Kerusakan Parah Pemicu Bencana Banjir, Walhi Mendesak Pemerintah Kaji Ulang Perijinan

KBRN, Palangka Raya : Pemerintah diminta mendukung upaya yang dilakukan masyarakat lokal, untuk melindungi hutan dan wilayahnya dari tangan penjarah melalui kearifan lokal. Mengingat bencana alam yang terjadi di sejumlah Kabupaten kalimantan tengah, seperti : Lamandau, Kotim, Kobar, Barito Utara dan Gunung Mas, diakibatkan rusaknya fungsi hutan, akibat fungsi hutan rusak seperti

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Wakhi) Kalimantan Tengah Dimas Novian Hartono mengklaim, hutan di Kalteng sebanyak 70 persennya sudah rusak, mirisnya kebanyakan sudah beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit, dampaknya sebagian wilayah kalteng terancam banjir seiring munculnya la nina atau cuaca ekstrem. Berkaca pada bencana alam tahun lalu, sebagian besar kawasan hutan tidak mampu menyerap air secara maksimal, hal ini diperparah adanya pembalakan liar sehingga menyebabkan hutan menjadi gundul.

“Sejarah membuktikan dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam, bahwa apabila disuatu wilayah hutannya gundul, maka akan terjadi bencana alam yang tak terduga, dan saat ini terbukti benar, hampir separo hutan di Kalteng telah dibabat untuk kepentingan bisnis,” kecam Dimas Kepada RRI Kamis (29/10/20)

Maka dari itu Walhi mendesak pihak pihak terkait, terutama Dinas Perijinan, dapat selektif dalam memberikan ijin, upayakan pengusaha yang akan berinvestas peduli terhadap kelestarian hutan, minimal ada program mereboisasi atau mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya dari kerusakan parah.

Sementara itu, berdasarkan perkiraan Kasi Data Dan Informasi BMKG Palangka Raya Anton Budiono mengatakan, cuaca ekstrem hujan lebat disertai petir masih akan terjadi dalam 3 hari ke depan.

“Daerah rawan bencana seperti katingan, lamandau, dan gunung mas diminta meningkatkan kewaspadaan, karena musim hujan total akan berlangsung sampai bulan desember. Khusus daerah kota palangka raya kawasan bantaran sungai jalan mendawai dan murjani diharapkan waspada terjadinya luapan sungai,” kata Anton

Ia menambahkan hingga saat ini, wilayah Kalteng aman dari potensi gelombang tsunami yang paling ditakuti masyarakat pesisir laut. Kendati demikian untuk bencana banjir, tanah longsor, kilat, dan puting beliaung patut diwaspadai masyarakat, umumnya terjadi saat sore hingga dini hari.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00