BPBD Di Sejumlah Daerah Kalteng Siaga Hadapi Kebencanaan Saat Cuaca Ekstrem

KBRN, Palangka Raya : Meskipun saat ini fokus utama BPBD di sejumlah daerah masih menangani bencana non alam covid 19, namun tetap siaga menghadapi bencana alam lainnya, apalagi dampak dari la nina membuat curah hujan meningkat, resiko daerah rawan bencana perlu diwaspadai jatuhnya korban jiwa.

Kepala BPBD Kota Palangka Raya Emy Abryani mengungkapkan untuk kota palagka raya bencana alam yang patut diwaspadai adalah banjir, dan angin putting beliung, makanya petugas bpbd intensif memantau ketinggian air di dua sungai besar antara lain sungai rungan dan kahayan, manakala meluap dampaknya perumahan di bantaran sungai dapat terendam.

“BPBD telah  siap siaga menghadapi berbagai kemungkinan buruk berkaitan dengan cuaca ekstrem, hal ini berkaca dari daerah perkotaan di Kalimantan Selatan yang semula dianggap tidak pernah banjir justru kebanjiran, perlu dijadikan perhatian bagi pemerintah kota palangka raya untuk selalu waspada apabila terjadi hujan dengan intensitas lebat,” kata Emy kepada RRI Senin (25/1/21)

Sementara itu, berkaitan dengan perubahan cuaca secara mendadak Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Panahatan Sinaga mengaku sudah siap siaga menghadapi dua kemungkinan, baik musim hujan dan kemarau. Karena berdasarkan perkiraan Bmkg, dari januari hingga maret masih terjadi hujan disertai la nina, baru di bulan april akan terjadi musim kemarau disertai el nino yang berpotensi mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan.

“Kami tak henti menghimbau masyarakat, agar memantau segala kemugkinan buruk terjadi berkaitan dengan kebencanaan, salah satunya menghimbau masyarakat tidak membakar semak belukar di saat terjadi cuaca panas, yang dampaknya dapat menimbulkan kebakaran hutan dan lahan secara meluas,” ujarnya

Di tempat terpisah Kepala Seksi Data Dan Informasi BMKG Palangka Raya Anton Budiono mengatakan, curah hujan masih akan terjadi hingga bulan Maret 2021, hal ini dipengaruhi Adanya fenomena monsum Asia musim dingin, sebagai tanda periode musim hujan di Indonesia, ditambah kondisi dinamika atmosfer lainnya. Sedangkan Potensi hujan ekstrem diprediksi untuk tiga hari ke depan (24-27 Januari 2021) dapat terjadi di Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Hujan ekstrem tersebut sangat berpotensi menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor yang dapat membahayakan bagi publik, serta hujan lebat disertai kilat/petir dan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran dan penerbangan.

“BMKG terus mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana, dan semua pihak yang terkait dengan sektor transportasi, agar selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca signifikan atau potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di puncak musim hujan ini, demi mewujudkan keselamatan dalam layanan penerbangan,” bebernya

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00