E-Commerce Diajak BEI Mencari Pendanaan di Bursa Efek

KBRN, Pekanbaru : Industri e-commerce di Indonesia berkembang begitu cepat di Indonesia. Hal ini membuat para pelaku e-commerce juga berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik sehingga bisa merebut minat dari masyarakat Indonesia. Agar memiliki modal, maka pelaku e-commerce diajak Bursa Efek Indonesia (BEI) untu mendapat pendanaan atau modal di Bursa Efek.

Ajakan disamapikan oleh Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi, dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020 secara virtual, Rabu (21/10/2020).

Dia mengatakan untuk menarik minat masyarakat, para perusahaan startup atau e-commerce ini berlomba-lomba untuk melakukan inovasi. Namun dalam melakukan inovasi dibutuhkan dana yang begitu besar untuk pengembangannya.

Salah satu pendanaan yang bisa dijadikan pilihan adalah instrumen yang ada di pasar modal. Karena lewat pasar modal, perusahaan bisa mendapatkan dana dengan cepat namun tetap aman.

"Salah satu hal yang dibutuhkan untuk berinovasi dan mengembangkan bisnis adalah pendanaan. Dan pasar modal bisa menjadi salah satu alternatif pendanaan yang menarik bagi perusahaan tersebut," katanya.

Menurut Inarno, inovasi yang dilakukan oleh para pelaku e-commerce dituntut untuk cepat. Karena pengembangan atau inovasi harus mengikuti dengan perkembangan teknologi terkini.

Sedangkan perkembangan teknologi berjalan begitu cepat. Jika tak lengah sedikit saja, berpotensi untuk tertinggal jauh dari para pesaingnya.

"Karena perusahaan yang mayoritas pendirinya adalah milenial mereka sangat cepat melakukan inovasi produk atau jasa mengikuti produk teknologi saat ini," jelasnya.

Inarno Jayadi juga mengatakan pesatnya perkembangan teknologi informasi komunikasi khususnya internet semakin memudahkan kita melakukan segala hal dengan mudah. Hanya dengan sentuhan jari di gadget kita semua aktivitas dapat kita lakukan dalam waktu singkat di manapun dan kapanpun.

Internet memunculkan peluang baru dalam dunia bisnis dan e-commerce adalah salah satunya. Industri e-commerce mengalami pertumbuhan pesat beberapa waktu terakhir, meski pertama kali masuk ke Indonesia diragukan oleh konsumen. Tapi seiring berjalannya waktu, e-commerce mendapatkan kepercayaan dari konsumen. 

Hal tersebut terlihat dari peningkatan tren transaksi e-commerce setiap tahunnya. Data sensus BPS menyebutkan, pada tahun 2019 saja, pertumbuhan usaha e-commerce mencapai 25,11 persen. Padahal sebelumnya tahun 2010, usaha e-commerce di Indonesia hanya tercatat sebanyak 1,53 persen. Indonesia salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan industri e-commerce terbesar.

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia masih akan terus meningkat dengan bertambahnya jumlah pengusaha, pelaku UMKM, startup dan perumahan rastra Indonesia. Khususnya pada generasi milenial serta situasi pendemi yang mengubah kebiasaan masyarakat dari berbelanja di toko secara fisik menjadi belanja secara online.  

"Ya, bisnis e-commerce sangat menjanjikan. Di Indobnesia sendiri terdapat beberapa perusahaan e-commerce yang berkembang sangat besar. Karena sebagian besar perusahaan pendirinya milenial, mereka sangat cepat melakukan inovasi produk atau jasa mengikuti perkembangan teknologi saat ini," ujar Inarno Jayadi.

Pelaksanaan CMSE pada hari ketiga menghadirkan berbagai seminar yaitu Internasional ASEAN Exchanges Seminar "The Role of RetailInvestors in Maintainig Market Stability amid Pandemic Situastion", dilanjutkan dengan Seminar e-Commerce "Unicorn Starup Of Indonesia : How and What Next?" dan Community Talks "Strategi Literasi dan Inklusi Selama Pandemi". (TS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00