Peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional, LAMR Riau Upah-Upah Bongku

KBRN, Pekanbaru : Dalam rangka memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional (International Day of the World’s Indigenous Peoples), Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) melaksanakan upah-upah sekaligus tepuk tepung tawar kepada Bongku bin Jelodan, di Balairung Tenas Effendy, Gedung Balai Adat Melayu Riau, Minggu (9/8/2020) malam.

Prosesi adat itu juga difasilitasi secara virtual, sehingga dapat diikuti berbagai kalangan di alam maya. Prosesi dimulai dengan kedatangan Bongku di Balai Adat yang disambut dengan tabuhan seni beladiri silat dan tabuhan musik tradisional kompang. Dia hadir bersama beberapa Batin Sakai dari Duri Kabupaten Bengkalis.

Menurut Ketua Dewan Pengurus Harian LAM Riau, Datuk Seri Syahril Abubakar, kasus yang menimpa Bongku belum lama ini merupakan kejadian yang cukup menyayat hati masyarakat melayu di Riau.

"Mau berkebun di tanah sendiri pun dipenjarakan, kita pula yang dimasukan dalam penjara. Apa kita mau terima ini. Setelah kasus Bongku ini jangan ada Bongku-bongku yang lain, ini marwah kita. Marwah Melayu," tegas Datuk Syahril.

Menurutnya, momentum upah-upah dan tepuk tepung tawar yang dipersembahkan kepada Bongku ini adalah pemaknaan untuk mengembalikan semangat dan kebangkitan marwah melayu.

"Ini bukan hanya untuk Tuan Bongku, tapi untuk kita semua orang melayu. Supaya kita bangkit dan tidak terperdaya di kampung sendiri," ungkapnya.

Majelis Upah Upah dan Tepuk Tepung Tawar ini bertujuan mengembalikan semangat Bongku secara pribadi dan keluarga atas kasus yang telah dialaminya karena sempat dipenjara selama tujuh bulan.

Ia menyebutkan, majelis Upah Upah dan Tepuk Tepung Tawar Bongku juga menjadi simbol perjuangan bagi masyarakat hukum adat di Riau dalam mempertahankan hak-hak adat (tanah ulayatnya). 

Sementara itu, Ketua MKA LAMR, Datuk Seri Al Azhar mengatakan kegiatan ini juga bertepatan momen Hari Masyarakat Adat Sedunia yang bersamaan dengan Hari Jadi Provinsi Riau ke-63. Pihaknya berharap cukup kasus Bongku menjadi pelajaran dalam rangka mempertahankan hak adat selama ini. Kasus Bongku adalah pertanda keadilan atas hak masyakat adat menjadi ancaman serius daerah ini.

“Upacara Upah Upah adalah bukti kita tak memiliki perisai untuk menjaga hak-hak adat. Tak ada perlindungan hukum bagi masyarakat dan hak adat kita,” ujarnya.

Dia mempertanyakan makna Hari Jadi ke-63 Riau Bermartabat sebagai slogan yang tak berarti. Selama ini masyarakat Riau sudah terjajah oleh kepentingan pihak tertentu yang menimba kekayaan dari daerah ini.

“Dimana letak martabat kita, karena sesungguhnya martabat itu sudah tak lagi ada. Marwah apa yang kita dapatkan, kalau didepan kita orang yang tak bersalah menurut kita, masuk 7 bulan penjara,” ulang dia.

Padahal apa yang dilakukan Bongku ini bukan untuk memperkaya diri, tetapi hanya menanam ubi manggalo. Itu pun bukan komoditas ekonomi namun hanya untuk dimakan bagi kaumnya saja.

Oleh karena itu, dia berharap kepada pemerintah daerah agar mengatur ulang peranan dalam upaya mengembalikan hak adat yang sudah dikuasai pihak lain.

Sebelumnya, Tokoh Adat Masyarakat Sakai, Datuk Dr Muhammad Agar Kalipke dalam penjelasan makna upacara Upah Upah mengungkapkan, kegiatan ini adalah doa selamatan atau pemberia. Hadiah (upah) untuk kebebasan Bongku dari kasus hukum yang dihadapinya.

“Dalam kebiasaan upacara adat, Upah-Upah adalah doa atau terima kasih biasanya berhubungan kesembuhan dari suatu penyakit. Sebagai ucapan terima kasih diberikan hadiah kepada dukun, atau makhluk bangsa jin yang menganggu, telah membebaskan penyakit,” kata Agar Kalipke.

Ciri khas dari upacara adat Upah-Upah adalah penyajian Nasik Kunyik Paga Tolou, Panggak Ayap Betangkop (Nasi Kunyit, Telur Rebus yang dibentuk untuk pagar dan Ayam Panggang yang ditelungkupkan). Serta dimasukkan ke dalam dulang berhias kulit kayu cenaih, dan diatasnya ditutup daun keai (sebangsa palem).

Kemudian disisinya terdapat boeh patah tampout (beras putih patah di sambung). Lalu boeh panjang somik buieig (beras putih utuh yang dibuat lingkaran. Bungo samak (bunga dari pohon samak). Bueh puteih siku keluang (beras putih yang dibentuk mirip siku/sendi). Dan terakhir tolou ebuih (telur rebus).

Bongku mengatakan upah-upah sekaligus tepuk tepung tawar yang dilakukan terhadap diri dan keluarganya, untuk mengembalikan semangat yang sempat hilang akibat konflik dengan perusahaan perkebunan hutan tanaman industri.

"Ya, saya berterimakasih atas acara adat ini, karena ini untuk mengembalikan kepercayaan atau semangat hidup saya dan keluarga serta masyarakat Suku Sakai," katanya. (TS)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00