Terdakwa Penyiksa Anjing Disebut Miliki Gangguan Bipolar

KBRN, Jakarta: Sidang ke-6 kasus penyiraman soda api dilakukan secara sengaja terhadap 6 ekor anjing hingga menyebabkan kematian 5 ekor anak anjing di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dihadiri saksi ahli yang juga seorang Psikolog Klinis Ratih Ibrahim.

Dalam sidang, Ratih menyatakan, terdakwa Aris Tangkelabi Pandin (57) mengalami gangguan bipolar, atau biasa dikenal sebagai gangguan manik-depresif merupakan salah satu bentuk gangguan mood. 

“Pada kondisi yang parah, yang bersangkutan bisa saja melakukan tindakan ekstrim, di masing-masing kutub gangguan bipolarnya. Seperti secara impulsif membela barang mahal, atau berselingkuh pada saat sedang dalam kondisi manik, lalu tiba-tiba menyesal, merasa menderita, malu, dan merasa ingin mati saja ketika berada di kondisi depresinya,” kata Ratih, Kamis (30/4/2020).

Meski demikian, lanjut Ratih umumnya penderita bipolar akan lebih cenderung menyakiti diri sendiri ketimbang  pihak di luar dirinya, kecuali dalam kondisi terdesak atau diprovokasi.  Menurutnya, tindak menyakiti orang lain, merusak (vandalism), menyiksa binatang, dan perilaku sadistik, apalagi yang dilakukan secara terencana tidak ada hubungannya dengan gangguan bipolar.

“Jika tampil perilaku terkait, ini adalah manifestasi dari jenis gangguan berbeda. Ekspresi sadistik, secara sengaja menyakiti, merusak, melukai, membuat cederà, menyiksa, dan membunuh, tanpa rasa iba adalah manifestasi dari pola kepribadian psikopat dan anti sosial,”jelasnya.

Sedangkan, menurut Ratih, klaim adanya gangguan kejiwaan pada terdakwa tetap perlu ditelusuri secara cermat. Apakah gangguan ini memang ada sejak lama, baru muncul, atau dimunculkan setelah kasus ini diangkat ke ranah hukum.

Alasan adanya gangguan kejiwaan kerap digunakan seseorang untuk melepaskan diri dari tanggung jawab hukum. Menurut Ratih, gangguan kejiwaan dan perilaku jahat adalah dua hal yang terpisah. Dibutuhkan kejelian dan ketajaman nurani untuk mampu mengambil sikap secara benar dan adil.

“Tindakan penyiksaan adalah tidak kejahatan. Binatang adalah mahluk ciptaan Tuhan yang sama Mulia ya dengan kita, manusia. Maka kejahatan terhadap ciptaan Tuhan juga perlu mendapatkan ganjaran yang setimpal sesuai dengan hukum  dan Undang-Undang yang berlaku,”paparnya. 

Sedangkan gangguan kejiwaan, ujar Ratih, membutuhkan intervensi secara baik, sesuai dengan diagnosa yang ditegakkan ahlinya, agar tidak membahayakan, baik dirinya sendiri, maupun lingkungan disekitarnya.

Dipihak lain,  Direktur Operasional Natha Satwa Nusantara, Annisa Ratnakurnia meyakini, akan terus mengawal kasus ini dengan baik.

“Kita ingin memperjuangkan keadilan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, agar kasus ini berjalan dengan baik,” kata Natha.

Untuk diketahui, sidang kasus ini akan dilanjutkan, Rabu (13/5/2020), dengan agenda pemeriksaan terdakwa. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00