Inklusi dan Literasi Wajib Ditingkatkan Dalam Penggunaan Platfrom Digital 

KBRN, Pekanbaru : Peningkatakan inkluasi dan literasi wajib ditingkatkan oleh para pemilik atau pengelola platfrom digital dalam penggunaan digitalisasi. Sehingga masyarakat pengguna platfrom digital atau konsumen aman dan nyaman dalam bertransaksi.

Hal itu ditekankan oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau, Yusri dalam beberapa kali rangkaian webinar yang dilaksanakan dalam rangka kegiatan Bulan Inkluasi Keuangan (BIK) yang dilasakanakan sepanjang bulan Oktober 2020.

"Semua yang memiliki platform digital wajib untuk meningkatkan keamanan aplikasinya, agar nasabah atau masyarakat pengguna terhindari dari praktek penipuan sebagai konsekuensi dari meningkatnya transaksi digital pada masa sekarang ini, apalagi di masa pandemi Covid 19, transaksi menggunakan aplikasi mengalami peningkatan yang luar biasa," ungkapnya, Minggu (25/10/2020).

Dikatakan, tingkat literasi dan inklusi keuangan di Provinsi Riau masih rendah, masing-masing berada di angka sebesar 29 persen dan 69 persen. Sehingga Bulan Inklusi Keuangan (BIK) tahun 2020 ini harus dijadikan momentum bagi industri jasa keuangan untuk berkontribusi lebih kepada masyarakat sehingga harapannya dapat meningkatkan tingkat inklusi keuangan masyarakat Riau dan kinerja industri jasa keuangan tetap terjaga. 

"Harapan kami dengan adanya kegiatan-kegiatan inklusi keuangan dimaksud dapat memutus permasalahan sulitnya akses keuangan bagi masyarakat sehingga masyarakat khususnya di Provinsi Riau dapat merasa lebih dekat dan nyaman serta meningkatkan kepercayaan dalam bertransaksi melalui Industri Jasa Keuangan, serta tidak mengalami tindak penipuan," ujarnya.

Dalam kajian yang dirumuskan oleh Center for Digital Society (CfDS), pusat studi yang didirikan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada. Kajian disusun dengan dukungan dari Gojek dan GoPay, bahwa fnomena penipuan dengan teknik rekayasa sosial, atau yang juga dikenal sebagai manipulasi psikologis, saat ini marak terjadi di Indonesia dan mendapatkan perhatian penuh dari berbagai industri di Indonesia.

Hal ini disebabkan oleh pemanfaatan teknologi masyarakat Indonesia yang tidak sebanding dengan tingkat literasi digital masyarakat yang masih tergolong rendah, utamanya mengenai keamanan dalam penggunaan teknologi. Kesenjangan tersebut menjadi salah satu penyebab utama maraknya penipuan dengan teknik rekayasa sosial yang memanfaatkan lengahnya pengguna teknologi akan menjaga keamanan informasi pribadi miliknya. Sehingga, pelaku penipuan dapat melakukan serangan tanpa harus meretas keamanan sistem elektronik yang digunakan.

Kajian ini menemukan bahwa penipuan dengan teknik rekayasa sosial dapat dicegah dengan, salah satunya, mengedukasi pengguna dan calon pengguna teknologi guna meningkatkan literasi digital, atau yang kemudian disebut dengan Kompetensi Keamanan Teknologi Digital (KKTD). Peningkatan KKTD dapat dicapai dengan cara pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kesadaran pengguna. Kajian ini juga menemukan bahwa peningkatan literasi digital atau KKTD pengguna teknologi di Indonesia menjadi tanggung jawab bersama para pemangku kepentingan, yang diidentifikasi sebagai pemerintah, industri, organisasi masyarakat, dan pengguna.

Seiring dengan hasil kajian dan maraknya pemanfaatan atau penggunaan platform digital sehubungan dengan mewabanya Virus Covid 19, maka tingkat keamanan dari bertransaksi menggunakan platform digital wajib ditingaktkan pula.

"Penipuan melalui digitalisasi saat ini marak terjadi dan mendapatkan perhatian penuh dari berbagai industri. Hal inidisebabkan oleh pemanfaatan teknologi masyarakat yang tidak sebanding dengan tingkat literasi masyarakat, utamanya mengenai keamanan dalam penggunaan teknologi. Kesenjangan tersebut menjadi salah satu penyebab utama maraknya penipuan dengan teknik rekayasa sosial yang memanfaatkan lengahnya pengguna teknologi akan informasi pribadi miliknya.Sehingga, pelaku penipuan dapat melakukan serangan tanpa harus meretas keamanan sistem elektronik yang digunakan," tegasnya.

Disisi lain, Gojek, sebagai salah satu platfrom digital dan super app terdepan di Asia Tenggara, terus memperkuat komitmen terhadap keamanan bagi seluruh pelanggan dan mitra melalui inisiatif #AmanBersamaGojek yang berfokus pada edukasi, teknologi, dan proteksi.

Michael Reza Say, VP Regional Corporate Affairs Gojek saat Webinar Regional Sumatera dengan tema “Perubahan Perilaku Konsumen dan Adaptasi Pelaku Usaha di Masa Pandemi COVID-19” yang diadakan AJI Indonesia bekerjasama dengan Gojek pada har Selasa tanggal 6 Oktober 2020

 lalu menyebutkan sebagai bagian dari inisiatif #AmanBersamaGojek, Gojek berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI) serta pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan literasi digital bagi masyarakat, melalui edukasi sepanjang tahun 2020.

"Rasa aman dalam memanfaatkan ekosistem Gojek merupakan prioritas utama perusahaan kami sehingga investasi akan terus dialokasikan guna senantiasa menjaga keamanan dan keselamatan pelanggan maupun mitra. Bagi Gojek, keamanan dan keselamatan adalah prioritas utama dan merupakan tanggung jawab bersama. Kami telah dan akan terus berinvestasi pada pengembangan teknologi , serta berbagai program proteksi, baik bagi konsumen maupun mitra. Setara dengan dua fokus di atas, kami juga berinvestasi pada edukasi agar pelanggan dan mitra kami bisa mendapatkan manfaat paling optimal dari teknologi digital dan tidak dirugikan,” ujarnya

Diakui, selain melalui edukasi, Gojek juga mengimplementasikan teknologi, serta menghadirkan program proteksi untuk memastikan keamanan masyarakat saat menggunakan layanan Gojek. Implementasi teknologi hadir melalui Gojek SHIELD yang dijalankan dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, serta dioperasikan oleh tim keamanan digital kelas dunia yang terdiri dari data scientist, engineers dan juga pakar cyber security.

"Gojek SHIELD terdiri dari teknologi perlindungan yang menjaga seluruh pihak dalam ekosistem dari ancaman keamanan, termasuk diantaranya fitur penyamaran nomor telepon, intervensi chat, dan juga fitur tombol darurat yang terhubung dengan Unit Darurat Gojek yang siaga 24 jam dalam memberikan pertolongan. Memanfaatkan machine learning, Gojek SHIELD mampu mencegah dan menindak setiap perilaku mencurigakan yang terjadi pada platform Gojek," lanjutnya. 

Dalam sebuah kesempatan, 

Semuel Abrijani Pangerapan selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kemkominfo RI mengatakan bahwa pengguna internet di Indonesia sangat banyak telah mencapai 170 juta, sehingga keamanan dari pemanfaatan atau penggunan platform digital mutal diperlkukan.

“Kondisi di Indonesia sangat unik. Pengguna internet sangat tinggi mencapai lebih dari 170 juta pengguna1, namun tingkat literasi digital masyarakat kita masih tergolong rendah. Agar tak kehilangan momentum kita harus bekerja keras bersama-sama meningkatkan literasi digital masyarakat. Hal ini menjadi prioritas kami di Kominfo,” urainya

Menurutnya, prioritas Kemkominfo RI dalam meningkatkan literasi digital, dilakukan seiring dengan akan terbitnya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi sebagai payung hukum yang mengatur standar perlindungan data pribadi masyarakat.

“Kami mengapresiasi langkah Gojek sebagai pemain di industri yang tanggap dalam melihat situasi ini dan memasukkan edukasi sebagai salah satu fokus melalui program peningkatan literasi digital bagi masyarakat luas yang berkelanjutan,“ katanya. (TS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00