Kendalikan Inflasi, TPID di Riau "Bernyanyi Dangdut" Ajak Daerah Lain "Berjoget"

KBRN, Pekanbaru : Dalam pengendalian inflasi di Provinsi Riau, Bank Indonesia (BI) memainkan perannya secara sentral agar stabilitas makroprudensial terjaga, terutama selama bulan ramadhan sampai lebaran tahun ini.

Peran yang dimainkan Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau, yang dipimpin Kepala Perwakilan Muhamad Nur, sangat terasa, dengan melakuan berbagai rapat komunikasi, koordinasi dan konsultasi dengan multi pihak agar inflasi dapat terkendali sehingga stabilitas sistem keuangan selama ramadhan dan idul fitri tahun ini terjaga dengan baik.

Dalam beberapa kali pertemuan, baik di Kantor Perwakilan BI Provinsi Riau maupun di berbagai tempat dan kesempatan, Muhamad Nur menekankan bahwa Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Riau harus melakukan langkah-langkah strategis guna menekan inflasi terutama menjelang Ramadan dan lebaran 2022.

"Kami mengingatkan semua TPID untuk lebih prepare mempersiapkan antisipasi menjelang Ramadan dan lebaran supaya dapat menekan inflasi di daerah," ujar Muhamad Nur, Rabu (2/3/2022) lalu saat acara high level meeting TPID se-Riau.

Ia menerangkan, saat ini tekanan inflasi di provinsi akan mengalami peningkatan bukan hanya di Provinsi Riau namun juga nasional. Untuk itu, bagaimana TPID harus melakukan upaya strategis mengendalikan inflasi tersebut.

Langkah dan strategi yang dilakukan seperti "bernyanyi dangdut" sebagaimana tertuang dalam lirik lagu "Sedang-Sedang Saja" yang dipopulerkan artis nasional, Vetty Vera.

"Jika harga kebutuhan naik, maka perlu dilaksanakan operasi pasar murah dengan melibatkan Pemrintah Provinsi Riau, Disperindag, Bulog," jelasnya.

Gubernur Riau, Syamsuar dalam sebuah acara halal bi halal di Kecamatan Limapuluh, Kota Pekanbaru, Minggu (15/5/2022) mengakui bahwa pengendalian inflasi di Riau dibawah koordinasi BI Provinsi Riau sebagaimana layaknya bernyanyi dandut.

"Itulah seninya, harga tidak boleh tertinggi naiknya, kalau terlalu tinggi maka tekanan kepada inflasi, bisa daya beli berkurang, tetapi sebaliknya, harga tidak boleh pula terlalu rendah, kalau rendah kasihan pula petani, nanti pendapatannya bisa berpengaruh," katanya dengan logat Melayu.

Secara khusus, kata Syamsuar, daerah Riau mengajak atau bekerjasama dengan daerah lain dalam mengendalikan inflasi, karena Riau bukan daerah penghasil, tetapi hanya daerah konsumen bahan kebutuhan pokok.

"Riau telah melakukan kerjasama dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Sumatera Utara, sebagai daerah yang memang menyuplai bahan kebutuhan pokok ke Riau. Ya, jadi memang begitulah agar inflasi bisa dikendalikan, ya, bersama-samalah, karena kalau di Sumbar dan Sumut itu tidak terdistribusi hasil produk pertaniannya dengan baik, maka petaninya jugakan rugi, makanya ketiga daerah ini sudah memainkan perannya masing - masing," ungkap Maria Cahyaningtyas selaku Deputi Kepala Perwakilan BI Riau, akhir bulan ramadhan lalu, membenarkan ungkapan Syamsuar.

Secara rinci dijelaskan M Cahyaningtyas, dalam rangka pengendalian inflasi menjelang HBKN Idul Fitri, TPID Provinsi Riau telah melaksanakan beberapa kegiatan strategis untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilisisasi harga di wilayah Provinsi Riau

"Kami selalu melakuan monitoring ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga melalui kunjungan pasar dan gudang distributor, rapat koordinasi bersama produsen dan distributor minyak goreng se-Provinsi Riau, menyelenggarakan kegiatan Operasi Pasar Murah turut dihadiri oleh Gubernur Riau, Bank Indonesia, Disperindagkop dan UKM, Satgas Pangan, Bulog Provinsi Riau, Biro Perekonomian, serta instansi terkait lainnya," ucapnya.

Selain itu juga dilaksanakan High Level Meeting TPID Provinsi Riau dengan agenda Koordinasi Satgas Pangan Provinsi Riau dan melakukan komunikasi publik terkait jaminan ketersediaan pasokan dan belanja bijak melalui dialog interaktif," tambahnya.

Agar strategi yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik, sehingga Riau, Sumut dan Sumbar, dapat "berjoget" bersama dalam hal pengendalian infalsi, maka tidak lupa pula berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk memastikan kelancaran jalur distribusi pasokan bahan pangan.

"Juga melakukan komunikasi intens antar anggota TPID dan dengan masyarakat untuk mengelola ekspektasi terhadap ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga, untuk memastikan seluruh upaya dilakukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, pada bulan ramadhan dan lebaran," katanya.

Inflasi Riau Terkendali

Nyanyian lagu dangdut "Sedang - Sedang Saja" yang dimainkan semua pihak dalam Tim Pengnndalian Inflasi Daerah (TPID) Riau sangat merdu dan indah. Dibuktikan saat Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau merilis Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April 2022, bahwa Riau mengalami inflasi sebesar 0,6 persen dengan sebesar 109,43.

"Inflasi Tahun Kalender (Januari - April) 2022 sebesar 2,48 persen dan inflasi Tahun Ke Tahun (April 2021 - April 2022) sebesar 3,68 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Misfaruddin, Senin (9/5/2022).

Bahkan dari 3 kota IHK di Provinsi Riau, walaupun semuanya mengalami inflasi tetapi tetap terkendali yaitu, Kota Pekanbaru inflasi sebesar 0,57 persen, Kota Dumai sebesar 0,74 persen dan Kota Tembilahan mengalami inflasi sebesar 0,55 persen.

"Inflasi juga terkendali di Kota Medan yang sebesar o,43 persen dan Kota Padang dengan inflasi sama dengan Pekanbaru sebesar 0,6 persen," jelas Misfaruddin. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar