mantan caleg PDIP tersebut. Padahal, Boyamin mengaku kerap mendapat infornasi mengenai buronan KPK lainnya.

"Aku yakin Harun Masiku meninggal, buktinya apa? Nggak ada, dan buktinya nggak punya, hanya keyakinan saja, karena perbandingan dengan buronan lain, selalu ada update setiap Minggu. Kalau Harun Masiku nggak ada," kata Boyamin.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta. Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali. Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta. Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00