BBPOM Pekanbaru Gerebek Produsen Kosmetik Berbahaya

Kepala BBPOM Pekanbaru Yosef Setiawan (tengah) pimpin press release operasi penindakan

KBRN, Pekanbaru: Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Pekanbaru melakukan operasi penindakan gudang yang memproduksi kosmetik berbahaya. Ada empat titik lokasi di wilayah Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.

Kepala BBPOM Pekanbaru, Yosef Setiawan, mengatakan dalam operasi ini petugas mengamankan satu orang tersangka berinisial TF (45) yang merupakan pemilik usaha dan sekaligus pemilik kosmetik ilegal.

“Total temuan sejumlah 212 item (bahan baku, produk jadi dan bahan pengemas), sebanyak 151.928 pieces,” ungkapnya dalam keterangan pers, Selasa (16/8/2022).

Dikatakan Yosef, tersangka sudah menjalankan bisnis ilegal ini sejak tahun 2018 yang diedarkan atau dijual melalui online ke seluruh Indonesia. 

Kosmetik hasil produknya diberi nama CLB Glow Skin Care Face Toner, CLB Glow Skincare All in One Cream, Collagen Plus Vit E Day n Night Cream, Collagen Plus Vit E Night Cream, Temulawak Cream 701, Paket Krim HN dan Paket Krim Tabitha yang dijual bebas di media sosial.

“Tersangka mengaku meraup keuntungan Rp120-200 juta per bulan. Dalam satu hari mampu produksi hingga ribuan kemasan,” jelasnya.

Tersanga TF, lanjut Yosef, tidak memiliki pengetahuan kosmetik secata akademik. Pengetahuannya meracik kosmetik ia dapat dari youtube.

“Dia beli bahan dari online, lalu belajar dari youtube namun ini melanggar hukum,” ungkap Yosef.

Bahan baku yang ditemukan antara lain serbuk hydroquinone, Ammonia, Alkohol, PEG, Amphitol, Ascorbic Acid, sediaan krim racikan kemasan 25 liter serta temuan bahan kemas

“Penggunaan kosmetika yang mengandung Merkuri dan Hidrokinon dapat menimbulkan iritasi kulit, kulit menjadi merah dan rasa terbakar, serta ochronosis (kulit berwarna kehitaman), karsinogenik (pencentus kanker) dan teratogenik (cacat pada janin),” ungkap Yosef.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 197 Jo Pasal 106 ayat (1) UU RI No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp1,5 miliar.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar