Kesultanan Palembang Darussalam Dukung Sertifikasi Makam Bersejarah di Palembang

KBRN, Palembang : Ziarah dan Diskusi Makam Para Raja dan Sultan Palembang Chapter IV di Komplek Pemakaman Susuhan Sultan Abdurrahman Khalifat Al Mukminin Sayidil Iman berlangsung di belakang Pasar Cinde Palembang, Jumat (28/1/2022). 

Kegiatan tersebut digelar Kesultanan Palembang Darussalam berkerjasama dengan Pimpinan Wilayah (PW) Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma Sumatera Selatan dan Forum Kuncen Makam Cagar Budaya  (FKMCB) Sumatera Selatan.

Kegiatan yang diawali dengan pembacaan surah Yasin bersama dan dilanjutkan dengan paparan dan diskusi tersebut dihadiri Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn, ulama Palembang Kiai Mal'an Abdullah, sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji, budayawan Sumsel Vebri Al Lintani,  Ustad Mustofa, perwakilan Dinas Kebudayaan Palembang, Perwakilan Dinas Pariwisata Palembang, perwakilan Bang Japar, perwakilan Agsi Sumsel, budayawan Palembang Yai Bek, peminat sejarah Palembang Rd Moh Ikhsan.

Menurut Sultan Palembang,  Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn di kegiatan ini kita bisa berdiskusi dan mengetahui bagaimana kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam dan kenapa timbul Kesultanan Palembang Darussalam.

“Insya Allah untuk pembuatan sertifikat makam kita siap sama-sama suport saling bantu  karena tujuannya agar jangan sampai ada makam yang beralih fungsi menjadi tempat-tempat bernilai ekonomis tanpa mengindahkan nilai-nilai kesakralan atau nilai-nilai pendahulunya,” katanya, Jumat (28/1/2022).

SMB IV mengajak masyarakat Palembang untuk tetap menjaga warisan lelulur seperti makam ini.

“Kepada masyarakat Palembang pikirkanlah nilai religius dimasa lalu dan jangan berpikir nilai ekonomis  dan jangan makam atau  ungkonan keluarga di lepas atau dijual dengan orang lain karena ada nilai ekonomi yang mengakibatkan nilai spritual keluarga kita hilang,” ujarnya.

Kepada masyarakat Palembang, SMB IV menghimbau kalau ada makam atau ungkonan  jangan dijual atau dialihmanfaatkan dan tetap sebagai makam karena itu status sebagai orang Palembang yang selalu menjaga nilai-nilai leluhur kita,” katanya.

Sementara itu menurut sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji di naskah-naskah Palembang tidak diketemukan kata-kata susuhunan  tapi suhunan  tapi lidah orang Palembang menyebutnya sunan.

“Beliau setara dengan para wali  kalau sudah sunan itu  karena memang zuriatnya memang keturunan dari para wali  atau garis nasab ke Sunan Giri, jadi harus kita runut dari silsilah ,” katanya.

Menurutnya Susuhan Sultan Abdurrahman Khalifat Al Mukminin Sayidil Iman memiliki nama kecil  Kemas Endi atau Hindi, kedua nama ini hingga ini terus menjadi perdebatan.

“Menjelang dewasa beliau mendapat gelar Pangeran , Pangeran Ario Kusumo  Abdurohim Bin Pangeran Sido Ing Pasarean sementara nama kakaknya Abdurrahman,”katanya.

Selanjutnya menurutnya Susuhan Sultan Abdurrahman Khalifat Al Mukminin Sayidil Iman merupakan pendiri dari Kesultanan Palembang Darussalam.

“ Kita sangat miris banyak bagian-bagian dari  tanah atau komplek pemakaman ini yang hilang , tidak terawat dan sebagainya , bahkan disinyalir tidak di urus  dalam tanda kutip tidak masuk dalam anggaran Pemerintah Kota , jadi  kedepan semua stekholder dan semua orang yang memiliki kepentingan terhadap  Komplek makam Sultan Abdurrahman ini terutama Pemkot Palembang  dan Kesultanan Palembang Darussalam perlu duduk satu meja, bersinergi bahasanya ,”katanya.

Karena menurutnya Sultan Abdurrahman adalah tokoh penting  bagi kota Palembang.

“Harapannya Pemerintah mau mendengar masukan-masukan kita  sebagai komunitas , sebagai aktivis sejarah budaya dan organisasi profesi , kita berbicara ini tidak ada unsur  sentimen , benci  tapi ingin membangun  dalam kapasitas sebagai peneliti, pemerhati  untuk masukan kepada Pemerintah Kota Palembang dan Pemerintah Provinsi Sumsl,” katanya.

Budayawan Sumsel Vebri Al Lintani  melihat Komplek Pemakaman Susuhan Sultan Abdurrahman Khalifat Al Mukminin Sayidil Iman adalah bangunan paling megah dan bagus dibandingkan makam-makam yang lain termasuk paling banyak di perhatikan zuriat Palembang.

Dia mendukung sertifikasi makam bersejarah di Palembang karena rata-rata makam bersejarah di Palembang tidak ada sertifikat kecuali makam Ario Damar yang sudah bersertifikat  tetapi harus ditelusuri dimana sertifikat tersebut.

“Pemkot harus mendukung kegiatan ini karena makam raja-raja ini adalah cikal bakal  pendiri kota Palembang,” katanya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar