Tahun Politik, Lembaga Penyiaran Diminta Jaga Netralitas dan Beri Kesejukan

KBRN, Palembang : Pelaksanaan Pemilu 2024 sudah semakin dekat dan RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) dianggap memiliki peran penting dalam pesta demokrasi akbar lima tahunan tersebut. Sejumlah pihak pun ikut memberikan sumbangan pemikirannya kepada RRI untuk berperan aktif dalam penyiaran Pemilu.

Beragam dinamika dan tantangan RRI menghadapi Pemilu itu dikupas dalam Dialog ‘Netralitas dan Independensi RRI dalam Pesta Demokrasi Pemilu 2024’ di Ruang Multi Puprose RRI Palembang, Senin (4/7/2022). Ketua Pemerhati RRI Pusat, Paulus Widiyanto, mengungkapkan, sesuai dengan posisinya sebagai LPP, maka netralitas adalah hal yang tidak bisa ditawar bagi RRI.

“RRI memiliki aturan internal, code of conduct (kode etik) yang harus diikuti oleh anggotanya dan bila ada anggotanya yang melanggar harus ditindak. Ini penting untuk menjaga trust publik,” ujar Paulus.

Paulus mengatakan, sosialisasi terhadap kode etik angkasawan perlu kembali digencarkan jelang pelaksanaan Pemilu. Bahkan, bila diperlukan dituangkan dalam pakta integritas yang mengikat masing-masing angkasawan RRI.

“Minimal sebagai ASN dia (angkasawan, red) harus patuh. Untuk NKRI,” cetus Paulus.

Sementara itu, Komisioner KPID Sumatera Selatan, Lukman Bandar Syailendra, mengaku siap melakukan pengawasan bahkan penindakan kepada lembaga penyiaran dalam memastikan netralitas pada siaran Pemilu. Hal itu dianggap tidak mudah, karena potensi pelanggaran yang cukup besar pada kondisi industri media saat ini yang juga digeluti oleh para elit partai.

“Memang elit partai yang memiliki media banyak sekali. Tadinya pemberitaannya netral, tapi jelang Pemilu justru lebih mempromosikan partai. Kami akan pantau dan akan beri tindakan, untuk radio belum ada tapi televisi sudah ada yang pernah kami tindak,” tegas Lukman.

Tidak hanya dituntut netral, RRI juga diharapkan berkontribusi dalam menjaga Pemilu agar aman, damai dan demokratis. Dosen FISIP UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Yenrizal, sebagai salah satu pembicara di sesi dialog menegaskan, RRI memiliki peran yang jauh lebih besar lagi pada pesta demokrasi.

“Saat ini sebaran hoax dan berita yang provokatif sangat mudah sekali dijumpai di media mainstream maupun medfa sosial. RRI sebagai lembaga penyiaran publik yang kredibel seharusnya bisa menjadi penyokong stabilitas Pemilu,” ujar Yenrizal.

Yenrizal mengatakan, suhu politik saat ini sudah mulai meningkat dengan berbagai tudingan dan fitnah yang muncul sehingga membingungkan publik.

“LPP termasuk RRI diharapkan memberi kesejukan lewat berita dan siarannya. Itu yang dibutuhkan publik saat ini,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar