BI Riau Gelar Diseminasi Pengembangan Produk dan Usaha Berbasis Kelapa Sawit

KBRN, Pekanbaru : Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau menggelar kegiatan Diseminasi perekonomian Riau dengan tema "pengembangan produk dan usaha berbasis kelapa sawit di Provinsi Riau", Rabu (6/7/2022). Kegiatan digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Riau jalan Jendral Sudirman.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau Muhamad Nur dalam sambutannya saat membuka acara mengatakan tema yang diambil dalam kegiatan ini sangat relevan dengan kondisi saat ini dan relevan dengan provinsi Riau.

"Karena Provinsi Riau merupakan salah satu provinsi terbesar yang memiliki lahan sawit. Potensi sawitnya mungkin saat ini sudah bisa mengalahkan Sumatera Utara. Kami harap mudah-mudahan dari diskusi ini ada hal-hal yang bisa menjadi follow up bagi kita semua. Supaya potensi yang ada ini menjadi bagian yang penting," ujar Muhamad Nur, Rabu (6/7/2022).

Ia mengatakan hingga saat ini investasi pada sektor kelapa sawit yang dilakukan,sebagian besar masih fokus pada peningkatan kapasitas produksi existing. Belum mengarah pengembangan produk baru yang berbentuk produk final atau konsumsi. Padahal kelapa sawit terkenalmenjadi bahan baku ratusan macam produk kebutuhan manusia.

"Produksi CPO Indonesia dan Riau masih lebih banyak dijual ke luar negeri atau ekspor, di kisaran 65%, 11% diantaranya merupakan CPO dan 89% sisanya merupakan produk turunan. Sisanya yang 35% digunakan untuk konsumsi domestik dengan rincian 49% untuk industri pangan (90% di antaranya digunakan untuk produksi minyak goreng); biodiesel 40%; dan oleokimia 11%," rincinya.

"Sementara di Malaysia, 80% dari total produksi CPO diekspor dengan rincian 18% CPO dan 82% sisanya merupakan produk turunan," imbuhnya.

Meski pangsa ekspor produk turunan CPO Indonesia lebih besar, produk turunan CPO dari Malaysia lebih heterogen. Malaysia memiliki sekitar 158 produk turunan CPO, sementara Riau hanya di kisaran 27 produk dan Indonesia 100 produk.

"Hal ini membuat pertumbuhan nilaiekspor produk turunan CPO dari Malaysia cenderung lebih sustain walaupun dalam kondisi volume ekspor yg menurun," sebutnya.

Peluang untuk menambah produk turunan sawit di Riau masih sangat besar. Beberapafaktornya antara lain Supply sawit yang besar, kemudiaan produktivitas kebun yang masih dapat ditingkatkan sejalan dengan program replanting yang terencana dan penggunaan bibit dan pupuk berkualitas tinggi.

"Selanjutnya adalah lokasi strategis, dekat dengan hub internasional Singapura, Memiliki kawasan industri yang memudahkan berkembangnya industri lebih lanjut seperti Kawasan Industri Tanjung Buton dan Kawasan Industri Tenayandan yang terakhir adalah Modal sumber daya manusia yang baik. Ini ditandai dengan nilai Indeks Pembangungan Manusia (IPM) tahun 2021 sebesar 72,94 atau peringkat 7 secara nasional," ungkapnya.

Selain itu, gangguan rantai pasokan global telah mendorong banyak negara mengutamakan produksi untuk kebutuhan dalam negeri. Sehingga hilirisasi dalam bentuk produk konsumsi, menjadi peluangdalam memenuhi kebutuhan domestik dan negara lain yang tidak mengandalkan sumber daya alam.

"Beberapa negara lain seperti kawasan Uni Eropa pun cenderung menerima produk jadi dibanding bahan mentah atau setengah jadiseperti CPO. Sehingga kami rasa, ini menjadi momen yang tepat dalam menambah produk existing ke arah produk jadi atau consumer goods," pungkasnya.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini Deputi Kepala Perwakilan BI Riau Maria Cahyaningtyas, Food Engineering Process Expert Institute Pertanian Bogor Prof Dr Purwiyatno Hariyadi dan juga Peneliti Sosio Tekno Ekonomi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Dr Sachnaz Desta Oktarina. (TS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar