Tergolong extra ordinary crime, waspadai kekerasan seksual  

KBRN, Pekanbaru : Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak sejak sebulan terakhir, ternyata menjadi perhatian serius kalangan wakil rakyat di dprd riau karena dianggap sebagai extra ordinary crime. Masyarakat diminta untuk tidak menganggap remeh atau diam, ketika ditemukannya kasus kekerasan seksual.

 

Berada di tengah pandemi covid-19, ternyata membuat kasus kejahatan kekerasan seksual kembali marak terjadi. Bahkan parahnya, jumlah kasus kekerasan seksual justru meningkat drastis.

Dimana, kasus kejahatan kekerasan seksual meliputi pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual dan penyiksaan seksual. Saat ini, kasus kejahatan kekerasan seksual tidak hanya menimpa kaum perempuan namun juga kaum laki-laki serta anak-anak di bawah umur.

Anggota Komisi V DPRD Riau, Ade Hartati Rahmad mengatakan, masyarakat diminta untuk tidak menganggap remeh kejahatan kekerasan atau pelecehan seksual karena merupakan bentuk extra ordinary crime atau kejahatan luar biasa.

“ Kejahatan ini harus diantisipasi secara bersama-sama, melalui kerjasama yang baik antara pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat,” ujarnya, Jumat (26/11)

Guna memberikan efek jera terhadap para pelaku kejahatan seksual, saat ini DPR-RI tengah menggodok rancangan undang-undang tindak pidana kasus kekerasan seksual. Selain itu, pemko Pekanbaru juga tengah menggodok ranperda perlindungan perempuan dan anak, sehingga keselamatan dan keamanan perempuan dan anak bisa terlindungi. ( rh)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar