Lagi, KPK Panggil Saksi Terkait Mafia Minyak

KBRN, Jakarta : Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hari ini dijadwalkan memanggil Dody Setiawan. Yang bersangkutan diketahui merupakan mantan Manager Controller Pertamina Energy Service Pte Ltd.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di Jakarta menjelaskan panggilan Dody diduga terkait  kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) perdagangan minyak mentah dan kilang di PES. 

Menurut Febri, Dody dipanggil dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka Bambang Irianto. Yang bersangkutan merupakan mantan Managing Director Pertamina Energy Service Pte Ltd (PES). 

"Yang bersangkutan (Dody  Setiawan) dipnggil dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk tersangka BI (Bambang Irianto)," kata Febri Diansyah di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Dody saat ini diketahui masih  menjabat Manager Project Management Office-Shared Service Center PT Pertamina (Persero). 

Penyidik KPK dalam kesempatan ini juga memanggil tiga orang lainnya sebagai saksi untuk tersangka Bambang Irianto.

Ketiga saksi tersebut diantaranya mantan Light Distillate-Operation Officer PES Indrio Purnomo, mantan  Claim Officer PES Mardiansyah dan mantan Manajer Market Analys Risk Management and Govence ISC PT Pertamina (Persero) Khairul Rahmat Tanjung

Bambang Irianto sebelumnya diketahui pernah menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT. Pertamina Energy Tranding Ltd (Petral). Petral akhirnya secara resmi telah dibubarkan pemerintah pada 2015.

Bambang diduga telah menerima uanh suap sebesar 2,9 juta Dolar Amerika (AS) melalui  perusahaan yang didirikannya di British Virgin Island yakni SIAM Group Holding Ltd. 

Uang itu diduga diberikan kepada Bambang karena yang bersangkutan diduga ikut membantu mengamankan jatah Kernel Oil dalam proses lelang tender pengadaan atau penjualan minyak mentah atau produk kilang.

Mengacu pada pedoman yang menyebutkan penetapan penjual atau pembeli yang akan diundang untuk ikut dalam competitive bidding atau direct negotiation mengacu pada aturan PT Pertamina (Persero) dengan urutan prioritas: NOC (National Oil Company), Refiner/Producer, dan Potential Seller/Buyer. 

Namun, pada kenyataannya, tidak semua perusahaan yang terdaftar pada Daftar Mitra Usaha Terseleksi (DMUT) PES diundang mengikuti tender di PES.

Bambang diduga ikut  menentukan rekanan yang akan diundang mengikuti tender, salah satu NOC (National Oil Company) yang sering diundang untuk mengikuti tender dan akhirnya menjadi pihak yang mengirimkan kargo untuk PES/PT Pertamina (Persero) adalah Emirates National Oil Company (ENOC). 

PT. Pertamina (Persero) awalnya membentuk fungsi Integrated Supply Chain (ISC). Fungsi ini bertugas melaksanakan kegiatan perencanaan, pengadaan, tukar-menukar, penjualan minyak mentah, intermedia, serta produk kilang untuk komersial dan operasional.

PT Pertamina (Persero) kemudian diketahui mendirikan beberapa perusahaan subsidiari yang dimiliki dan dikendalikan penuh, yakni Pertamina Energy Trading Limited (Petral), yang berkedudukan hukum di Hongkong, dan Pertamina Energy Services Pte Ltd (PES), yang berkedudukan hukum di Singapura. 

Penyidik KPK menduga bahwa Petral tidak punya kegiatan bisnis pengadaan dan penjualan yang aktif. Sedangkan PES menjalankan kegiatan bisnis utama, yaitu pengadaan dan penjualan minyak mentah dan produk kilang di Singapura untuk mendukung perusahaan induknya yang bertugas menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00