Riau Tiga Bulan Berturut-Turut Alami Deflasi

KBRN, Pekanbaru : Provinsi Riau kembali mengalami deflasi, untuk ketiga kalinya secara berturut – turut pada akhir tahun 2019. Setelah sebelumnya pada bulan Septemer dan Oktober. Sedangkan Deflasi bulan November 2019 sebesar -0,23 persen.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Badan Pusat Statitik (BPS) Provinsi Riau, Misparuddin, Senin (2/12/2019) saat menyampaikan berita resmi statistik.

Dia menjelaskan deflasi di Riau dipengaruhi beberapa komoditi kebutuhan bahan makanan, diantaranya cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, ikan serai dan ikan tongkol.

"Deflasi Riau pada bulan November 2019 sebesar 0,23 persen terjadi karena adanya penurunan indeks harga konsumen yang cukup signifikan pada kelompok bahan makanan yang mengalami deflasi sebesar 0,92 persen. Diikuti kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,05 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas clan bahan bakar sebesar 0,03 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen, kelompok sandang sebesar 0,03 persen dan kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen," urainya.

Dikatakan, adapun komoditas yang memberikan andil terjadinya deflasi di Riau antara lain cabai merah, ikan serai, cabai hijau, daging ayam ras, cabai rawit, ikan tongkol, apel, ayam hidup, ketimun dan juga batu bata.

Sementara itu, adapun kelompok yang mengalami inflasi ada bulan November adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,08 persen.

"Komoditas yang memberi andil inflasi antara lain bawang merah, beras, anggur, udang basah, telur ayam ras, bayam dan minyak goreng," pungkasnya.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, 18 kota mengalami deflasi, dengan deflasi tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandan sebesar 1,06 persen, diikuti oleh Kota Pangkal Pinang sebesar 0,82 persen dan Kota Medan sebesar 0,77 persen, sedangkan deflasi terendah terjadi di Kota Batam sebesar 0,01 persen. (TS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00