Belajar dari Bencana Kalsel, Kalteng Perlu Revitalisasi Hutan

KBRN, Palangka Raya : Bencana banjir di Kalimantan Selatan dan di wilayah lainnya di Pulau Kalimantan, memaksa daerah lain untuk belajar dan memeriksa kembali ketahanan lingkungan hidup di daerahnya masing masing. Termasuk bagi Provinsi Kalimantan Tengah yang memiliki luasan hutan yang lebih luas dan banyaknya investasi dan proyek pertambangan dan kehutanan yang riskan terhadap kerusakan lingkungan hidup.

Salah satu anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Purman Jaya Selasa (19/01/2020) meminta pemerintah daerah Kalteng belajar dari pengalaman bencana ekologi di Kalsel.Terutama dalam pembukaan lahan tambang dan perusahaan kayu.Walau ini menjadi kebutuhan, namun tidak semua harus diberikan ijin.Ada beberapa wilayah yang memang harus dibuka, direklamasi atau dihijaukan kembali.Tujuannya agar iklim dan kondisi alam cukup seimabng untuk resapan air dan ketahanan lingkungan itu sendiri.

“Jika pemerintah daerah disiplin dan ketat melakukan kontrol dan pengendalian terhadap ekspoloitasi alam maka tentu akan muncul keseimbangan terhadap kelangsungan lingkungan hidup dengan pencapaian Pendapatan Asli Daerah atau PAD,” jelasnya.

Sementara itu seorang akademisi dan pengamat lingkungan hidup Universitas Muhamadiyah Palangka Raya, Ashary mengatakan, daya lenting atau ketahanan lingkungan untuk menerima ketidak seimbangan di pulau Kalimantan Tengah kini semakin lemah. Jika nantinya alam sudah kehilangan daya lenting ini maka akan muncul sejumlah bencana ekologi seperti longsor , banjir  dan sebagainya . Ditambah lagi perubahan lingkungan yang tidak stabil tentu akan menjadi ancaman besar bagi kelangsungan alam .

“ Sehingga perlu upaya penghijauan, reboisasi dan revitalisasi kembali bagi kelangsungan lingkungan hidup,” jelasnya.

Memang benar apa yang diajarkan oleh agama dan konsep spiritual dimanapun juga bahwa alam dan lingkungan hidup akan menjadi sahabat jik amanusi pun juga memperlakukannya secara bersahabat. Namun akan menjadi ancaman dan musuh jika manusia dengan semena mena memperlakukan alam. (NATA).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00