Cegah Bencana di Kalteng, WALHI Minta Evaluasi Ulang Ijin Investasi

KBRN, Palangka Raya : Bencana banjir di Kalimantan Selatan atau bencana alam lainnya dikawatirkan ikut terjadi di Kalimantan Tengah. Hal ini cukup beralasan karena Provinsi Tambun Bungai memiliki tiga kali luasan yang 80 persennya telah dikuasai investasi.

Kepada RRI, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi Kaltengm Dimas Hartono, Senin (18/01/2021) mengungkap, Kalteng memiliki luasan mencapai 15,3 juta hektar yang 80 persen lebih diantaranya dikuasai oleh investasi dari perusahaan besar. Walhi memperingatkan pemerintah bahwa harus ada evaluasi dan telaah ulang bagi ijin ijin perusahaan dalam hal pertambangan, penebangan atau eksploitasi sumber daya alam yang jumlahnya sanagt besar di Kalteng. Jika nantinya tidak sesuai dengan konsep Lingkungan Hidup maka, perlu kembali dihijaukan dan dihutankan kembali. Dengan luasan yang lebih luas dari Kalsel yang secara administratif mencapai 3 juta hektar, maka Kalteng juga berpotensi mengalami bencana ekologis yang lebih parah dari Kalimantan Selatan di masa mendatang.

“Kontrol dan kendali atas kebijakan dan pengeluaran ijin ini, kini berada sepenuhnya di pemerintah untuk ikut menelaah akan dampak dan akibat dari investasi pertambangan dan kehutanan,” jelasnya.

Sementara itu seorang pengamat sosial Universitas Palangka Raya, Suprayitno mengungkap, kalangan perusahaan kini sudah saatnya ditekan dengan kewajiban mereka untuk melakukan reboisasi dan revitalisasi hutan dan SDA lainnya untuk dipulihkan kembali. Selain juga menegakkan kembali prosedur Analisis Dampak Lingkungan bagi perusahaan yang akan melakukan operasional.

“Jangan sampai AMDAL ini digodok setelah pembangunan dan operasional perusahaan sudah dilakukan,” terangnya.

Melihat ancaman dan potensi Kalimantan Tengah yang akan mengalami kerusakan lingkungan dan bencana ekologi yang serius ini memang sudah saatnya segenap pemangku kepentingan bertindak lebih awal. Jangan sampai penggundulan hutan, pengerukan Sumber Daya Alam mengalami titik kritis yang akhirnya harus mendapatkan peringatan keras dari alam berupa bencana dan petaka. (NATA).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00